Makam Ratu Kalinyamat Mantingan Jepara

Melanjutkan langkah hari itu kami pun menyambangi Makam Ratu Kalinyamat Mantingan Jepara, di dalam cungkup besar bersama makam suaminya, yaitu Pangeran Hadlirin, serta sejumlah kerabat. Kompleks makam di belakang Masjid Astana Sultan Hadlirin itu cukup luas, dan di luar tembok ada kompleks pemakaman umum.

Jalan dari halaman masjid ke gerbang makam agak melengkung, dan di kiri terlihat akses masuk dari selatan dengan melewati gapura bertulis syahadat yang dipindahkan dari jalan raya. Area di dalam kompleks masjid dan Makam Ratu Kalinyamat Mantingan Jepara kondisinya terlihat baik.

Berbeda dengan masjid yang sepi, ada banyak peziarah yang berkunjung ke Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin di Mantingan Jepara ini. Umur mereka bervariasi. Ada pasangan muda, keluarga membawa anak kecil, dan ada yang mulai sepuh. Banyak orang Jawa percaya bahwa makam adalah penghubung antara keinginan diri dan berkah sang khalik.

makam ratu kalinyamat sultan hadlirin mantingan jepara
Gerbang masuk candi bentar Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin Mantingan, dan di dalam sana ada gapura paduraksa yang persis berada di depan cungkup makam. Tatanan ini menyerupai pura, dan boleh jadi bahwa tempat ini sebelumnya memang sebuah pura, sebelum para wali dan penguasa setempat merubahnya menjadi kompleks masjid dan pemakaman.

Candi bentar memisahkan bagian luar dengan bagian tengah bangunan suci, dan gapura paduraksa yang bisa berbentuk kori agung memisahkan bagian tengah dengan bagian dalam yang sakral. Hal lain yang memberi indikasi bahwa ini sebuah pura adalah adanya jaladwara yang ada di jaba tengah, atau area antara candi bentar dan gapura paduraksa.

Di sebelah kiri ada jalan yang berbelok ke kanan, dimana terdapat tengara berbunyi “Makam R. Abdul Djalil, Sunan Jepara”. Raden Abdul Jalil adalah nama asli Syekh Siti Jenar yang juga disebut Sunan Jepara, Sitibrit, dan Syekh Lemah Abang. Hal yang sama sekali tak saya duga, seperti ketika melihat Makam Arya Penangsang di Makam Sunan Kalijaga.

makam ratu kalinyamat sultan hadlirin mantingan jepara
Jirat kubur Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin Mantingan Jepara di dalam cungkup yang tengah diziarahi. Di dalam cungkup ada lagi struktur kayu berukir dengan tiang ulir di atas jirat kubur sebagai sampiran kain dan kelambu. Pada setiap tanggal 17 Robiul Awal dilakukan khol wafatnya Sultan Hadlirin dan ritual Ganti Luwur (ganti kelambu).

Ali, kuncen, mengatakan bahwa selain Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin, di dalam cungkup ada pula terdapat kubur ayah angkat Sultan Hadlirin bernama Tjie Hwio Gwan (Abdurrahman, Patih Sungging Badar Duwung) yang juga mengajarkan seni ukir kayu ke orang Jepara. Juga ada jirat kubur garwo selir, dan Dewi Wuryan Retnowati, puteri angkatnya.

Selir Sultan Hadlirin bernama Nyai Prodobinabar, asal Kudus. Kuncen Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin Mantingan Jepara ini ada dua orang, yang sepuh bernama Sulasimin berjaga di pendopo yang ada di halaman Masjid Astana Sultan Hadlirin. Kotak amal disediakan di teras dan di dalam cungkup, namun tak ada suara himbauan yang mengganggu.

makam ratu kalinyamat sultan hadlirin mantingan jepara
Penampakan pada teras cungkup, dengan kuncen Ali berpeci terlihat duduk bersila menyandar pada kotak amal. Pada teras ini terdapat beberapa jirat kubur para pengikut Sultan Hadlirin. Tulisan Arab gundul (tanpa tanda baca) menghiasi bagian atas dua pintu masuk ke dalam ruangan cungkup kubur. Ada pula sejumlah hiasan ukir dari padas kuning.

Di ujung terdapat silsilah Ratu Kalinyamat. Dimulai dari Kartawijaya (Brawijaya V, raja Majapahit terakhir) yang dengan putri Tionghoa berputra Raden Patah, raja Demak pertama. Raden Patah berputra Raden Suryo (Pangeran Sabrang Lor, raja Demak ke-2), Raden Sekar (Pangeran Sekar Sedo Lepen, berputra Arya Penangsang), Raden Trenggono (raja Demak ke-3), dan seorang putri yang menikahi Syekh Nurdin Maulana Isroil (Faletehan Gunungjati, berputra Pangeran Pasarean Cirebon dan Pangeran Hasanudin Banten).

Sultan Trenggono menurunkan Raden Mukmin (Sunan Prawoto, ayah Arya Pangiri) yang kemudian menggantikan Trenggono sebagai penguasa Demak dan memindahkan pusat pemerintahan dari Bintoro ke Prawoto. Putri I menikahi Pangeran Langgar (Adipati Sampang), putri II Ratu Kalinyamat menikahi Pangeran Hadlirin (Adipati Jepara, juga penguasa Demak mewakili Arya Pangiri yang masih kecil), putri III menikahi Pangeran Pasarean / Pangeran Hasanudin, putri IV mengawini Adipati Pajang (kemudian Sultan) Hadiwijaya berputra Pangeran Benawa. Putri bungsu Sultan Trenggono menikahi Pangeran Timur (Adipati Madura).

Karena keturunan Majapahit itulah maka pada jirat kubur Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin Mantingan Jepara ini terdapat lambang Surya Majapahit. Dalam perebutan kekuasaan Demak setelah meninggalnya Pangeran Sabrang Lor, Pangeran Sekar dibunuh oleh Raden Mukmin, keponakannya sendiri, di pinggir kali setelah selesai salat Jumat, sehingga Trenggono naik tahta Demak. Raden Mukmin, setelah menjadi raja dan bergelar Sunan Prawoto, mati bersama istrinya di Prawoto dibunuh orang suruhan Arya Penangsang.

Pada 1549 M, sepulang meminta penjelasan dan keadilan karena kematian kakaknya kepada Sunan Kudus yang berpihak kepada Arya Penangsang, namun mendapat jawaban yang mengecewakan dari Sunan Kudus, rombongan Ratu Kalinyamat diserang orang suruhan Arya Penangsang yang menewaskan Sultan Hadlirin. Lantaran kesedihan yang mendalam bercampur dendam kesumat, Ratu Kalinyamat kemudian bertapa “senjang rambut” di Gunung Danaraja Tulakan.

Konon Ratu Kalinyamat bersumpah tidak berpakaian (ningrat) sebelum berkeset kepala Arya Penangsang. Ratu Kalinyamat kemudian bersekutu dengan adik iparnya, Adipati Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir), untuk menghentikan Arya Penangsang. Arya Penangsang kemudian tewas oleh keris Kyai Setan Kober yang dicabutnya sendiri setelah memotong ususnya yang terburai karena robek terkena tombak Kyai Plered Sutawijaya.

Setelah Aryo Penangsang tewas, Ratu Kalinyamat pun bersedia turun dari pertapaannya untuk selanjutnya menggantikan kedudukan sang suami dan dinobatkan sebagai penguasa Jepara pada 10 April 1549. Tanggal itu kemudian setiap tahun diperingati sebagai hari jadi Jepara. Ratu Kalinyamat yang tidak memiliki putera kandung wafat sekitar tahun 1579.

Makam Ratu Kalinyamat Mantingan Jepara

Alamat : Desa Mantingan, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara. Lokasi GPS : -6.6194652, 110.6683141, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : sembarang waktu. Harga tiket masuk : gratis, sumbangan diharapkan. Rujukan : Peta Wisata Jepara, Tempat Wisata di Jepara, Hotel di Jepara. Galeri (23 foto) Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin Mantingan Jepara : 1.Gerbang, 2.Jirat kubur, 3.Teras cungkup, 4.Syekh Siti Jenar, 5.Prasasti 6.Majapahit 7.Paduraksa 8.Ornamen 9.Jaladwara … s/d 23.Pos jaga.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Tengah » Jepara » Makam Ratu Kalinyamat Mantingan Jepara
Tag : , , , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 18 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap