Makam R. Hoedawikarta Masaran Banjarnegara

Sudah lama saya tidak berkunjung ke Desa Masaran, Banjarnegara, tempat dimana Makam R. Hoedawikarta, eyang saya, berada. Jalan menuju ke desa sudah diaspal dan lebar. Sebagian adalah warisan jalan yang dibuat proyek pembangunan Waduk Mrica untuk mengangkut batu yang berasal dari penghancuran Gunung Tampomas.

Dulu setelah mendiang bapak pensiun sebagai Wedana Jatinom, Klaten, kami berjalan kaki sejauh 4 km dari halte stasiun Mantrianom atau Pucang, melewati daerah yang disebut Petir, dan lewat di atas jembatan Kali Siluman beberapa saat sebelum sampai ke Desa Masaran. Semasa hidupnya, yang saya belum lagi lahir, R. Hoedawikarta (Hudawikarta, Hudowikarto) adalah Penatus Masaran, sebuah jabatan pemerintahan desa jaman dahulu yang membawahi sekitar seratusan cacah rumah tangga. Di atasnya ada jabatan Penewu yang membawahi seribu cacah, dan di bawahnya ada Peneket yang membawahi lima puluh cacah keluarga. Ada juga penglawe (25) dan penepuluh (10).

Ketika sampai di Desa Masaran saya benar-benar tak mengenali jalanan yang ada di sana. Proyek Waduk Mrica tampaknya telah merubah total jalanan Masaran yang terekam di ingatan. Setelah sempat tersesat sampai di jalan buruk menuju ke Gunung Tampomas, akhirnya saya bisa menemukan Makam eyang R. Hoedawikarta yang berada di kompleks makam di atas sebuah perbukitan yang tak begitu tinggi.

makam r hoedawikarta masaran
Makam Eyang R. Hoedawikarta kakung putri ada di sebelah kiri, yang lokasinya berada di dekat undakan menuju makam. Tengara nama pada makamnya masih terlihat cukup jelas meski kuburnya terlihat kurang terawat.

Kubur tengah belakang berwarna keputihan adalah makam sepupu dan sekaligus adik ipar ayah, yang biasa kami sebut Pak Leman. Dulu kami cukup sering mampir ke rumahnya yang berada tak jauh dari Alun-alun Banyumas.

Saat saya masih kecil, aroma feodal masih sangat kental terasa di Dusun Masaran ini, setidaknya dari cara orang-orang kampung menghormati ayah. Kami anak-anaknya pun dipanggil dengan sebutan “Den”, singkatan dari “Raden”, gelar feodal yang memang tercantum di akta kelahiran kami.

Dulu kami punya kebun di Masaran yang dirawat oleh salah seorang penduduk kepercayaan ayah. Ada pula kebun yang berada di daerah Gunung Tampomas yang belum pernah saya kunjungi. Hasil kebun kadang diantar ke rumah kami di Mersi, berlangsung sampai setelah ayah meninggal pada 1975 dan ibu wafat pada 1995.

makam r hoedawikarta masaran
Tidak jauh dari Makam R. Hoedawikarta ada makam di atas dengan tengara yang berbunyi “R Ayu Arsantaka”. Belum saya temukan hubungan makam itu dengan Kyai Arsantaka dikenal cikal bakal pendiri Kabupaten Purbalingga. Kyai Arsantaka pernah tinggal di Desa Masaran dan ketika wafat juga dimakamkan di sana. Hanya saja nisan makamnya kemudian dipindahkan ke makam keluarga Arsantaka di Purbalingga.

Tak jelas bagaimana hubungan antara keluarga Kyai Arsantaka dengan R. Hoedawikarta, hanya kemungkinan mereka saling mengenal. R. Hoedawikarta sendiri bukanlah penduduk asli Masaran. Ia sampai ke desa itu dan menetap di sana karena menyingkir dari Solo atau Kebumen karena perang, dan lalu menikah dengan penduduk setempat. Eyang Hoedawikarta dikaruniai putera-puteri sebanyak empat belas belas orang, namun yang satu tak hidup.

Ketigabelas putera-puterinya adalah R. Sudjana (Pakgede Suja, Temanggung), R. Sardjono (Pakgede Klerk, Purwonegoro, tidak berputra), R. Muhammad (meninggal tidak menikah, kabarnya paling disayang eyang Hoedawikarta), R. Sudibyo (Pakgede Dibyo, Batang), R. Soemantri (Mersi, Purwokerto, ayah saya), Rr. Siti Wuryani (Bu Toha, Banjarnegara), Rr. Siti Fatimah (Bu Leman, Banyumas), Rr. Siti Asiyah (Bu Warjo, Kranji, Purwokerto), Siti Amirin (Bu Musni), R. Sutoyo (Pekalongan), R. Muslih (Pekalongan, tak berputra), Rr. Siti Chotijah (Bu Tijah, Krucil), dan R. Acmad Mustofa (Semarang).

Eyang R. Hoedawikarta meninggal pada 1933, sedangkan eyang Penatus Putri (demikian ia biasa dipanggil) wafat tahun 1960/61 ketika saya masih bayi, sehingga tak berkesempatan mengenalinya. Beberapa kakak dan adik ayah juga tak saya kenali dengan baik, bahkan ada yang tidak pernah bertemu.

makam r hoedawikarta masaran
Di sebelah Makam eyang R. Hoedawikarta terdapat sebuah makam yang dibatasi tembok batu yang sebagiannya sudah runtuh. Tak ada tengara pada makam ini, namun boleh jadi itu adalah makam Kyai Arsantaka.

R. Hoedawikarta adalah putera dari RB Soemodiwirjo, atau cucu RB Wangsadikrama (Penewu Surakarta), atau cucu buyut R.T. Aroeng Binang I. Jika Makam RB Wangsadikrama telah saya lihat ada di dalam cungkup Makam Aroeng Binang II di kompleks Makam Aroeng Binang di Kebejen, Kutowinangun, Kebumen, belum saya ketahui dimana letak Makam RB Soemodiwirjo.

Masa kecil boleh jadi adalah kenangan yang sangat indah. Betapa pun pahitnya kehidupan saat itu akan terasa manis jika dikenang pada saat sekarang. Dan makam bisa menjadi semacam portal penghubung antara dunia masa lalu, dunia masa kecil, dan dunia saat ini. Mungkin karena itulah saya senang pergi ke makam, meski jarang ingat bahwa suatu saat saya pun akan menjadi penghuni di salah satu kompleks makam yang pernah saya kunjungi itu.

Makam R. Hoedawikarta Masaran Banjarnegara

Alamat : Desa Masaran, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara. Lokasi GPS : -7.41958, 109.64400, Waze (parkir), -7.41951, 109.64359, Waze (makam). Rujukan : Tempat Wisata di Banjarnegara . Peta Wisata Banjarnegara . Hotel di Banjarnegara

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Tengah » Banjarnegara » Makam R. Hoedawikarta Masaran Banjarnegara
Tag : ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 7 September 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap