Makam Perang Jakarta

Makam Perang Jakarta, atau Jakarta War Cemetery, yang lokasinya berada di daerah Menteng Pulo, Jakarta Selatan, kami kunjungi beberapa bulan lalu bersama beberapa orang teman. Adalah Olyvia Bendon yang telah mengatur kunjungan yang mengesankan ini, dan kali itulah untuk pertama kalinya saya bertemu dengannya di darat.

Setelah menjemput Rika di Stasiun Tebet, kami meluncur di Jl Cassablanca, melewati Sroto ‘Eling-Eling’, memutar di atas terowongan Kuningan, dan beruntung mengenali Olyv yang duduk di Halte Puri Cassblanca karena saya kira ia ada di Halte Apartemen Cassablanca. Tidak lama kemudian bergabung Lita Jonathans, yang sebelumnya mengatakan tak bisa ikut.

Kami berbelok ke kiri sekitar 70 m setelah Wisma Staco untuk masuk ke Jl Menteng Pulo 2, belok kiri di pertigaan kedua, belok ke kiri lagi mengikuti jalan, lalu belok ke kanan, dan berhenti di pelataran rumah yang menjadi akses lewat belakang ke kompleks Makam Perang Jakarta. Aripin, pria 30 tahunan datang menemui kami, dan mengantar kami sampai di tepian kompleks makam yang dibangun dan dipelihara oleh Commonwealth War Graves Commission. Ia mempersilahkan kami untuk melanjutkan berkeliling sendiri.

makam perang jakarta menteng pulo
Bagian atas Makam Perang Jakarta ini menjadi kubur Indian Army Medical Corps, Indian Pioneer Corps, Royal Indian Army Service Corps, dan 8th Punjab Regiment. Pada tugu tertulis ‘Pakistan” serta “Indian Forces‘ dan ‘1939 – 1945’. Angka tahun menandai periode gugurnya tentara di berbagai medan pertempuran sejak Jepang menginvasi Hindia Belanda sampai Tentara Sekutu masuk setelah Jepang menyerah. Siapapun yang berkunjung ke Makam Perang Jakarta ini pasti dibuat kagum. Area makam sangat elegan, rapi, asri, dan terawat sangat baik.

Saat melangkah terlihat nisan tentara 8th Punjab Regiment yang tewas 29 Desember 1945 di usia 28 tahun. Resimen ini dari Brigade 49 Divisi India yang merupakan bagian Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI). Tulisan Arab pada nisan berbunyi Huwal Ghafur (Engkaulah yang Maha Pengampun), lalu Innalillahi wainailaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali). Penghuni makam memang terdiri dari banyak suku bangsa dan agama.

makam perang jakarta menteng pulo
Memunggungi area sebelumnya, terlihat area Makam Perang Jakarta yang lebih luas, dicapai dengan menuruni undakan. Di tengah terdapat Tugu Peringatan yang berbentuk salib, karena kebanyakan yang dimakamkan di lokasi ini tampaknya beragama Kristen, meski ada juga yang beragama Yahudi, atau tidak ada lambang keagamaan di nisannya. Saya kira di kehidupan setelah mati tidak ada agama. Semuanya bertemu dengan Tuhan yang sama. Agama merupakan petunjuk bagi orang hidup.

Di belakang tugu terdapat bangunan kecil yang menjadi gerbang utama Makam Perang Jakarta, dimana terdapat tengara bagi tentara yang tewas serta riwayat Perang Pasifik di wilayah Hindia Belanda. Di sebelah kanan, bagian terluas Makam Perang Jakarta terlihat sangat rapi dan asri. Saya rasa siapa pun akan merasa senang menjadi penghuni kubur di tempat ini, demikian pula keluarganya. Sekuntum bunga terlihat di kubur Prajurit dari Batalion Senapan Mesin Australian Imperial Force yang meninggal pada 21 Juli 1944 dalam usia 37 tahun. Kubur di sini berjumlah 1.181, terdiri dari AL 105, AD 783, AU 271, Awak Kapal Dagang 12, Polisi Malaya dll 10. Mereka berasal dari Inggris 715 orang, India 304, Australia 96, Kanada 4, Selandia Baru 2, Afrika Selatan 1, Birma 1, Malaya 22, dan 36 warga Sekutu lainnya. Yang kuburnya tak diketahui dibuat Tugu Peringatan di pangkalan asal mereka.

makam perang jakarta menteng pulo
Area Makam Perang Jakarta dilihat dari ujung kanan lorong tengah yang berjarak sekitar 75 m dari tugu. Di balik dinding tanaman di belakang Tugu Peringatan adalah lokasi Ereveld Menteng Pulo, atau Taman Kehormatan Belanda Menteng Pulo, atau Netherlands Field Of Honour, yang dikelola oleh Yayasan Makam Belanda (Oorlog Graven Stichting). Menengok ke sisi sebelah kiri terlihat susunan nisan Makam Perang Jakarta yang diletakkan dengan tingkat presisi tinggi. Tidak ada toleransi sedikit pun untuk penyimpangan, seperti disiplin militer yang patut dicontoh oleh masyarakat sipil. Untuk tentara Sekutu yang gugur di daerah Ambon, Sulawesi dan Timor, dikumpulkan di Makam Perang Ambon.

Ada nisan di Makam Perang Jakarta yang tidak mencantumkan nama. Diantaranya “An Airman of the 1939 – 1945 War. Royal Air Force. Known Unto God“, dengan Wing satuan tempur bertulis Per ardua ad astra atau Through adversity to the stars atau Through struggle to the stars” yang menjadi motto Royal Air Force dan AU negara persemakmuran. Di sisi kanan Makam Perang Jakarta terdapat makam Brigadier Aubertin Walter Sothern Mallaby CIE OBE, komandan 49th Indian Infantry Brigade, yang kematian tak terduganya di Kota Surabaya pada 30 Oktober 1945, memicu serangan besar-besaran tentara Sekutu ke Surabaya pada 10 November 1945 dan berlangsung hingga tiga minggu kemudian. Sebelum meletusnya peristiwa itu, Mallaby sempat melakukan perundingan dengan Moestopo di Gedung PTPN XI. Lalu ada insiden penembakan pada 27 Oktober 1945 terhadap truk pejuang yang tengah melintas di depan Rumah Sakit Darmo oleh tentara Sekutu yang dianggap menjadi awal ketegangan di Surabaya, selain insiden bendera di Hotel Majapahit.

makam perang jakarta menteng pulo
Dua buah Tugu Peringatan yang ada di Makam Perang Jakarta itu. Jika di sebelah kanan ada gereja maka di sebelah kiri ada sebuah masjid yang menaranya terlihat di sebelah kiri. Foto ini diambil dengan memunggungi gerbang masuk dimana terdapat prasasti dan sejarah seputar Perang Pasifik. Sebagian kisah menegangkan menjelang dan selama serbuan habis-habisan tentara Sekutu ke Kota Surabaya serta pidato heroik dan bersejarah Gubernur Soeryo kepada rakyat Surabaya diceritakan di tulisan Monumen Suryo, demikian pula kisah pertempuran yang banyak memakan korban kedua belah pihak, termasuk Pasukan Gurkha, di Gedung RRI Surabaya.

Kisah pertempuran tahun 1941 – 1945 di Indonesia ditulis pada dinding gerbang Makam Perang Jakarta. Diceritakan bahwa bersamaan dengan pendaratannya di Malaya pada 8 Desember 1941, tentara Jepang secara simultan memulai aksi ofensif untuk menguasai Hindia Belanda. Seribuan pasukan Australia Gull Force di Ambon menyerah pada 3 Februari 1942. Bali ditaklukkan pada 19 Februari. Timor yang dipertahankan pasukan Australia dan Belanda diduduki Jepang pada 23 Februari. Jepang menerjunkan pasukan payung di Palembang 14 Februari, menguasai kilang minyak dan lapangan terbang. Singapura jatuh pada 15 Februari. Seluruh pasukan Sekutu di Sumatera ditarik mundur ke Jawa pada 17 Februari. Jawa dipertahankan dengan kekuatan 86 pesawat tempur Persemakmuran, sejumlah sama pesawat tempur Belanda, beberapa pesawat tempur Amerika, 12 batalyon tentara Belanda, satu skuadron tank Inggris, lima resimen anti pesawat udara Inggris, dua batalyon perang Australia, dan 16 kapal perang gabungan Inggris, Australia, Belanda dan Amerika.

Namun seluruh kapal perang Sekutu ditenggelamkan pasukan Jepang dalam pertempuran Laut Jawa pada 27 Februari 1942, meskipun menimbulkan kerusakan besar pula pada angkatan perang Jepang. Pada 1 Maret 1942, Tentara Keenambelas Jepang mendarat di tiga tempat, yaitu di Teluk Banten, Eretan Wetan di Indramayu, dan Kragan di wilayah Rembang. Tanggal 7 Maret, Jepang masuk ke Batavia, menyerbu Bandung, dan hampir menguasai Surabaya. Tanggal 8 Maret Surabaya direbut Jepang. Pada 9 Maret 1942, Gubernur Jenderal Jonkheer Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan Letnan Jenderal Hein ter Poorten, Panglima Tertinggi Tentara Hindia-Belanda, datang ke Kalijati bertemu Letnan Jenderal Imamura.

LetJen ter Poorten, mewakili Gubernur Jenderal, menanda-tangani pernyataan menyerah tanpa syarat. Hindia Belanda resmi dibawah kekuasaan Jepang. Tahun 1944 angin mulai berbalik, sampai Jepang menyerah September 1945. Tugas melucuti pasukan Jepang di Jawa dan Sumatera dilakukan Divisi ke-5, ke-23 dan ke-26 India dan Brigade Payung ke-5 Inggris. Pulau lainnya ditangani Divisi ke-7 dan ke-9 tentara Australia. Tugas yang semula dikira ringan itu berubah menjadi bencana, dimulai tewasnya Mallaby di Surabaya itu. Kini hampir semua dari mereka yang terlibat pertempuran di berbagai tempat di Indonesia, termasuk mereka yang saat itu berhasil lolos dari maut, telah pula menyusul ke alam baka.

Di kubur mereka temukan kedamaian. Di kubur tidak dibicarakan keburukan dan permusuhan. Semua pahlawan. Nasib yang membuat mereka di posisi berlawanan. Makam Perang Jakarta bisa diakses dari Jl Dr Saharjo dan Jl Casablanca. Dari Jl Saharjo masuk lewat Jl Menteng Pulo, dan dari Cassablanca masuk lewat Jl Menteng Pulo 2, setelah Wisma Staco.

Makam Perang Jakarta

Alamat : Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Lokasi GPS : -6.222212, 106.840222, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : 08.00 – 17.00, hari Senin sampai Jumat. Namun kunjungan saya ini dilakukan pada hari Sabtu. Harga tiket masuk : gratis. Rujukan : Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Selatan. Galeri (37 foto) Makam Perang Jakarta : 1.Punjab, 2.Salib, 3.Ujung, 4.Prasasti, 5.Regiment, 6.Menara, 7.Peringatan, 8.Pioneer, 9.Tanduk … s/d 37.Peristirahatan.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jakarta » Jakarta Selatan » Makam Perang Jakarta

By Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email for newly published posts. Updated on 22 Juli 2017. Tag:

Tulisan lainnya : Pemandian Alam Kali Petuk Rahtawu Kudus | Hotel di Kendari | Kantor Pos Simpang Surabaya | Hotel di Demak | Masjid Nurul Amin Pagaruyung Tanah Datar | Cagar Alam Geologi Karangsambung Kebumen | UpPrev WP Plugin | Wisata Hening Situ Cangkuang, Garut | Istana Bogor | Makam Keramat Srati Kebumen |