Makam Sam Ratulangi Minahasa

Makam dan Monumen Sam Ratulangi berada di daerah perbukitan sejuk di Kelurahan Wawalintouan, Kecamatan Tondano Minahasa, Sulawesi Utara. Kami menyewa sebuah delman yang ditarik seekor kuda dari depan Taman Kota Tondano, dan memerlukan waktu hanya beberapa menit saja untuk sampai di depan gerbang Makam Sam Ratulangi.

Makam Sam Ratulangi
Delman yang kami tumpangi tengah menunggu di depan kompleks Makam Sam Ratulangi yang luas. Undakan berwarna oranye yang cukup tinggi tampak di latar belakang. Dengan meniti tangga ini pengunjung akan sampai ke Monumen Sam Ratulangi di atas bukit.

Makam Sam Ratulangi
Undakan yang terlihat rapi dan terawat baik, diapit tetumbuhan yang hijau segar dan tanaman bunga yang membuat suasana menjadi lebih sejuk dan asri.

Makam Sam Ratulangi
Mural pertama yang terletak di bagian sebelah kiri undakan terbawah yang menggambarkan peran dan perhatian Sam Ratulangi yang besar dalam bidang pendidikan. Pahlawan Nasional DR Gerungan Saul Samuel Jozias Ratulangi lahir di Tondano pada 5 November 1890, dari ayah Jozias Ratulangi dan ibu Augustina Gerungan.

Setelah menyelesaikan sekolahnya di Tondano dan Batavia (Koningeen Wilhelmina School), Sam Ratulangi melanjutkan studinya di Vrije Universiteit van Amsterdam di Belanda dan lulus sebagai guru ilmu pengetahuan pada 1915 dan lalu belajar selama dua tahun lagi di Universitas Amsterdam. Pada tahun 1919 Sam Ratulangi memperoleh gelar doktor di bidang fisika dan matematika dari University of Zurich, Switzerland.

Makam Sam Ratulangi
Mural kedua yang juga menggambarkan peran Sam Ratulangi di bidang pendidikan. Sekembalinya ke Indonesia, ia tinggal di Yogyakarta mengajar ilmu pengetahuan di sekolah menengah, sebelum pindah ke Bandung mendirikan perusahaan Assurantie Maatschappij Indonesia, sebuah perusahaan pertama yang memakai kata “Indonesia” dalam dokumen resminya.

Keterlibatan Sam Ratulangi dalam pergerakan politik semakin nyata ketika diangkat menjadi anggota Volksraad pada 1927 dan terus gigih berjuang bagi persamaan hak, sampai tahun 1937 ketika ia dipenjara karena aktivitas politiknya. Setelah keluar dari penjara, Sam Ratulangi lalu menjadi editor of Nationale Commentaren, sebuah majalah berita dan penerbitan berbahasa Belanda.

Makam Sam Ratulangi
Mural pada bagian kanan undakan yang memperlihatkan gelora rakyat Indonesia dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaannya.

Makam Sam Ratulangi
Jalan di bawah rindang pohon yang berada di sebelah kanan adalah jalan menuju ke Makam Sam Ratulangi dari arah depan. Untuk menuju makam Sam Ratulangi, pengunjung juga bisa melalui undakan turun yang berada di sebelah kanan Monumen.

Makam Sam Ratulangi
Makam Sam Ratulangi yang indah dan terawat rapi, dengan tugu nisan yang bertuliskan “Pahlawan Kemerdekaan Nasional Dr.G.S.S.J. Ratulangie, Lahir: Tondano Tgl. 5 Nov. 1890, Meninggal: Jakarta Tgl. 30 Juni 1949”.

Makam Sam Ratulangi
Karangan bunga di depan Makam Sam Ratulangi, yang salah satu diantaranya berbunyi “Jasamu tetap kami kenang, dari Rukun Ratulangie, Manado”

Dengan pengalamannya sebagai jurnalis dan pelaku pergerakan politik, Sam Ratulangi menerbitkan sebuah buku berjudul “Indonesia in den Pacific” pada Jun1 1937, dimana Sam Ratulangi memperingatkan ancaman militerisme Jepang dan kemungkinan Jepang menyerbu Indonesia karena berlimpahnya sumber daya alam yang tidak dimiliki oleh Jepang. Dalam bukunya itu Sam Ratulangi juga menulis peran penting yang bisa dimainkan oleh Indonesia dan negara lain di Asia Tenggara di kawasan cekungan Pasifik.

Makam Sam Ratulangi
Tugu Makam Sam Ratulangi yang berbentuk waruga, batu kubur orang Minahasa jaman dulu, dengan latar belakang Monumen Sam Ratulangi yang terletak di ketinggian.

Makam Sam Ratulangi
Monumen Sam Ratulangi dilihat dari undakan di bagian belakang Makam Sam Ratulangi.

Sam Ratulangi menjadi Gubernur Sulawesi pertama yang diangkat oleh Presiden Soekarno pada 22 Agustus 1945. Ia ditangkap oleh Belanda dalam agresi militer pada 5 April 1946, dan diasingkan di Serui di Pulau Yapen, sebelum dibebaskan pada 23 Maret 1948 dan dibawa ke Yogyakarta. Pada agresi militer Belanda yang kedua, Sam Ratulangi ditangkap pada 25 Desember 1948 ketika Belanda menyerbu dan menduduki Yogyakarta. Karena kondisi kesehatannya yang menurun, Sam Ratulangi dibebaskan pada Februari 1949 dan dibawa ke Jakarta smpai ia meninggal pada 30 Juni 1949.

Salah satu pandangan hidup Sam Ratulangi yang terkenal sampai saat ini adalah: “Si tou timou tumou tou” yang berarti: “Manusia hidup untuk memanusiakan manusia”. Saat berkunjung ke Makam Sam Ratulangi, pintu pagar tidak terkunci, namun jika suatu saat anda berkunjung ke Makam Sam Ratulangi dan pintu gerbangnya terkunci, jangan buru-buru pergi, karena rumah penjaganya berada di belakang Makam Sam Ratulangi ini. Mudah-mudahan nomor hp atau alamat penjaga makam bisa dipasang di pagar bagian depan, agar memudahkan bagi pengunjung yang ingin berziarah.

Makam Sam Ratulangi

Alamat: Kelurahan Wawalintouan, Kecamatan Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Tempat Wisata di Minahasa, Peta Wisata Minahasa, Hotel di Manado

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Sulawesi Utara » Minahasa » Makam Sam Ratulangi Minahasa
Tag : ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 19 Maret 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap