Masjid Al Makmur Raden Saleh, Cikini

Disebut Masjid Al Makmur Raden Saleh Cikini lantaran selain lokasinya memang berada di Jl Raden Saleh, tepanya Nomor 30, di daerah Cikini, Jakarta Pusat, memang ada pula sedikit keterkaitan riwayat masjid ini dengan sosok Raden Saleh. Pelukis legendaris yang wafat pada April 23 1880 itu pernah tinggal di Cikini.

Masjid Al Makmur menempati tanah di pojok kompleks yang sebelumnya tanah milik sang pelukis. Bangunan aslinya, sebelum dipindahkan, merupakan masjid sederhana terbuat dari kayu dan dinding bambu yang telah berdiri sejak tahun 1850-an di kebun luas milik sang pelukis. Untuk berkunjung ke Masjid Al Makmur Raden Saleh ini saya melewati Jl Kramat Raya, dari arah Salemba, dan kemudian berbelok ke kiri di lampu merah pertigaan Jl Raden Saleh – Jl Kramat Raya. Setelah sekitar 450 meter dari pertigaan, sudah terlihat oleh mata bentuk bangunan Masjid Al Makmur Raden Saleh di sebelah kanan jalan.

Meskipun saya pernah berkantor di daerah Cikini selama lebih dari 3 tiga tahun, pada dua periode yang berbeda, sehingga boleh dibilang sering melewati jalan ini, namun belum pernah sebelumnya saya memperhatikan keberadaan masjid ini, apalagi masuk kedalamnya. Jangan lagi ditanya tentang sejarahnya. Gelap.

masjid raden saleh cikini
Foto di atas adalah Masjid Al Makmur Raden Saleh yang lokasinya saat ini berada tepat di tepi Kali Ciliwung. Ketika dipindahkan pada awal abad ke-20, kondisi air Kali Ciliwung masih bersih sehingga memudahkan jamaah dalam membersihkan diri sebelum shalat.

Pemindahan bangunan aslinya ke lokasi yang sekarang konon dilakukan dengan cara memanggulnya secara beramai-ramai. Namun tampaknya tidak ada sisa bangunan asli Masjid Al Makmur Raden Saleh yang masih disimpan. Batang-batang bambu serta tancapan beton di Kali Ciliwung itu menandai pekerjaan revitalisasi sungai yang dilakukan dimasa pemerintahan Gubernur Jokowi, meskipun tanggung jawabnya ada di pusat.

masjid raden saleh cikini
Lambang bintang bulan sabit serta dua baris tulisan dalam huruf dan bahasa Arab di sisi depan Masjid Al Makmur Raden Saleh. Lambang itu merupakan penghargaan bagi tokoh-tokoh Sarikat Islam dan Masyumi (diantaranya HOS Cokroaminoto, H. Agus Salim, KH. Mas Mansyur dan Abi Koesno Cokro Soeyono) yang mendukung kegiatan perombakan dan penambahan gedung Masjid Al Makmur yang selesai dilakukan pada 1932. Angka tahun itu ditulis dalam huruf Arab di baris kedua foto di atas.

Pintu bagian depan tampaknya tidak pernah dibuka, atau dibuka hanya pada hari tertentu. Pengunjung masuk dari pintu di sisi kiri masjid, dimana terdapat area parkir kendaraan yang luasnya agak terbatas. Bagian puncak menara Masjid Al Makmur Raden Saleh yang berbentuk kubah tampak berada di bagian belakang bangunan masjid yang atapnya berbentuk tumpang limas terpancung. Lengkung di ujung atap nyaris menyerupai atap pada bangunan kelenteng.

masjid raden saleh cikini
Masjid Al Makmur dilihat dari area parkir yang menjadi jalan masuk ke dalam kompleks masjid, memperlihatkan serambi, bangunan masjid dan menara silindris dengan dek pengamatan di dekat puncaknya. Spanduk pada serambi menyebutkan bahwa Divisi Pendidikan Yayasan Masjid Al Makmur menerima pendaftaran siswa baru untuk jenjang madrasah diniyah takmiliyah al ma’muriyah, untuk SD, SMP dan SMA, dengan waktu belajar Senin s/d Jumat, jam 14.00 s/d 17.00.

Mata pelajaran yang diberikan adalah Al-Qur’an, Hadits, Inadah Syari’ah / Fiqih, Aqidah Ahlak, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab. Setelah menitipkan alas kaki dan mengambil air wudlu, saya pun masuk ke dalam ruang masjid. Sangat terbukanya sebuah masjid, membuat penitipan alas kaki menjadi perlu untuk ketenangan pikir. Tempat wudlu dan toilet Masjid Al Makmur dalam keadaan baik dan terawat, dengan akses keramik dilapis karet berlubang agar tidak licin.

masjid raden saleh cikini
Suasana Masjid Al Makmur Raden Saleh yang tertangkap kamera sesaat setelah saya selesai melakukan shalat. Ruang ini merupakan ruang utama, selain serambi tambahan di sayap kiri, dan balkon yang terlihat pada foto. Balkon beton berpagar kayu itu tampaknya dibuat untuk menampung luapan jamaah saat shalat Jumat, dan pada shalat hari raya. Keberadaan balkon ini praktis menutup pemandangan ke langit-langit masjid yang lazimnya menarik untuk dilihat. Bagian depan masjid tidak ada serambi, sedangkan bagian kanan berbatasan dengan Kali Ciliwung. Kain hijau di sebelah kanan memisahkan area bagi jamaah wanita.

Lantaran menikah dengan seorang gadis asal Bogor, Raden Saleh Syarif Bustaman berniat pindah ke kota itu, dan menjual tanahnya yang luas di Cikini kepada keluarga Alatas, berikut rumah besar dan beberapa paviliun, dan mewakafkan sebidang tanahnya untuk masjid. Pada 1897, keluarga Alatas menjual tanah dan bangunan itu ke Vereeniging voor Ziekenverpleging, yang setahun kemudian membangun Koningin Emma Ziekenhuis, sekarang Rumah Sakit PGI Cikini. Tanah wakaf Raden Saleh dimana masjid berada ternyata sempat bermasalah, lantaran pada 1906 pengadilan kolonial memenangkan klaim keturunan Alatas bernama Sayid Salim Ismail Salam bin Alwi Alatas sebagai pemilik sah tanah wakaf itu. Tahun 1923 Salim Ismail menjual tanah itu ke pihak rumah sakit, sehingga pada 1924 pihak rumah sakit meminta agar masjid dipindahkan.

Permintaan rumah sakit ditolak jamaah, yang didukung beberapa tokoh pergerakan Islam di Batavia lantaran mereka tetap beranggapan bahwa tanah itu telah diwakafkan Raden Saleh untuk masjid. Sebelum perombakan dan penambahan bangunan yang selesai dikerjakan pada 1932 itu, pemugaran masjid telah lebih dulu dilakukan pada 1924 sebagai jawaban atas permintaan pemindahan lokasi masjid oleh pihak rumah sakit yang ditentang jamaah dan tokoh-tokoh pergerakan Islam.

Kisah percobaan penyingkiran Masjid Al Makmur ternyata masih berlanjut setelah kemerdekaan, yaitu dengan diterbitkannya sertifikat tanah pada 1964 atas nama Dewan Gereja Indonesia oleh Kementrian Agraria RI yang meliputi tanah yang digunakan masjid. Kementerian Agraria saat itu dirangkap oleh PM J. Leimena, yang juga menjabat sebagai Direktur RS Cikini. Namun di tahun itu, Yayasan Masjid Al Makmur telah pula terbentuk dengan akte notaris Adasiah Harahap, bertanggal 8 Juli 1964. Pendirinya adalah Sukaryo Mustafa, Kamil Cokroaminoto, dan H. Abdul Karim Naiman. Adalah Gubernur KDKI Wiyogo Atmodarminto yang kemudian turun tangan, sehingga akhirnya pada 1991 tanah masjid wakaf dinyatakan sah sebagai milik Yayasan Masjid Al Makmur, dan pada 1993 Masjid Al Makmur ditetapkan sebagai Bangunan Bersejarah yang dilindungi oleh Undang-undang.

Tidak sebagaimana lazimnya masjid yang lain, tembok utama pada bagian mihrab Masjid Al Makmur dibuat lubang-lubang lengkung besar yang memisahkan tempat imam dan mimbar dengan ruang utama masjid. Sayang sekali saya tidak sempat masuk ke dalam ruang yang berada di depan itu. Tidak pula sempat naik ke atas menara dan berdiri di dek pengamatan, jika itu dimungkinkan. Tampaknya suatu saat perlu ke sana lagi …

Masjid Al Makmur Raden Saleh Cikini

Alamat : Jl Raden Saleh No. 30, Cikini, Jakarta Pusat, Telp 021-3192 3640. Lokasi GPS : -6.1914, 106.84286, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Pusat. Galeri (12 foto) Masjid Al Makmur Raden Saleh, Cikini : 1.Ciliwung, 2.Sabit, 3.Parkir, 4.Shalat, 5.Balkon, 6.Tangga, 7.Jamaah, 8.Prasasti, 9.Pilar … s/d 12.Mimbar.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jakarta » Jakarta Pusat » Masjid Al Makmur Raden Saleh, Cikini

By Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email for newly published posts. Updated on 16 Juli 2017. Tag: , , ,