Makam R.Ng. Yosodipuro Pengging Boyolali

Ini adalah kali pertama saya berkunjung ke daerah Pengging, ditandai dengan tapakan kaki di halaman depan Makam Raden Ngabehi Yosodipuro Pengging, pujangga keraton pada jaman PB II, III dan IV, dengan tembok depan memanjang dan tinggi. Nama Pengging telah lama saya kenal, sejak kecil, lewat buku roman sejarah.

Makam R. Ng. Yosodipuro Boyolali

Alamat : Pengging, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali.
Lokasi GPS : -7.55053, 110.67485, Waze.
Galeri : 9 foto
Rujukan : Peta Wisata Boyolali, Tempat Wisata di Boyolali, Hotel di Boyolali.

Buku itu karya legendaris SH Mintardja, “Nagasasra dan Sabuk Inten”. Kisah dua keris pusaka yang hilang dari keraton Demak Bintoro dan menjadi pusat kisah petualangan Mahesa Jenar, murid Ki Ageng Pengging Sepuh atau Pangeran Handayaningrat, putra Prabu Brawijaya V.

Sejak saat itu nama Pengging tak pernah lepas dari ingatan, dan imajinasi terus hidup tentang sebuah padepokan dengan ilmu pamungkas Sasra Birawa yang dikuasai tuntas oleh Mahesa Jenar berkat bimbingan tak lazim Kebo Kanigara, kakak Kebo Kenanga atau Ki Ageng Pengging. Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga adalah putera Ki Ageng Pengging Sepuh.

Selain sangat cerdas, Mahesa Jenar yang sebagai senapati Demak Bintoro bernama Rangga Tohjaya juga kebal racun karena di darahnya mengalir bisa ular Gundala Seta yang mampu menangkal segala macam racun. Bisa ular Gundala Seta itu diperolehnya dari Ki Ageng Sela, ayah Kyai Ageng Henis, leluhur raja-raja Mataram.

makam r. ng. yosodipuro
Undakan pendek menuju ke dalaman kompleks Makam R. Ng. Yosodipuro yang cukup luas. Di kiri kanan pintu terdapat relief simbol berwarna keemasan berbentuk bulat dengan puncak seperti mercu suar dengan tiga dek pengamatan. Kedua simbol itu nyaris sama, hanya berbeda pada ornamen daun dan bunganya saja.

Di atas pintu terdapat tulisan “Makam Pujonggo R.Ng. Yosodipuro (Tus Pajang ke I) Pengging”, dan di atasnya lagi ada tulisan “Tuturing Pandito trus nyawiji”. Di balik pintu terdapat tulisan “Tempat Pendaftaran Tamu” dan tulisan “Diharap Tertib dan Sopan”. Namun tak ada petugas di sana. Alhasil saya mengayun kaki belok arah ke kiri mengikuti gerak hati saja.

Setelah sempat termangu selama beberapa saat di serambi depan Makam R. Ng. Yosodipuro yang saya kira menjadi tempat masuk ke area dalam makam, seorang pria datang menyapa dan memperkenalkan diri sebagai kuncen makam. Rupanya akses masuk ada pada pintu samping sebelah kanan.

makam r. ng. yosodipuro
Dalaman Makam R. Ng. Yosodipuro dengan cungkup makam dibalut kain kelambu berwarna merah. Kubur di sebelah kanan cungkup adalah makam kedua isteri R. Ng. Yosodipuro.

Di sekitar makam ada beberapa kubur dengan bentuk kubur dan nisan yang berbeda. Ada keunikan di beberapa kubur itu, baik di badan makam maupun pada nisannya. Di latar depan, misalnya, nisan kuburnya berbentuk bulat seperti benteng dalam permainan catur.

R. Ng. Yosodipuro I adalah putera dari pasangan Raden Tumenggung Padmonegoro dan Siti Mariyam. Semasa mudanya RT Padmonegoro menjadi prajurit Mataram yang mengikuti Sultan Agung Hanyokrokusumo pada waktu melawan Kompeni, dan berkat keberaniannya dan kepandaiannya dalam berperang, ia kemudian diangkat menjadi Bupati Pekalongan.

R. Ng. Yosodipuro lahir pada subuh 1729 dengan nama Bagus Banjar, sehingga ia juga dipanggil Jaka Subuh. Sejak usia 8 tahun, ia telah berguru kepada Kyai Hanggamaya di Bagelen yang menjadi sahabat karib kakeknya.

Kyai Hanggamaya mengajari Bagus Banjar cara menulis Jawa dan Arab, membaca buku sastra dan Al-Qur’an, serta menjalani syariat Islam. Bagus Banjar juga belajar dasar-dasar kebatinan melalui laku tapa, melatih kesabaran dengan mutih 40 hari, ngrowot (hanya makan sayuran), ngebleng (puasa makan, minum, dan puasa hubungan badan selama 24 jam), berlatih ilmu kanuragan, dan belajar pengetahuan lainnya. Bagus Banjar pulang ke Pengging pada usia 14 tahun.

makam r. ng. yosodipuro
Menurut penuturan Tjojo (54 tahun), juru kunci Makam R.Ng. Yosodipuro yang sejak kecil sudah sering ikut bapaknya mengurus makam ini, dua tengara seperti nisan berbentuk segi lima di sebelah kiri adalah Pamajengan (tempat wejangan) Syekh Siti Jenar dan Ki Kebo Kenanga, dua tokoh yang dihukum mati oleh Demak Bintoro karena dianggap membahayakan kekuasaan Sultan Demak.

Bagus Banjar mulai mengabdi kepada Sri Paduka Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II di Keraton Kartasura saat pecah Geger Pecinan pada tahun Alip 1667. Bersama dengan Pangeran Wijil IV dan Tumenggung Aroeng Binang, R. Ng. Yosodipuro ikut berjasa dalam memindahkan Keraton Kasunanan Kartasura ke Desa Sala yang kemudian menjadi pusat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Setelah di Surakarta, Yosodipuro lalu diangkat menjadi abdi dalem kadipaten dan tinggal di bekas Kedung Kol yang sekarang disebut Yosodipuran. R. Ng. Yosodipuro tidak hanya mengabdi kepada PB II, namun juga mengabdi pada PB III dan PB IV.

Empat karya R. Ng. Yosodipuro yang paling tinggi nilainya adalah Serat Rama (saduran dari Kakawin Ramayana), Serat Bratayuda (saduran dari Kakawin Bharatayuddha), Serat Mintaraga (saduran dari Kakawin Arjuna Wiwaha), dan Serat Arjuna Sasrabahu (saduran dari Kakawin Arjuna Wijaya), yang digubah dalam bentuk syair macapat dengan bahasa Jawa baru.

Karya Yasadipura I yang lain adalah Serat Menak yang merupakan saduran Hikayat Amir Hamzah berbahasa Melayu, berisi kisah kepahlawanan Hamzah bin Abdul-Muththalib paman Nabi Muhammad. Ia juga membuat dokumen sejarah berjudul Babad Giyanti, yaitu berisi cerita terbaginya wilayah Kasunanan Surakarta pada 1755 menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

R. Ng. Yosodipuro wafat pada 1802, di tahun kelahiran cicitnya yang bernama Ranggawarsita. Ranggawarsita inilah yang mewarisi kepujanggaan Yasadipura dari kakeknya, Yasadipura II.

Setiap bulan Sapar, di Pengging diselenggarakan ritual sebar apem yang sudah dilakukan sejak jaman R. Ng. Yosodipuro. Ada pula Pesta Rakyat dan Budaya Pengging yang dilaksanakan mendekati bulan Agustus. Selain itu ada ritual yang disebut sanggaran atau nyanggar, untuk mengetahui apakah tujuan yang dikendaki dapat tercapai atau tidak.

Galeri (9 foto) Makam Pujonggo R. Ng. Yosodipuro Pengging Boyolali : 1.Undakan, 2.Tembok luar, 3.Serambi Makam 4.Cungkup Makam R.Ng. Yosodipuro, 5.Kuncen 6.Pamejangan, 7.Nisan Kubur 8.Makam 9.Makam Yosodipuro II.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jawa Tengah » Boyolali » Makam R.Ng. Yosodipuro Pengging Boyolali

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email. Diperbaiki 24 Juni 2017. Tag: