Makam Raja Balok Belitung Timur

Home » Bangka Belitung » Belitung Timur » Makam Raja Balok Belitung Timur
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Adalah Bang Junai yang membawa saya ke Makam Raja Balok Belitung Timur yang lokasinya berada di tengah kawasan hutan Desa Balok, Kecamatan Dendang. Rupanya ia bisa membaca minat saya terhadap benda cagar budaya serta peninggalan bersejarah, dan kebetulan pula dia pernah berkunjung ke Makam Raja Balok ini.

Namun lama tidak berkunjung, rumah dukun Makam Raja Balok Belitung Timur pun ia sudah lupa. Maklum kebanyakan pengunjung meminta diantar ke pantai atau pulau. Sayangnya Dukun Makam Raja Balok sedang tidak ada di rumah, maka pergilah kami mencari sendiri lokasi makamnya.

Pada sebuah pertigaan di kanan jalan kami belok, dan berhenti. Saat Bang Junai bertanya arah, datang mendekat seorang pria yang menanyakan keperluan kami. Ia rupanya juru kunci Makam Raja Balok Belitung Timur bernama Kik (Mbah) Sakri. Setelah mengambil kunci dan buku tamu, kami meluncur bersama semobil. Arah yang kami ambil sudah benar.

makam raja balok belitung timur
Tengara Makam Raja Balok Belitung Timur yang kami jumpai setelah melewati ladang lada di kiri kanan jalan. Tengara itu berbunyi “1. Makam Raja Balok I: K.A. Gedeh Ja’Kub, gelar Depati Cakraningrat (1619 – 1661). 2. Makam Syekh Abdul Jabar Sjamsudin.“. Lalu ada larangan menebang pohon, berburu binatang, dan membakar hutan di area konservasi ini.

Lokasi Makam Raja Balok Belitung Timur memang berada di dalam kawasan hutan lindung, yang sepintas tampak dijaga dan dirawat dengan baik. Cukup menggembirakan, dan mudah-mudahan lestari dari keserakahan. Setelah melewati tengara di atas dan pohon-pohon tinggi di kiri kanan, kemudian belok ke kiri, sampailah kami di lokasi cungkup makam.

Kik Sakri mengatakan bahwa renovasi Makam Raja Balok ini baru dilakukan pada 2009. Belakangan kami berkunjung ke area di tepi Sungai Balok yang yang letaknya tidak jauh dari Makam Raja Balok. Tidak tersisa tanda-tanda dermaga kerajaan yang besar. Air sungainya pun keruh, tanda rusaknya ekosistem yang parah di bagian hulu.

makam raja balok belitung timur
Cungkup tanpa dinding dimana Makam Raja Balok Belitung Timur yang pertama ini berada. Kik Sakri sudah lebih dulu turun dan berjalan ke arah cungkup, mengambil sapu, dan membersihkan halaman dari sisa dedaunan yang masih tercecer. Tengara di latar depan berbunyi “Makam KA Gede Ya’kub (Cakraningrat) I, Raja Balok Pertama (1618 – 1661)”.

Ki Gede Yakub konon adalah keponakan Ki Gede atau Ki Ageng Pemanahan, atau sepupu Panembahan Senopati, pendiri dan raja pertama Kerajaan Mataram Islam. Ia disebut sebagai putera Pangeran Kaap, seorang mangkub atau bendahara keraton. Ki Gede Yakub, atau Kiai Masud atau Kiahi Gegedeh Yakob, datang ke Balok pada sekitar tahun 1600-an.

Saat itu Ki Ronggo Udo atau Datuk Mayang Gresik, ulama asal Gresik, yang berkuasa setelah mengambil alih kekuasaan di Badau dari Ronggu Udo III, dan memindahkan pusat pemerintahan dari Badau ke hulu Sungai Balok untuk memudahkan pelayaran ke Jawa. Datuk Mayang Gresik menyambut baik kedatangan Ki Gede Yakub dan bahkan menikahkannya dengan puteri tunggalnya yang bernama Nyi Ayu Kusuma.

Ada dua makam bersebelahan di dalam cungkup makam. Makam yang besar tentulah Makam Raja Balok Ki Gede Yakub, sedangkan makam satu lagi saya lupa menanyakannya kepada Kik Sakri, mungkin makam isterinya, Nyi Ayu Kusuma. Karena Datuk Mayang Gresik tidak memiliki putera laki-laki, maka Ki Gede Yakub yang menggantikannya menjadi Raja Balok.

makam raja balok belitung timur
Cungkup Makam Raja Balok Belitung Timur ini berpagar keliling rendah dengan dua pintu besi di satu sisinya, yang telah dibuka Kik Sakri. Lantainya dikeramik, dan masih dalam kondisi baik, namun undakannya perlu perawatan. Tidak ada tempat pembakaran dupa, meskipun istilah ‘dukun’ masih digunakan bagi juru kunci Makam Raja Balok ini.

Saat itu tiga daerah lain di Belitung masih berdiri sendiri-sendiri, belum resmi mengakui Balok sebagai penguasa Belitung. Setelah menggantikan Datuk Mayang Gresik pada 1618, Ki Gede Yakob kemudian memohon pengakuan dan dukungan Sultan Agung di Mataram, keponakannya sendiri, atas kekuasaannya di Balok. Sultan menganjurkan untuk memintanya dari Raja Palembang yang kala itu masih dibawah Mataram.

Datuk Mayang Gresik yang masih mendampingi Ki Gede Yakub, lalu mengirim orang asal Badau yang ia percayai untuk ke Palembang. Utusan yang datang seorang diri itu berhasil menjalankan misinya, dan mendapatkan restu dari Raja Palembang. Ini tampaknya tak lepas dari pertimbangan bahwa Ki Gede Yakub masih keluarga penguasa Mataram.

Setelah mendapatkan dukungan dari Mataram melalui Raja Palembang, seluruh Ngabehi di Belitung akhirnya tunduk pada kekuasaan Ki Gede Yakub. Tahun 1661 Ki Gede Yakob menguasai seluruh Belitung dengan gelar Depati Cakraninggrat. Keturunannya diberi gelar Kiahi Agus atau Ki Agus untuk laki-laki, dan Nyi Ayu atau Nyayu jika perempuan.

Konon nama balok berasal dari balok emas yang dibuang ke sungai oleh raja, lantaran anak-anaknya berebut untuk memilikinya. Masuk sekitar 50 m ke dalam hutan dari tepi Sungai Balok, terdapat reruntuhan Gapura Kerajaan Balok. Tidak diketahui apakah pernah dilakukan kegiatan penelitian arkeologi di situs peninggalan Kerajaan Balok ini.

Makam Raja Balok Belitung Timur selengkapnya: 4.Kik Sakri 5.Sungai Balok 6.Gapura 7.Gundukan 8.Unik 9.Mosaik 10.Tinggi

Makam Raja Balok Belitung Timur

Desa Balok, Kecamatan Dendang, Belitung Timur. Tempat Wisata di Belitung TimurPeta Wisata Belitung, Hotel di Belitung Timur

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »