Masjid Agung Demak

Home » Jawa Tengah » Demak » Masjid Agung Demak
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Masjid Agung Demak menjadi tempat pertama yang kami kunjungi sesampainya di wilayah kabupaten yang disebut sebagai Kota Wali ini. Nama Demak memang tak bisa dipisahkan dari Walisongo yang menopang berdirinya Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama dan terbesar di Pulau Jawa, setelah surutnya Kerajaan Majapahit.

Adalah Walisongo dan Raden Patah yang mendirikan Masjid Agung Demak, karenanya pada sokoguru masjid tertera nama para wali. Lokasi masjid berada di sisi barat Alun-alun Demak, dengan parkir kendaraan di sisi utara, dimana terdapat warung dan kios yang menjual cindera mata.

Dari tempat parkir kami berjalan menyusur jalur pedestrian sejauh sekitar 100 meter sebelum tiba di gerbang depan Masjid Agung Demak. Saat itu sedang ada keramaian di Alun-alun Demak, dengan panggung pertunjukan budaya oleh pelajar di seberang gerbang masjid, sehingga terlihat lalu lalang remaja dengan mengenakan seragam sekolah menengah atas.

Halaman depan Masjid Agung Demak lebarnya 20 meter dengan panjang 120 meter. Di sisi utara terdapat Museum Masjid Agung Demak, di sisi selatan Madrasah Tsanawiyah NU Demak, dan di samping belakang masjid terdapat makam raja-raja Demak. Di teras masjid yang berukuran 30 x 15 meter terlihat banyak orang duduk-duduk atau berbaring di lantainya.

masjid agung demak
Masjid Agung Demak dengan atap limasan tumpang susun tiga yang khas, diartikan bahwa para Wali menjalankan agama bersumber pada Iman, Islam, dan Ihsan. Pada puncak masjid terdapat mustaka dengan tulisan Allah dalam aksara Arab. Bangunan masjid berbentuk segi empat dengan empat soko guru yang ditafsirkan bahwa para Wali adalah penganut Madzhab 4.

Masjid Agung Demak dibangun dalam tiga tahap. Candra Sengkala pertama berbunyi “Nogo Mulat Saliro Wani” atau 1388 Saka (1466 M), berdirinya masjid, saat Raden Patah berguru ke Sunan Ampel di Glagahwangi. Yang kedua “Kori Trus Gunaning Janmi”, 1399 Saka (1477 M), rehab dan perluasan masjid saat Raden Patah menjadi Adipati di Glagahwangi, Bintoro.

Prasasti pada dinding dalam mihrab bergambar bulus berbunyi “Sariro Sunyi Kiblating Gusti”, dibaca sebagai 1401 Saka (1479 M), yaitu tahun ketika Raden Patah naik tahta menjadi Sultan Demak. Pada saat itulah masjid direhab dan menjadi Masjid Kasultanan Bintoro Demak. Raden Patah juga disebut sebagai Raden Fattah, R. Jimbun, R. Kasan atau R. Hasan.

masjid agung demak
Menara Masjid Agung Demak ini dibuat pada 1932 dengan biaya 10.000 Gulden dari kas masjid dan infak. Pembuatannya diprakarsai Penghulu Demak KH Abdurrochman, dengan persetujuan teknis W. Coenrad, izin bangunan oleh Bupati Demak RAA Sosro Hadiwijaya, dan pelaksana NV Lyndetives Semarang, menggunakan konstruksi baja 4×4 m dengan tinggi 22 m.

Regol dan pagar depan masjid serta pawestren (tempat shalat wanita) dibangun pada 1804 oleh KRMT Aryo Purbaningrat. Tratag rambat, bangunan penghubung regol ke serambi masjid dibangun pada 1885 oleg KRMT Panji Purbaningrat. Lalu pada 1924 dibangun sumur dan menara air, serta rehab tempat wudlu di kanan kiri masjid oleh KRT Haryo Sosro Hadiwijoyo.

Pada 1964 bangunan di depan Masjid Agung Demak yang dianggap mengganggu keaslian masjid dibongkar oleh gubernur Jawa Tengah, yaitu regol, tratag rambat, tangki air, gedung sekolah Islam, KUA, dan rumah penduduk di Kauman gang I. Pada 1983 – 1986 Masjid Demak dipugar oleh Pemerintah RI bekerjsasama dengan Organisasi Konferensi Islam.

masjid agung demak
Yang menarik di ruang utama Masjid Agung Demak adalah artefak yang disebut Maksuroh atau Kholwat bertahun 1287 H. Tempat pasujudan ini dibangun KRMA Aryo Purbaningrat, dengan tiang dan dinding dari Kayu Jati berukir krawangan, bebungaan, suluran, dan gambar jambangan. Ada 10 jendela dan 2 pintu berhias kaca kembang warna-warni dan kaligrafi Arab.

Selain itu ada mimbar berangka tahun 1475 M yang adalah Dampar Kencana sebagai hadiah ketika Prabu Kertabumi melantik Raden Patah menjadi adipati di Glagahwangi Bintoro Demak. Pada dinding atas mihrab ada sejumlah ornamen, diantaranya lambang Hasta Brata atau Surya Majapahit yang mengajarkan 8 sifat kepemimpinan raja-raja Majapahit.

Ajaran itu meneladani sifat alam, yaitu Watak Surya (Matahari), Watak Candra (Bulan), Watak Kartika (Bintang), Watak Angkasa (Langit), Watak Maruta (Angin), Watak Samudra (Laut atau Air), Watak Dahana (Api), dan Watak Bumi (Tanah). Itu karena Raden Patah adalah putra Brawijaya V dari seorang selir Tionghoa, puteri Kyai Batong (Tan Go Hwat).

Selain Maksuroh, Prabu Kertabumi atau Raja Brawijaya V juga menganugerahi hadiah kepada Raden Patah berupa sebuah Pendopo Majapahit dengan delapan soko guru dari kayu berukir motif Majapahit yang bertumpu pada umpak batu andesit. Namun karena perluasan masjid maka pendopo itu kemudian dialihgunakan sebagai serambi Masjid Agung Demak.

Masjid Agung Demak selengkapnya: 4.Tampak Muka 5.Dek Pandang 6.Pintu 7.Bedug 8.Pilar 9.Bedug 10.Sokoguru 11.Pntu Utama 12.Burung 13.Kijang 14.Jam Buka 15.Sisi Kanan 16.Tangga 17.Pojok 18.Jamaah 19.Mimbar 20.Sokoguru

Masjid Agung Demak

Alamat: Desa Kauman, Demak. Peta Wisata Demak, Tempat Wisata di Demak, Hotel di Demak

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »