Makam Cepokosari Pleret Bantul Jogja

Keberadaan Makam Cepokosari di daerah Pleret, Bantul, Yogyakarta, saya ketahui setelah berbincang dengan seorang wartawan lokal yang bertemu di parkiran Makam Gunung Kelir. Pria ini rupanya juga sedang berkeliling ke beberapa makam di Bantul, dan belakangan bertemu lagi di Makam Giriloyo, mungkin tengah mengumpulkan bahan tulisan.

Adalah Makam Pangeran Cakraningrat yang disebut oleh si mas itu. Sayangnya nama itu tidak dikenali penduduk ketika kami berada di sekitar tempat yang ia sebut. Berdasar informasi seorang warga akhirnya kami ke kompleks Makam Cepokosari. Alih-alih menemukan makam sang pangeran, saya justru menemukan Makam Ki Ageng Suryomentaram. Di bagian depan kompleks Makam Cepokosari terdapat masjid khas Jawa. Pada tembok depan menempel tulisan Jawa. Tidak terlihat istimewa, namun ternyata Masjid At Taqorrub ini adalah peninggalan Sultan Agung yang masih tersisa.

Seperti diketahui Sultan Agung memindahkan Keraton Mataram dari Kotagede ke Kerto di daerah Pleret. Setelah menunggu di samping masjid dimana terdapat lingga yang sangat menarik perhatian, sesaat kemudian muncul seorang pria bernama Iskandar yang menjadi kuncen Makam Cepokosari. Bersamanya kami berjalan kaki masuk ke dalam kompleks makam yang luas dan asri. Nama Pangeran Cakraningrat juga tidak dikenal oleh Iskandar.

makam cepokosari pleret
Lingga ini diletakkan di atas tugu dalam kondisi yang sangat baik dan indah, dengan ukiran aksara Jawa di badannya. Lokasi Lingga berada di sebelah kanan masjid, pada jalur lintasan menuju ke area kompleks Makam Cepokosari Pleret. Pelestarian lingga di samping masjid ini manjadi sebuah simbol penghormatan pada warisan budaya Hindu.

Makam Cepokosari Pleret terbagi menjadi dua bagian oleh jalan di tengahnya. Keadaan makam cukup terawat, meskipun di beberapa tempat perlu perawatan. Di ujung kompleks terdapat cungkup yang terpisah dari makam lain. Setelah Iskandar membuka pintu cungkup, barulah saya bisa melihat jasad siapa yang disemayamkan di dalamnya.

Pada nisan makam di cungkup Makam Cepokosari Pleret ini tertulis “K.K.A. Surjomentaram, Seda Ahad Pon, 11 Sawal Djemawal 1893 (18 Maret 1962)”, dan “Kasekar Rebo Wage, 10 Besar Dal 1903 (25 Djanuari 1972).” Di sebelahnya adalah Makam BRAY Suryomentaram, istri keduanya yang dinikahinya pada 1925, 10 tahun setelah istri pertamanya wafat.

Ki Ageng Suryomentaram lahir dengan nama BRM Kudiarmadji pada 20 Mei 1892 sebagai putera ke-55 dari 79 putera-puteri Hamengku Buwono VII. Ibundanya BRA (Bendara Raden Ayu) Retno Mandoyo, putri Patih Danurejo VI. Ternyata Patih Danurejo VI inilah yang kemudian bernama Pangeran Cakraningrat, nama yang disebut si mas itu.

makam cepokosari pleret
Cungkup Makam Ki Ageng Suryomentaram. Ki Ageng pertama saya lihat di Museum Peta Bogor. Uniknya, Soekarno, Gatot Mangkupradja, Ki Hajar Dewantara, dan Hatta memakai jas lengkap, Mas Mansyur berpakain santri, maka Ki Ageng memakai sandal, celana cingkrang, bertelanjang dada dengan selembar kain batik membelit leher.

BRM Kudiarmadji diangkat menjadi pangeran dengan gelar BPH (Bendara Pangeran Harya) Suryomentaram saat berusia 18 tahun. Namun kehidupan keraton yang datar membuatnya tidak betah dan merasa tertekan. Derita pun susul menyusul menimpa. Sang kakek yang memanjakannya dicopot jabatannya oleh ayahnya, dan tidak lama kemudian wafat.

Permohonan BPH Suryomentaram agar kakeknya dimakamkan di Makam Raja-Raja Mataram Imogiri ditolak oleh ayahnya dengan kata-kata yang menyakitkan. Ibundanya diceraikan oleh ayahnya, dikeluarkan dari lingkungan keraton. Belum cukup derita yang ditanggungnya, istri tercintanya mati meninggalkan putranya yang masih berumur 40 hari.

Ketika kekecewaan dan ketidakpuasannya memuncak, ia memohon kepada sang ayah untuk mencopot gelar pangerannya, tetapi ditolak. Permohonannya untuk naik haji juga tidak dikabulkan. Akhirnya ia diam-diam minggat dari kraton, tinggal di Cilacap, menyambung hidup sebagai pedagang kain batik dan setagen, dan berganti nama Notodongso.

Mengetahui puteranya kabur, HB VII memerintahkan KRT Wiryodirjo dan R.L. Mangkudigdoyo untuk mencari dan membawanya kembali ke kraton. BPH Suryomentaram ditemukan di Kroya saat memborong pekerjaan menggali sumur. Kembali ke keraton, kegelisahan terus mengusiknya. Untuk melepaskan diri dari ikatan harta benda maka semua isi rumah dijualnya.

Hasil penjualan mobil diberikan ke supir, hasil penjualan kuda dihibahkan ke gamel (perawat kandang kuda), dan pakaiannya dibagi-bagikannya kepada para pembantu. Ia sering keluyuran, bertirakat di tempat-tempat keramat, berguru pada kiai-kiai terkenal, sempat pula belajar agama Kristen dan theosofi, namun tidak menghilangkan kegelisahannya.

Ketika ayahnya meninggal dan digantikan HB VIII, permohonan pencabutan gelar kepangeranannya dikabulkan. Suryomentaram lalu tinggal di Desa Bringin, Salatiga, menjadi petani, kadang dianggap dukun dan dimintai berkah, dan dikenal sebagai Ki Gede Bringin. Nama Ki Ageng Suryomentaram baru kemudian diberikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Waktu itu keduanya aktif terlibat dalam Sarasehan Selasa Kliwon, membahas isu-isu sosial politik tanah air yang menjadi cikal bakal Perguruan Taman Siswa. Ki Ageng Suryomentaram mendapatkan pencerahan pada sebuah malam di tahun 1927. Nyi Ageng Suryomentaram yang lelap tidur dibangunkannya, dan dimuntahkanlah kegembiraannya.

makam cepokosari pleret
Hiasan pada puncak limasan Masjid At Taqorrub peninggalan Sultan Agung yang berada di depan kompleks Makam Cepokosari Pleret. Keraton Pleret diduduki Trunojoyo semasa Amangkurat I, dan sempat direbut oleh Pangeran Puger, sebelum dihancurkan oleh Amangkurat II yang didukung oleh Belanda. Amangkurat II kemudian membangun Keraton Kartosuro.

Di sebelah kanan cungkup makam Ki Ageng Suryomentaram di Makam Cepokosari Pleret terdapat cungkup makam BRA Retno Mandoyo, ibundanya. Sedangkan di bagian depan kompleks Makam Cepokosari Pleret, di belakang masjid, terdapat makam Raden Tumenggung Nitinegoro I dan II. Raden Tumenggung Nitinegoro adalah Bupati Bantul yang ketiga.

Iskandar menyebutkan bahwa di tempat ini juga terdapat makam Kyai Kategan yang menjadi pekatik Sultan Agung, namun tidak saya temukan makamnya karena Iskandar sudah pergi. Makam Cepokosari menjadi menarik untuk dikunjungi dengan adanya masjid peninggalan Sultan Agung, Lingga yang indah, serta Makam Ki Ageng Suryomentaram.

Yang dikatakan Ki Ageng adalah “Bu, sudah ketemu yang kucari. Aku tidak bisa mati! Ternyata yang merasa belum pernah bertemu orang, yang merasa kecewa dan tidak puas selama ini, adalah orang juga, wujudnya si Suryomentaram. Diperintah kecewa, dimarahi kecewa, disembah kecewa, dimintai berkah kecewa, dianggap dukun kecewa, dianggap sakit ingatan kecewa,”

“… menjadi pangeran kecewa, menjadi pedagang kecewa, menjadi petani kecewa, itulah orang yang namanya Suryomentaram, tukang kecewa, tukang tidak puas, tukang tidak kerasan, tukang bingung. Sekarang sudah ketahuan. Aku sudah dapat dan selalu bertemu orang, namanya si Suryomentaram, lalu mau apa lagi? Sekarang tinggal diawasi dan dijajagi.”

Pada 1928 hasil “mengawasi dan menjajagi”-nya itu ditulis dalam bentuk tembang dan dijadikan buku berjudul “Uran-uran Beja”. Beberapa hari lalu saya membeli buku Muhaji Fikriono, berjudul “Puncak Makrifat Jawa: Pengembaraan Batin Ki Ageng Suryomentaram”. Silahkan beli bukunya, dan juga kunjungi situs Naskah-naskah Ki Ageng Suryomentaram.

Makam Cepokosari Pleret Yogyakarta

Alamat : Desa Kanggotan, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Lokasi GPS : -7.87028, 110.39599, Waze. Galeri : 15 foto. Rujukan : Tempat Wisata di Bantul lainnya, Peta Wisata Bantul, Hotel di Yogyakarta. Galeri 15 foto Makam Cepokosari Pleret : 4.Huruf Jawa 5.Ki Ageng Suryomentaram 6.BRAy Suryomentaram 7.Makam Cepokosari 8.BRA Retno Mandoyo 9.Teras Cungkup 10.Jalan Tengah 11.Tak Bernama 12.Nitinegoro 13.Kuali 14.Kategan 15.Jawa

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Yogyakarta » Bantul » Makam Cepokosari Pleret Bantul Jogja
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 17 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap