Makam R. Joko Kaiman Banyumas

Home » Jawa Tengah » Banyumas » Makam R. Joko Kaiman Banyumas
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Makam R. Joko Kahiman, atau Makam R. Joko Kaiman Banyumas seperti yang tertera pada tengara di makam, berjarak hanya sekitar 450 meter dari Kompleks Makam Yudanegara II yang saya kunjungi sebelumnya, atau 3,7 km dari Alun-alun Banyumas arah ke Barat. Area makam berada persis di tepi Jalan Pasarehan, Desa Dawuhan

Makam R. Joko Kaiman Banyumas

Alamat: Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas, Banyumas. Lokasi GPS: -7.518887, 109.262908, Waze. Rujukan: Peta Wisata Banyumas . Tempat Wisata di Banyumas . Hotel di Purwokerto.
Galeri (11 foto): 1.Tampak depan, 2.Sela teralis, 3.Makam, 4.Digembok, 5.Satria 6.Jendela 7.Tampak Belakang 8.Prasasti 9.Cungkup Bambu 10.Surya Menggala 11.Berjiwa.

Tempat parkir kendaraan ada di kiri kompleks makam. R. Joko Kaiman adalah pendiri Banyumas dan Bupati Banyumas pertama. Nama kecilnya Jaka Semangun, putera Raden Harya Banyak Sosro namun sejak kecil diangkat anak Kyai Sambarana atau Kyai Mranggi Semu.

Nyai Mranggi Semu (Raden Ayu Ngaisah) adalah adik kandung Banyak Sosro. Kakeknya adalah R. Harya Baribin, putera Prabu Brawijaya IV dari Majapahit, dan neneknya putri bungsu Prabu Linggawastu dari Kerajaan Pakuan Parahiyangan.

Versi lain menyebutkan bahwa R. Joko Kaiman berasal dari trah keturunan Kadipaten Pasirbatang dari Silsilah Pangeran Senapati Mangkubumi II atau Adipati Arya Wirakencana, dan tidak diangkat anak oleh Kyai Mranggi tetapi oleh Kyai Tolih.

makam r joko kaiman banyumas
Tampak depan luar Kompleks Makam R. Joko Kaiman yang sepertinya belum lama dipugar, dengan tembok keliling tinggi berlapis batu di bagian depan. Semakin ke belakang temboknya semakin rendah karena kontur tanahnya yang semakin meninggi.

Sayangnya pagar besi pada gerbang makam ditutup dan digembok. Sayangnya lagi tidak ada nomor telepon kuncen yang bisa dihubungi. Bahwa pagar makam digembok bisa dimaklumi, namun menggembok pintu makam tanpa memberi petunjuk kepada pengunjung kemana mereka bisa menghubungi kuncen adalah absurd.

Berdirinya Banyumas dan naiknya R. Joko Kaiman sebagai adipati tidak lepas dari peristiwa tragis terbunuhnya penguasa Wirasaba, yaitu Adipati Wargautama, di Desa Bener, Kecamatan Lowano, Purworejo, oleh gandhek (bentara pendamping raja) suruhan Sultan Hadiwijaya dari Pajang.

Sebelum peristiwa tragis itu terjadi, Joko Kaiman telah dinikahkan oleh Adipati Wargautama dengan putri sulungnya yang bernama Raden Ayu Kartimah. Sultan Pajang merasa terhina lantaran puteri bungsu Adipati Wargautama yang dipersembahkan kepadanya sebagai tanda kesetiaan Wirasaba dilaporkan oleh Ki Demang Toyareka sudah tidak perawan, sebuah informasi sesat yang kemudian menimbulkan penyesalan sultan.

makam r joko kaiman banyumas
Tampak depan Makam R. Joko Kaiman dilihat dari sela-sela teralis pagar besi di gerbang makam. Bangunan cungkupnya kecil saja, namun halamannya cukup luas. Ada taman kecil dan pepohonan di sisi kiri makam yang memberi sedikit rasa nyaman di mata.

Pengalaman buruk terhapusnya semua foto secara aneh karena menerobos pagar ketika berkunjung ke Makam Kyai Mojo di Minahasa menyebabkan saya enggan meloncati pagar depan Makam R. Joko Kaiman ini.

Tidak mau menyerah begitu saja, saya meloncat naik ke kompleks makam umum di sebelah Makam R. Joko Kaiman, yang meskipun tidak ada temboknya namun letaknya memang lebih tinggi dari jalan dan undakannya agak jauh di tengah kompleks. Saya pun melipir tembok di sisi kanan makam, berjalan menuju ke arah belakang.

Cungkup Makam R. Joko Kaiman dikelilingi tembok keliling lagi dengan dua jendela di masing-masing sisinya. Halaman belakang tampak masih belum selesai dikerjakan, meskipun tanahnya seperti telah dibajak atau dicangkul untuk dijadikan taman. Lantaran tembok luarnya rendah di bagian ini, tak bisa saya menahan diri untuk meloncatinya dan mendekati cungkup.

makam r joko kaiman banyumas
Makam R. Joko Kaiman dari sela-sela kisi jendela, dengan payung susun tiga disandarkan pada pojok tembok sebelahnya. Ornamen pada kepala nisan berbeda dengan bagian kakinya, gerigi sampingnya lebih banyak. Di kaki makam terdapat batu pendek segi empat rata yang digunakan sebagai pembakaran dupa atau untuk meletakkan bebungaan.

Konon sesaat sebelum meninggal, Adipati Wargautama meninggalkan beberapa wasiat, yaitu:
‘Aja lungan dina Setu Pahing’, jangan pergi hari Sabtu Pahing, hari ketika ia terbunuh.
‘Aja mangan daging banyak’, jangan makan daging angsa, daging yang dimakannya sesaat sebelum terbunuh.
‘Aja nunggang jaran klawu jongkla’, jangan naik kuda abu-abu tangkas, kuda tunggangan yang digunakan gadhek, dan
‘Aja manggon umah sunduk sate’, jangan tinggal di rumah tusuk sate, posisi rumah dimana ia berada ketika terbunuh.

Setidaknya wasiat pantangan yang pertama dan yang terakhir masih sangat melekat di ingatan saya sejak kecil sampai sekarang.

Kembali ke cerita. Menyadari kekeliruannya, Sultan Pajang memanggil putera Adipati Wargautama. Namun tidak ada yang berani menghadap lantaran takut mengalami nasib sama dengan ayahandanya. Putera Adipati Wargautama adalah Raden Ayu Kartimah, Ngabehi Wargawijaya, Ngabehi Wirakusuma, Ngabehi Wirayuda, dan Rara Sukartiyah.

Joko Kaiman bersama RA Kartimah akhirnya mewakili saudara-saudaranya menghadap sultan. Ternyata bukan teguran atau hukuman yang diterima, namun Joko Kaiman justru diberi kepercayaan oleh Sultan Hadiwijaya untuk menggantikan ayah mertuanya menjadi Adipati Wirasaba dengan gelar Adipati Wargautama II.

Untuk merangkul semua saudaranya, atas seijin sultan, pada 1582 Joko Kaiman membagi Wisaraba menjadi empat. Wilayah Wirasaba diberikan kepada Wargawijaya menjadi Kadipaten Purbalingga, wilayah Merden diberikan kepada Wirakusuma menjadi Kadipaten Cilacap, wilayah Banjar Pertambakan diberikan kepada Wirayuda menjadi Kadipaten Banjarnegara, dan ia sendiri menguasai wilayah Kejawar.

Karena membagi wilayah Wirasaba menjadi empat inilah R. Joko Kaiman juga dikenal dengan sebutan Adipati Mrapat. R. Joko Kaiman kemudian membuka hutan Mangli di Kejawar untuk dibangun menjadi pusat pemerintahan baru yang diberinya nama Kabupaten Banyumas. Nama Banyumas berasal dari batang Kayu Mas gelondongan yang terbawa oleh aliran Kali Serayu dan terdampar dilokasi babat hutan. Kayu itu lalu dijadikan sokoguru bangunan kadipaten.

Di sebelah kiri luar Makam R. Joko Kaiman, di pemakaman umum terdapat cungkup makam sederhana yang terbuat dari bambu yang menarik perhatian saya. Kesederhanaan seringkali tidak kalah menariknya dengan kemewahan. Penasaran, saya pun mendekati cungkup makam itu. Namun sayangnya tidak ada tengara yang memberi petunjuk tentang pemilik makam yang memikat ini.

Makam di dalam cungkup itu pun hanya berupa gundukan tanah tanpa semen, dengan nisan kayu yang terlihat sudah sangat tua dan bagian kakinya sudah tidak utuh lagi. ‘Menemukan’ cungkup makam yang unik ini memberi hiburan tersendiri setelah tidak bisa memasuki area Makam R. Joko Kaiman. Seorang komenter bernama mas Ahmad Said menyebutkan bahwa berdasar dawuh tahun 1993, pemilik makam mengaku sebagai mbah Surya Menggala, seorang senapati. Orangnya tinggi besar memakai ikat kepala ciri khas Banyumas, dan kalau zikir di makam mbah Jaka Kahiman ia sering didatangi mbah Surya Menggala ini.

Setelah melihat kondisi Makam Nyai Mranggi yang menyedihkan, lalu kompleks Makam Yudanegara II yang memerlukan penataan, ada rasa senang bahwa setidaknya pemerintah dan masyarakat Banyumas telah memberikan penghormatan layak kepada makam Bupati Banyumas pertama ini. Sudah selayaknya tempat-tempat bersejarah mendapat perhatian besar karena membuat sebuah wilayah menjadi unik, menarik, dan berjiwa.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 29 Mei 2017.

Lalu «
Baru » »