Makam Sunan Muria Kudus

Home » Jawa Tengah » Kudus » Makam Sunan Muria Kudus
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Perjalanan selanjutnya pada hari itu adalah untuk mengunjungi Makam Sunan Muria Kudus, yang lokasinya berada di sebuah puncak perbukitan di lereng bawah Gunung Muria. Sebenarnya ada sedikit keraguan apakah sanggup mendaki anak tangga yang kabarnya sangat banyak. Namun dengan pengalaman pernah menaklukkan 600-an anak tangga Puncak Gajah Mungkur membuat hati sedikit tenang.

Kendaraan mengarah lurus ke utara dari Alun-alun Kota Kudus, sesudah sesaat sebelumnya kami meninggalkan Masjid Menara Kudus dan Makam Sunan Kudus. Setelah menempuh perjalanan sejauh 19 km, atau kurang dari 40 menit perjalanan, kami sampai dan berhenti di halaman Masjid As-Saidiyyah Colo dengan menanjak tajam dari jalan utama.

Ketika turun dari kendaraan kami sudah dikerubungi beberapa pengendara motor yang menguntit saat mobil masuk Colo. Tukang-tukang ojek berseragam itu menawarkan jasa dengan tarif resmi untuk mengantar ke puncak Colo dimana Makam Sunan Muria berada, tanpa harus lelah menaiki ratusan anak tangga. Mengingat waktu, tenaga, dan untuk pengalaman, kami naik ojek.

makam sunan muria kudus
Pemandangan kelok jalan yang saya ambil sesaat setelah sampai di pangkalan ojek-2 di puncak Colo. Jalan yang berkelok sempit, dengan jurang di sisi sebelah, dihajar kencang pengemudi ojek yang membuat jantung berjoged dan tangan harus berpegang kuat. Pemandangan indah di jalan jadinya tak bisa sepenuhnya dinikmati, tak pula bisa berhenti memotret.

Inilah yang disebut pengalaman. Merasakan sendiri sensasinya menumpang jago balap ojeg Makam Sunan Muria. Jalan ojek ini memutari pinggang bukit dan jaraknya lebih jauh dibanding jika menapaki undakan, namun jauh lebih hemat waktu dan tenaga. Sebelumnya, setidaknya tiga atau empat kelok jalan tajam juga kami lalui sekitar 2 km hingga tiba di lokasi Masjid As-Saidiyyah.

makam sunan muria kudus
Tengara “Selamat Datang” di lorong Makam Sunan Muria ini kami jumpai setelah sebelumnya berjalan kaki dari pangkalan ojek-2 melewati jalan menanjak dan kios-kios penjual pakaian, suvenir dan makanan. Kami juga melintas di depan ujung atas lorong undakan pejalan kaki yang kiri kanannya dipenuhi deretan lapak pedagang.

Sebelum kios-kios itu kami melihat tengara ke kanan ke arah Makam Pangeran Gadung, Pangeran Gading, dan Nyai Ratu (yang semuanya tak sempat kami datangi), sedang ke kiri ke arah Masjid dan Makam Sunan Muria. Konon Pangeran Gadung Sosrokusumo adalah paman dari Sunan Muria. Setelah tiba di lorong makam sang sunan, peziarah harus mencopot dan menjinjing alas kaki, karena akan keluar di tempat yang berbeda.

Tulisan pada papan di ujung sana berjudul “Tata Tertib di Makam Raden Umar Sa’id Kangjeng Sunan Muria”, berisi empat aturan dan empat larangan, serta jadwal kunjung untuk bisa masuk ke makam inti dan aturan menginap. Masuk ke cungkup makam inti hanya bisa di hari Kamis Wage dan Kamis Legi dari jam 06.00 s/d 24.00, serta Jumat Kliwon dan Jumat Pahing dari jam 06.00 s/d 16.00, sedangkan kami datang hari Sabtu.

makam sunan muria kudus
Sepotong suasana yang tertangkap pada ruangan dimana para peziarah duduk bersila di atas lantai berlapis deretan balok kayu berplitur menghadap ke arah cungkup Makam Sunan Muria yang ditutup kelambu putih. Mengambil foto di ruangan ini mesti berhati-hati agar tidak mengganggu kekhusyukan dzikir dari para pengunjung.

Seluruh dinding pada bangunan inti ini tertutup, sehingga tak bisa tidak pengunjung akan memusatkan perhatian pada arah kelambu cungkup. Demikian pula lorong masuk dan lorong keluar. Semuanya tertutup. Saya hanya bisa membayangkan indahnya panorama pinggang Gunung Muria, jika saja dinding lorong masuk dan keluar itu dibuat dari kaca tebal tembus pandang.

Sangat sedikit informasi sahih yang tersedia tentang siapa dan apa kiprah Sunan Muria. Umumnya menyebut bahwa beliau adalah Raden Umar Said, putera Sunan Kalijaga. Ada yang menyebut ibunya sebagai Dewi Soejinah puteri Sunan Ngudung, namun pendapat lain menyebut bahwa ibunya adalah Dewi Saroh, puteri Syekh Maulana Ishak atau adik dari Sunan Giri.

makam sunan muria kudus
Sepotong pandangan ke arah mihrab Masjid Sunan Muria yang sayangnya saat itu sedang dilakukan pekerjaan renovasi, sehingga kami tak bisa masuk ke ruang utama dan hanya bisa mengintip dari sela jendela dengan sudut pandang sangat terbatas. Begitupun masih lumayan karena bisa melihat ornamen cantik pada bagian pengimaman masjid.

Sebelumnya pada lorong keluar kami melihat ada dua orang petugas menyediakan air yang diambil dari gentong keramat peninggalan Sunan Muria dan dimasukkan ke dalam cangkir-cangkir kecil dan botol plastik bekas aqua. Peziarah bisa memakainya untuk mencuci tangan, membasuh muka, meminum atau membawanya pulang. Ada lembaran uang yang terserak di sana yang berasal dari derma pengunjung.

Kami sempat menikmati suasana di sekitar halaman masjid, yang sempit sudut pandangnya namun masih bisa melihat panorama perbukitan. Atap masjid berupa kubah separuh bulatan besar warna keemasan diapit menara kembar. Turun dari kompleks makam kami sempat mengambil foto buah Parijoto, yang konon pernah menjadi kegemaran isteri Sunan Muria saat mengandung.

Sunan Muria diperkirakan lahir pada paruh akhir abad ke-15, dan wafat pada 1551, lebih pendek dari usia Sunan Kalijaga yang lahir pada 1455 dan wafat 1586, meski tak ada petunjuk pasti soal kebenaran angka ini. Yang banyak dipercayai adalah bahwa keduanya menggunakan pendekatan budaya dan seni yang hidup di masyarakat untuk menyebarkan agama Islam. Menjadi Islam memang tak mesti menjadi Arab.

Selain gentong keramat, parijoto dan masjid, peninggalan Sunan Muria lainnya adalah tembang Kinanti dan Sinom yang berisi nasihat agar yang tua menyayangi yang muda dan yang muda menghormati yang tua, serta pesan agar pemimpin mendahulukan kepentingan rakyat. Lalu ada Tapa Ngeli yang mengajarkan agar ilmu diperoleh dengan laku sungguh-sungguh dan menjernihkan pikiran, serta agar rendah hati, mengalir dan tidak macam-macam.

Ajaran Sunan Muria lainnya adalah agar pengikutnya saleh sosial, yang berarti bertakwa kepada Allah dan bertanggung jawab terhadap sesama mahluk. Ajaran ini menjadi inti ajaran sang sunan yang dikenal dengan “pagerono omahmu kanthi mangkok” atau pagarilah rumahmu dengan mangkuk (derma). Sikap yang dermawan terhadap sesama adalah bentuk tanggung jawab sosial itu.

Saat meninggalkan lokasi, untuk memuaskan rasa ingin tahu dan sebagai pengalaman, kami turun dari makam dengan berjalan kaki menuruni anak tangga yang kabarnya ada 432 undakan. Tinggi setiap undakan bervariasi, dan kiri kanan undakan penuh kios. Ada banyak penjual pecel dan aneka rupa makanan lain dan dagangan, tanpa menyisakan satu lubang pun untuk menikmati panorama pegunungan. Sayang sekali.

Galeri (23 foto): 1.Kelok . 2.Salam . 3.Cungkup . 4.Mihrab . 5.Ojeg . 6.Pangeran Gadung . 7.Lorong . 8.Lepas Alas . 9.Kayu … s/d 23.Parijoto.

Makam Sunan Muria Kudus

Tulis komentar. Alamat: Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Lokasi GPS: -6.6660888, 110.8989452, Waze. Jam buka sepanjang waktu. Harga tiket masuk cungkup gratis. Di gerbang bawah dikutip Rp.2.000, mobil Rp.10.000. Tempat Wisata di Kudus, Peta Wisata Kudus, Hotel di Kudus.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: , , , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »