Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas Sokaraja

Sudah sangat lama saya tidak datang berziarah ke makam mBah Ilyas, sebutan yang biasa kami pakai untuk menyebut Makam Kyai Haji RM Muhammad Ilyas yang ada di Sokaraja Lor, sebuah kota kecamatan kecil yang terkenal dengan makanan getuk goreng Sokaraja dan Soto Sokaraja, soto ayam dengan kuah berbumbu kacang yang nikmat.

Saat kecil saya sering berziarah ke Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas dengan mendiang ibu dan lalu ke rumah tua antik di sebelahnya yang dihuni Kyai Rifangi, abang sepupu ibu, juga cucu dan penerus mBah Ilyas sebagai mursyid Tarekat Naqsabandiah Kholidiyah di Sokaraja Lor. Saya tak pernah mengenal secara pribadi mBah Ilyas, karena mbah buyut saya ini wafat pada 1916, jauh sebelum saya lahir.

Sebagai anak kesembilan, saya hanya beruntung bisa mengenal nenek dari pihak ibu, yaitu mBah Duljamil (Abdul Jamil) putri yang menjadi puteri kesayangan mBah Ilyas, atau adik mBah DulMalik (Abdul Malik) Kedung Paruk. Sebelum di Sokaraja ia berdiam di Kedung Paruk, tempat kelahirannya, sebuah pedukuhan di sebelah timur Desa Mersi, Purwokerto. Sejak awal 1880-an, KH Muhammad Ilyas telah menjadi mursyid (guru tarekat) terkemuka. Ia salah satu khalifah wilayah Jawa dari Syekh Sulaiman Zuhdi, guru tarekat Naqsabandiah Kholidiyah di Mekkah yang asal Turki.

makam kyai haji muhammad ilyas sokaraja
Ada kompleks makam kecil di bagian depan Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas. Lokasi makam bisa diakses melewati Jembatan Kali Pelus di Sokaraja lalu belok kiri. Kompleks makam ada di sebelah kanan jalan. Semasa hidupnya Kyai Haji Muhammad Ilyas merupakan tokoh agama yang amat disegani, bahkan sampai di luar daerah Banyumas.

Awalnya mBah Ilyas menyebarkan ajaran tarekat dari langgarnya di Kedungparuk, namun sambutan luas masyarakat membuat pemerintah Belanda gerah, sehingga mBah Ilyas ditahan pada 1888 dengan tuduhan melawan pemerintah. Di penjara Belanda dekat Alun-alun Banyumas, pada malam hari terlihat sinar terang keluar dari sel dimana mBah Ilyas ditahan.

Syekh Abubakar, Penghulu Landraad Banyumas, pun datang ke penjara setelah mendapat laporan. Mengetahui bahwa yang dipenjara bukan orang biasa, akhirnya mBah Ilyas dikeluarkan dari penjara oleh Syekh Abubakar dengan syarat ia bersedia menjadi menantunya. Makam mBah Syekh Abubakar ada persis di depan makam mBah Ilyas.

makam kyai haji muhammad ilyas sokaraja
Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas terlihat sederhana. Tembok hijau di belakangnya adalah bagian belakang masjid. Poster di belakang makam berbunyi “Kyai Haji Raden Mas Muhammad Ilyas Bani P. Diponegoro” berdasar layang kakancingan angka 11553 yang dikeluarkan pada 18 September 1960 M oleh Pangageng Tepas Dwarapura Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

mBah Ilyas adalah putera KH Raden Mas Ali Dipawangsa yang kuburnya ada di Kedung Paruk. Kakeknya adalah Kanjeng Pangeran Haryo Diponegoro II (Raden Mas Muhammad Ngarip), putera pertama Pangeran Diponegoro (Ontowiryo, Sultan Abdul Hamid). Sedangkan Makam Pangeran Diponegoro adalah putera Sultan Hamengku Buwono III.

Tengara di bagian depan atas berbunyi “Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas, Guru Mursyid, Toriqoh Annaqsyabandiyyah Al Mujaddadiyyah Al Kholidiyyah, Wafat 29 Shafar 1334 H”, atau Senin 4 Januari 1916. Mursyid adalah guru pembimbing tarekat yang telah mendapat ijin dan ijazah dari guru mursyid di atasnya dan bersambung sampai Nabi Muhammad SAW.

Selain tawajuhan, pengikut tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah juga melakukan Khalwat dan Suluk. Dalam tawajuhan seorang mursyid melakukan kontak dengan murid-muridnya sewaktu melakukan wirid, seperti menyentuh kening murid dengan surban, agar murid mendapat luberan barokah serta ilmu darinya serta dari para guru-guru di atasnya.

Khalwat adalah melatih jiwa dan hati untuk selalu ingat kepada Allah dan tetap menghambakan diri kepada-Nya. Sedangkan suluk atau mondok adalah tinggal selama beberapa waktu di pondok mursyid, misalnya selama bulan puasa, untuk melakukan wirid dan meningkatkan ibadah secara intensif. Berbeda dengan suluk, khalwat bisa dilakukan di rumah sendiri.

makam kyai haji muhammad ilyas sokaraja
Dua makam di luar cungkup Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas adalah Makam KH Afandi, salah satu putera Kyai Ilyas yang menjadi penerusnya, wafat pada 12 Besar 1348 H (Kamis 10 Mei 1930). Di sebelahnya adalah Makam KHR Achmad Rifangi, putera KH Afandi, yang wafat pada 10 Jumadil Awal 1388 H (Sabtu 4 Agustus 1968).

Setelah bebas dari tahanan Belanda, mBah Ilyas kemudian pindah dan selanjutnya menetap di Sokaraja Lor serta meneruskan kegiatannya dalam mengembangkan ajaran tarekatnya. Alasannya adalah karena ia hanya diijinkan mengajar tarekat dari masjid wakaf mertuanya, yaitu Penghulu Landraat Syekh Abubakar, di Sokaraja Lor ini.

Ada kisah menarik tentang mBah Ilyas. Pada hari ia meninggal dan dikubur di depan pengimaman masjid. Pada saat maghrib tiba, mBah DulJamil putri melihat munculnya berkas sinar terang dari makam mBah Ilyas dan tampak jasadnya melayang ke atas. Para santri yang telah selesai shalat maghrib juga ikut melihat peristiwa langka itu.

Mas Rumani menceritakan bahwa ada habib dari Jawa Timur datang ke makam mBah Ilyas ditemani mBah Dulmalik. Namun pagar makam digemboka. Habib pun membaca qasidah ciptaan Habib Abdullah bin Husein “Salamullah ya saddah minar-rahman yaghsyakum, ‘ibadallah ji’nakum qashadnakum tahalbnakum, dst”. Tiba-tiba “klik”, kunci gembok makam terbuka sendiri.

Beberapa waktu kemudian habib itu datang lagi berziarah, namun makam dibongkar atas perintah mBah Afandi, konon untuk menghindari pengkultusan terhadap ayahnya. Melihat makam sudah berubah, Habib pun berucap “Wah, mBah Ilyas sudah tidak ada lagi di sini”. Kabarnya setelah itu mBah Afandi sempat jatuh sakit karena menyesal.

Ketika tinggal di Makkah, mBah Ilyas hidup prihatin. Ia selalu masak nasi sendiri yang dengan sengaja dicampuri pasir olehnya. Sewaktu hendak makan nasi, pasir itu satu per satu diambilnya dari sela-sela nasi yang ada di piringnya, baru kemudian ia makan. Hal itu dilakukannya untuk melatih kesabaran dan agar tidak rakus terhadap makanan.

Mas Rumani juga bercerita bahwa saat berguru di Makkah, angsa anak kesayangan sang guru jatuh ke dalam jumbleng. Gurunya bingung, murid-murid lain pun bingung tak tahu harus berbuat apa. Adalah mBah Ilyas yang kemudian turun ke jumbleng untuk mengambil angsa itu. Sampai di atas, masih berlumuran tinja, mBah Ilyas dipeluk oleh gurunya.

Ketika pulang dari Makkah, mBah Ilyas tiba di Jawa bersama tiga orang teman seperguruan lainnya, salah satunya adalah mBah Sholeh Darat, Semarang. Namun yang diberi ijazah oleh Syekh Sulaiman Zuhdi (silsilah tarekat ke-32) untuk mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah hanyalah mBah Ilyas dan satu orang lagi.

Menurut cerita mBah DulJamil putri, mBah Ilyas sering kedatangan tamu dari Arab dan Maroko. Ketika mBah DulJamil putri tengah memijat kaki mBah Ilyas, mBah Ilya tiba-tiba berbicara sendiri dalam bahasa Arab. Karena takut, mBah Duljamil putri pun lari. Saat dipanggil, mBah Ilyas mengatakan bahwa tadi yang datang adalah Malaikat Jibril…

Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas Sokaraja Banyumas

Alamat : Sokaraja Lor, Sokaraja, Banyumas. Lokasi GPS : -7.455942, 109.297764, Waze. Galeri : 9 foto. Rujukan : Peta Wisata Banyumas . Tempat Wisata di Banyumas . Hotel di Purwokerto. Galeri (9 foto) Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas Sokaraja : 1.Kompleks makam, 2.Makam KH Muhammad Ilyas, 3.Makam KH Afandi, 4.Pengurus Makam, 5.Balai Pengobatan 6.Masjid 7.Rumah Tua 8.Keramik Asli 9.Gerbang.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jawa Tengah » Banyumas » Makam Kyai Haji Muhammad Ilyas Sokaraja

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email. Diperbaiki 16 Juli 2017. Tag: ,