Kramat Buyut Trusmi Cirebon

Home » Jawa Barat » Cirebon Kabupaten » Kramat Buyut Trusmi Cirebon
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Kramat Buyut Trusmi Cirebon merupakan kompleks kubur di Plered, Cirebon, tak jauh dari Toko Batik Trusmi Cirebon Jaya Abadi. Jika tak membawa kendaraan, ada banyak becak yang bisa mengantar pengunjung ke Kramat Buyut Trusmi, sebelum atau setelah belanja batik.

Kramat Buyut Trusmi Cirebon

Alamat: Kampung Dalem, Desa Trusmi Wetan, Kecamatan Weru, Cirebon Kabupaten. Lokasi GPS: -6.70048, 108.51289, Waze. Jam buka sepanjang hari dan malam. Harga tiket masuk gratis, sumbangan diharapkan. Rujukan: Tempat Wisata di Cirebon, Peta Wisata Cirebon, Hotel di Cirebon.
Galeri (22 foto): 1.Gapura Masuk, 2.Gapura rendah, 3.Cungkup makam, 4.Kolam tua, 5.Gapura luar, 6.Candi bentar, 7.Tembok kelir, 8.Bedug tua, 9.Mihrab … s/d 22. Candi Bentar.

Saat ke Kramat Buyut Trusmi, di sana berlangsung Memayu, acara adat 4-tahunan dimana warga bergotong royong mengganti sirap bangunan di kompleks yang luasnya 3600 m2. Ki Buyut adalah sesepuh Trusmi dan sangat berjasa dalam mengembangkan tradisi kerajinan batik.

Gerbang masuk pertama ke kompleks Kramat Buyut Trusmi Cirebon berupa gapura terbuat dari susunan bata merah bakar. Tidak terlihat ornamen keramik pada dinding gapura ini. Lapangan rumput di sebelah kiri adalah tempat dimana kami memarkir kendaraan agar lebih dekat berjalan ke lokasi. Tempat parkir yang lebih rapi berada di seberang pintu gerbang ini.

kramat buyut trusmi cirebon
Tak lama kemudian kami sampai di gapura candi bentar ketiga, setelah melewati candi bentar kedua, yang dinaungi penutup yang tampak di sebelah kanan sebagai pintu masuk ke dalam kompleks Kramat Buyut Trusmi Cirebon. Kompleks itu dikelilingi tembok batu bata merah setinggi orang dewasa. Beberapa orang tengah bekerja di atas atap cungkup gapura.

Kami pun kemudian dipertemukan dengan Haji Ahmad, pemimpin situs bersejarah yang berusia lewat tengah abad untuk meminta ijin masuk ke dalam kompleks. Saat itu aa tengah duduk di sebuah balai di sebelah kiri pintu masuk. Setelah berbincang beberapa saat, kami pun diperbolehkan masuk untuk memotret, kecuali cungkup makam Ki Buyut Trusmi.

Sebuah susunan bata merah setengah lingkaran memisahkan bagian depan dengan bagian tengah kompleks. Kesibukan sangat terasa, baik yang tengah mengganti sirap, maupun yang memasak. Sebuah Pohon Kopi Anjing tampak di bagian belakang kompleks, yang mengingatkan saya pada pohon sejenis di sebelah kiri rumah Embah di kampung.

kramat buyut trusmi cirebon
Pandangan pada sebuah gapura rendah setinggi pinggang orang dewasa di kompleks Kramat Buyut Trusmi Cirebon. Untuk melewatinya untuk berziarah pada kubur yang ada di sana orang harus membungkuk atau bahkan merangkak, sebuah cara praktis untuk memaksa para pengunjung memberi hormat pada penghuni kubur yang akan dikunjungi.

Jika datang berkunjung ke tempat wisata ini, merangkaklah melewati gapura ini dan masuk ke dalam area kubur di sana karena terdapat sebuah tengara menarik yang saya tidak sempat. Melangkah lebih ke dalam, ada masjid yang juga tengah diperbaik. Di dalam masjid ada bedug memanjang cukup besar yang diletakkan menggantung, diikat oleh sepasang tambang.

Beberapa baris tulisan dalam huruf Arab terlihat pada dinding di atas daun pintu masuk ke dalam ruang utama masjid. Tanggal yang tertera, 30-7-1969, tampaknya adalah tanggal dilakukannya kegiatan perbaikan masjid. Masuk ke ruang utama masjid yang tak begitu besar terlihat mimbar dan soko guru berukir suluran daun dan bunga.

kramat buyut trusmi cirebon
Pandangan dari dalam cungkup Makam Ki Buyut Trusmi Cirebon, melewati pintu masuk ke arah luar, mengikuti permintaan Haji Ahmad agar tidak memotret pusara di belakang saya yang saya kira merupakan Makam Ki Buyut. Di sana ada kayu penyangga kusen dengan ukiran berangka tahun 1957, yang sepertinya menunjukkan salah satu tahun perbaikan di kompleks ini.

Berjalan mengikuti kemana arah langkah kaki, saya kemudian bertemu dengan sebuah bangunan cungkup yang disebut sebagai Witana. Konon Witana (awit ana, mulai ada) adalah bangunan tempat sholat yang pertama kali dibuat oleh Ki Buyut ketika baru saja datang ke tempat ini, sebelum dibangunnya masjid yang permanen.

kramat buyut trusmi cirebon
Di sebelah bangunan Witana terdapat undakan untuk masuk ke dalam sebuah kolam tua. Sayang sekali kolam ini airnya hijau keruh, sehingga tidak begitu sedap dipandang mata. Barangkali karena tidak ada buangan air yang mengalir keluar dari kolam, dan mungkin juga pasokan air bersih ke kolam pun tidak secara teratur dilakukan.

Jika Memayu, yaitu penggantian sirap separuh bangunan di kompleks ini dilakukan setiap empat tahun sekali, maka penggantian atap Welit dari anyaman daun kelapa, dilakukan setiap tahun pada 25 Maulud. Memayu juga dimaksudkan untuk memperindah sifat-sifat manusia dari sifat lama yang buruk ke sifat baru yang bagus.

Pada acara penggantian sirap, sumbangan mengalir dari warga, baik berupa tenaga, bahan makanan, jajanan dan minuman, maupun uang. Maka jadilah sebuah pesta rakyat. Sebelum pembukaan sirap dilakukan, malamnya ada acara tahlilan disertai Shalawat Brai (kesenian Bayalangu) yang diiring alat musik gembyung (semacam rebana), kendang, dan kecrek.

Setelah itu setiap malam sampai selesainya penggantian sirap, Kramat Buyut Trusmi Cirebon diramaikan acara hiburan, seperti terbangan, layar tancap, wayang kulit, musik dangdut, dan sandiwara. Ada pula arak-arakan kirab 14 tombak pusaka Ki Buyut serta hasil bumi, dan ditampilkan tarian Babak Yoso dan Tari Angun yang sudah jarang dibawakan.

Ki Buyut adalah putra pertama Prabu Siliwangi. Sebelumnya ia bernama Pangeran Walangsungsang, atau Pangeran Cakrabuana, pendiri Kerajaan Cirebon. Setelah Ki Buyut Trusmi menyerahkan keraton yang sekarang Keraton Kasepuhan ke Sunan Gunung Jati, Ki Buyut pindah ke daerah Trusmi ini pada tahun 1470, dan membangun kompleks ini pada tahun 1481.

Ki Buyut mempunyai dua adik, yaitu Rara Santang (Ibunda Sunan Gunung Jati), dan Pangeran Rajasengara. Menurut ki Haji Ahmad, setelah ditinggal puteri Cina, Sunan Gunung Jati kawin lagi namun tak ada yang cocok. Barulah cocok setelah menikah dengan Pakungwati, anak Ki Buyut. Karena itu Keraton Kesultanan Cirebon disebut juga Keraton Pakungwati.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 28 Mei 2017.

Lalu «
Baru » »