Makam Aroeng Binang Kebejen Kebumen

Home » Jawa Tengah » Kebumen » Makam Aroeng Binang Kebejen Kebumen
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Makam Aroeng Binang Kebejen Kebumen adalah kompleks makam keluarga Aroeng Binang dan keturunannya yang ada di Dusun Kebejen, Desa Kuwarisan, Kecamatan Kutowinangun, Kabupaten Kebumen. Lokasi Makam Aroeng Binang tidak jauh dari Stasiun Kutowinangun, sekitar 250 m dari rel perlintasan sebidang dekat stasiun.

Setelah lewat perlintasan rel kereta api dekat Stasiun Kutowinangun, Bambang belok kiri menyusur jalan sempit sejauh 175 meter sejajar selokan yang airnya kering, dan lalu belok kanan. Gerbang Makam Aroeng Binang berwarna hijau dengan ornamen kuning terlihat di ujung jalan.

Sebuah bangunan baru sedang dibangun di sisi sebelah kiri luar gerbang Makam Aroeng Binang. Belakangan saya ketahui bahwa bangunan yang dibuat untuk menaungi Sendang Beji atau Sendang Arum itu konon dibiayai oleh seseorang yang merasa keinginannya terkabul setelah berkunjung ke sendang itu. Aroma mistik memang masih ada di tempat ini.

Nama muda Aroeng Binang I adalah Joko Sangkrib, dengan nama samaran Kenthol Surawijaya ketika berkelana. Nama Kyai Hanggawangsa ia dapatkan ketika diwisuda menjadi Mantri Gladhak di Surakarta, dan Ngarsa Dalem Sang Prabu Sunan Pakubuwono III mengangkatnya menjadi Bupati Nayaka dengan gelar Raden Tumenggung Aroeng Binang pada 1749.

makam aroeng binang kebejen kebumen

Pagar pintu gerbang Makam Aroeng Binang Kebejen Kebumen dengan tengara Benda Cagar Budaya yang dibuat semasa Rustriningsih. Pada badan pilar pagar sebelah kanan terdapat tengara makam yang dibuat oleh Paguyuban Trah Aroeng Binang (PATRAB) di tahun 1990. Pilar di kiri kanan itu bagian atasnya dibuat susun tiga dengan puncaknya berbentuk kuncup bunga.

Pintu gerbang Makam Aroeng Binang tidak terkunci, sangat memudahkan bagi keluarga dan pengunjung yang ingin berziarah. Saya pun melangkahkan kaki masuk ke dalam kompleks makam ini yang bagian depannya terdapat area cukup luas dan disemen. Di ujung sebelah kiri terdapat bangunan kecil tempat peziarah beristirahat sementara.

Ki Taryono, kuncen Makam Aroeng Binang Kebejen yang belakangan datang menemani, mengatakan bahwa Rustriningsih ketika menjadi bupati juga memugar cungkup Makam Aroeng Binang II karena merasa dibantu. Di kompleks Makam Aroeng Binang ini, selain ada Makam Aroeng Binang I, juga terdapat Makam Aroeng Binang II hingga Aroeng Binang VIII.

Menurut penuturannya, Ki Taryono adalah sepupu dari Ki Tukiman, yang adalah kuncen Makam Aroeng Binang sebelumnya. Kuncen makam sebelumnya lagi adalah Mad Rusman, ayah Ki Tukiman. Dahulu ada empat orang yang mengurus Makam Aroeng Binang, namun sekarang tinggal Ki Taryono seorang diri yang tersisa. Karenanya perawatan menjadi terkendala.

makam aroeng binang kebejen kebumen

Halaman depan Makam Aroeng Binang Kebejen Kebumen, dan di ujung sana adalah cungkup utama dimana terdapat kubur Aroeng Binang I, serta ruangan penyimpanan pusaka. Pada 2011 terjadi pencurian pusaka, yaitu 14 keris, 2 pedang, dan 1 buah tombak. Tiga pusaka tidak dibawa oleh pencuri, yaitu Tombak Kiai Sengkelat, Tombak Kiai Regol dan Cemeti Naga Geni.

Pada 2012 hanya 6 pusaka yang bisa ditemukan kembali, yaitu 6 keris dan 1 buah pedang. Setelah berbincang sejenak Ki Taryono membukakan pintu cungkup, dan saya pun masuk ke dalam ruangan untuk berziarah ke kubur leluhur dari pihak ayah saya itu. Sepanjang ingatan yang mulai pendek, ini kali kedua saya datang ke tempat ini.

Dari silsilah mendiang ayah, eyang Aroeng Binang I adalah putera ke-8 Kyai Anggajoeda, Demang Kutowinangun. Kyai Anggajoeda anak ke-2 Kyai Ragil, Kyai Ragil anak bungsu Kyai Bekel, Lurah Lundong Kebumen. Kyai Bekel anak sulung Pangeran Bumidirjo, putera ke-5 Panembahan Sedakrapyak, raja kedua Kesultanan Mataram. Panembahan Sedakrapyak adalah anak sulung Panembahan Senopati.

Anak ke-9 Aroeng Binang I adalah R.B. Wongsodikromo, Penewu Surakarta. Anak ke-10 R.B. Wongsodikromo adalah R.B. Soemodiwirjo, dan anak ke-4 R.B. Soemodiwirjo adalah R. Hoedawikarta, Penatus Masaran, Banjarnegara. Anak ke-5 R. Hoedawikarta adalah R. Soemantri, mendiang ayah saya yang pensiun sebagai Wedana Jatinom, Klaten.

Ketigabelas putera-puteri R. Hoedawikarta adalah R. Sudjana (Temanggung), R. Sardjono (Pakde Klerk, Purwonegoro, tidak berputra), R. Muhammad (tak menikah, paling disayang eyang Hoedawikarta), R. Sudibyo (Batang), R. Soemantri (Mersi, Purwokerto), Rr. Siti Wuryani (Bulik Toha, Banjarnegara), Rr. Siti Fatimah (Bulik Leman, Banyumas), Rr. Siti Asiyah (Bulik Warjo, Kranji, Purwokerto), Siti Amirin (Bulik Musni), R. Sutoyo (Pekalongan), R. Muslih (Pekalongan, tak berputra), Rr. Siti Chotijah (Bulik Tijah, Krucil), dan R. Acmad Mustofa (Semarang).

makam aroeng binang kebejen kebumen

Makam eyang Aroeng Binang I kakung dan putri terletak bersebelahan di ujung tengah ruangan, ditutupi kain kelambu. Pusaranya terlihat sudah agak lama tak dibersihkan, dan bunga di atas pusara telah lama mengering, sebagian jatuh dan menjadi kotoran di lantai. Menggantung pada kayu dudukan kelambu yang sederhana adalah lukisan eyang Aroeng Binang I.

Versi PATRAB (Paguyuban Trah Aroeng Binang) yang lembar kopinya saya terima dari Ki Taryono menyebutkan bahwa Pangeran Bumidirjo memiliki 4 putera, yaitu Kyai Gusti (mengabdi di Mataram, RT Wongsodirjo), Kyai Bagus (mengabdi di Mataram menjadi Lurah Wirobumi), Nyai Ageng (menjadi isteri Demang Wawar / Mirit), dan Kyai Bekel.

Masih versi PATRAB, Putra Nyai Ageng bernama Wergonoyo, Demang di Wawar / Mirit. Wergonoyo mempunyai dua anak perempuan. Anak pertama menjadi istri Kyai Hanggayuda, anak kedua diperistri Pangeran Puger dan melahirkan Joko Sangkrib, yang menjadi anak angkat Kyai Hanggayuda. Perkawinan terjadi saat Pangeran Puger beristirahat di Mirit dalam perjalanan ke Mataram untuk menyusun kekuatan melawan Trunojoyo yang menduduki Kraton Plered.

Pangeran Puger kemudian menjadi raja ketiga Kasunanan Kartasura (1704 – 1719) bergelar Sri Susuhunan Pakubuwana I. Jadi menurut versi ini, Joko Sangkrib atau Aroeng Binang I adalah putra Pangeran Puger atau Pakubuwana I.

makam aroeng binang kebejen kebumen

Pandangan lebih dekat pada lukisan foto eyang Aroeng Binang I yang dibuat oleh seorang pelukis supranatural. Ada keterangan lainnya di bawah lukisan namun tak saya catat dan tak terlihat jelas pula pada foto yang saya buat. Wajah beliau digambarkan tengah tersenyum dengan kumis cukup tebal yang dicukur rapi dan sebuah tahi lalat besar di pipi kirinya.

Versi Babad Aroeng Binang, yang disalin dalam huruf latin pada 1937 oleh Ki Mangoensoeparto dan dibuat dalam bentuk cerita (aslinya dalam bentuk syair Pupuh Dandanggula, Megatruh, Asmaradana), menyebutkan bahwa Joko Sangkrib adalah salah satu dari tujuh anak Kyai Hanggayuda. Tak ada nama Pangeran Puger disebut dalam babad ini. Ringkasan Babad Aroeng Binang yang ditulis dalam Bahasa Jawa itu saya tuliskan di bawah ini.

Ketika perjaka, seluruh badan Joko Sangkrib terkena penyakit kulit hingga bernanah dan menyebarkan bau amis, sampai-sampai saudara dan ayah ibunya tidak mau mendekat dan bahkan mengabaikannya. Ia kadang tidur di bawah pohon pisang, di emperan, kadang di kandang, dan kalau makan selalu di belakang sendirian.

Karena tak tahan dengan penyakit dan perlakuan yang diterimanya, Joko Sangkrib akhirnya pergi meninggalkan rumah dan masuk ke dalam hutan, dan di sana ia menemukan sendang yang airnya bening. Kalau malam ia berendam di dalam sendang, kalau siang berjemur. Makan hanya buah dan dedaunan yang ada di hutan. Setelah 40 hari, penyakitnya sembuh sama sekali, tak ada belang satu pun yang tersisa.

Ia lalu pergi ke Bojong Sari untuk berguru pada Kyai Ahmad Yusup yang tersohor tinggi ilmunya. Agar tak dikenali, Joko Sangkrib memakai nama samaran Surawijaya. Karena sikap dan tutur katanya yang baik, Surawijaya diterima menjadi murid oleh Kyai Ahmad Yusuf. Setelah semua ilmu diturunkannya, sang kyai meminta Surawijaya pergi mengabdi ke Kutowinangun.

Di perjalanan ia menyimpang ke Dusun Selang untuk berguru kepada Kyai Jahiman, namun ditolak karena sang kyai melihat bahwa Surawijaya adalah orang yang sudah “berisi”. Surawijaya kemudian tiba di Dusun Prajuritan dan bertapa ngalong di sebuah Pohon Benda yang bawahnya gelap dan wingit.

Nalagati, pemilik pekarangan dimana Pohon Benda itu berada, datang pada hari kesembilan dan menurunkan Surawijaya dari pohon serta merawatnya hingga pulih. Nalagati mendapat petunjuk lewat mimpi bahwa orang yang ada di pohon inilah yang bisa menyembuhkan keluarganya dari penyakit lumpuh.

Benar saja seluruh keluarga Nalagati bisa sembuh. Surawijaya diminta tinggal di sana dan akan dibuatkan rumah, namun ditolak. Ketika pamit pergi, Surawijaya akan diberi bekal yang pantas, namun ditolak dan hanya minta karag, manis jangan, dan kajeng legi.

Berjalan menuruti kaki, Surawijaya sampai di Karangbolong dan masuk ke Gua Menganti untuk menyepi. Samadinya diterima dan ia mendapat pusaka berupa cemeti (Naga Geni). Keluar dari gua, Surawijaya berjalan hingga masuk ke dalam Hutan Moros yang sangat angker, dan berhenti di tengah hutan yang sangat asri, tempat kerajaan para demit.

Malamnya muncul wujud tinggi besar hitam bergigi putih bermuka menakutkan. Mahluk itu nujumnya Kangjeng Ratu Kidul bernama Kumbang Ali-Ali yang berkata bahwa kelak Surawijaya akan menjadi prajurit berpangkat tinggi yang dekat dengan raja. Kumbang Ali-Ali mengajari Surawijaya Aji Pametik. Jika sewaktu-waktu membutuhkan pertolongannya, Surawijaya diminta menancapkan tombak, merapal Aji Pametik, dan ia akan datang membantu dalam wujud kera besar berbulu putih.

Surawijaya melanjutkan perjalanan hingga sampai di Gunung Brecong dan berhenti di sana. Pagi ia berjalan ke Timur, siang ia berjalan ke Barat mengikuti jalannya matahari. Selama 15 hari melakukan itu ia hanya makan karag, dan dilanjut tapa pendhem di pinggir laut. Yang terlihat hanya leher ke atas.

Setelah 20 hari, karena merasa kasihan, Surawijaya dikeluarkan dari dalam pasir oleh Nayadipa dari Dusun Gunaman dan dirawat hingga badannya kuat kembali. Setelah sebulan di sana, Surawijaya melanjutkan perjalan dan sampai ke Bukit Bulupitu, istana Dyah Ayu Dewi Nawangwulan, adik Dewi Nawangningrat ratunya para lelembut Laut Selatan.

Sampai di tengah bukit, Surawijaya menemukan sendang yang airnya bening, dan bersemedi di dekatnya. Setelah beberapa hari, lelembut penghuni bukit pun geger karena hawa yang panas. Dewi Nawangwulan tahu siapa yang membuat gara-gara. Ia pun datang menemui, dan singkat cerita ia diperistri oleh Surawijaya. Saat sang dewi membuka pintu kajiman, wujud bukit Bulupitu berubah menjadi kerajaan yang sangat besar.

Selanjutnya Babad Aroeng Binang menceritakan kembalinya Surawijaya ke Kutowinangun untuk mengembalikan kekuasaan ayahnya yang direbut oleh Prawirawigati, Demang Pakacangan. Sebelum meninggalkan Bulupitu dan memberi nama Soma Gedhe pada sendang tempat ia bersemedi, Surawijaya diberi pusaka Naraca Bala oleh Dewi Nawangwulan. Sesaat setelah keluar dari pintu, istana Bulupitu lenyap dan berubah menjadi bukit lagi.

Atas saran Dewi Nawangwulan agar mendapat perhatian raja, Surawijaya meminta para demang untuk tidak lagi mengirim pajak ke keraton. Utusan dari keraton pun datang untuk menangkapnya. Ketika dihadapkan pada patih dalem keraton, pada saat itu utusan dari Banyumas baru saja melaporkan keadaan genting di Banyumas karena diserang pasukan pemberontak yang dipimpin Damarwulan dan Menakkoncar, dibantu Ki Nurmungalam dan Kertabau, serta didukung pasukan dari Tegal dan Brebes.

Lolos dari hukum dipancung, Surawijaya akhirnya diperintah raja untuk menumpas pemberontakan di Banyumas agar kesalahannya diampuni. Pada hari kedua bertempur menghadapi pemberontak, saat mulai terdesak, Surawijaya turun dari kuda, menancapkan tombak (Kyai Regol), dan merapal Aji Pametik. Tiba-tiba prahara besar datang dengan bunyi yang menakutkan. Kera putih besar muncul berdiri di atas tombak dengan suara menggelegar memenuhi seluruh medan pertempuran, membuat pasukan musuh lari tunggang langgang. Damarwulan dan Menakkoncar berhasil dikalahkan Surawijaya dan dipancung kepalanya untuk dibawa ke Surakarta. Atas jasanya, Surawijaya kemudian diwisuda dengan pangkat mantri gladhag dan bergelar Kyai Hanggawangsa.

Saat menjadi mantri gladhag, Kyai Hanggawangsa diambil mantu oleh Patih Dalem. Karena kesetiaannya pada raja dan hatinya yang bersih, Kyai Hanggawangsa sering diminta membantu mengatasi persoalan ruwet terkait urusan kerajaan dan keprajuritan. Melihat jasanya yang begitu besar, Ngarsa Dalem Sang Prabu (Sunan Pakubuwono III) akhirnya mengangkatnya menjadi Bupati Nayaka dengan gelar Raden Tumenggung Aroeng Binang (tahun 1749).

Saat sudah sepuh ia tidak mau tinggal di Surakarta, dan kembali ke Kutowinangun sampai wafatnya. Kedudukannya digantikan oleh Raden Tumenggung Aroeng Binang II. Ketika Kompeni Belanda akan merubah kota menjadi kabupaten, putra keponakan R.T. Aroeng Binang II yaitu Aroeng Binang III memerintah di Mrinen sebelah timur Kutowinangun. Anak mantu R.T Aroeng Binang II, yaitu Kyai Kalapaking memerintah di Kebumen. Karena rebutan dengan saudara, Kyai Kalapaking mengalah. Kabupaten ia serahkan pada Kyai Tumenggung Aroeng Binang III, dan ia nrimo sebagai patihnya. Kabupaten Mrinen kemudian dibubarkan, digantikan dengan Kebumen hingga sekarang.

Sumber lainnya tentang Aroeng Binang adalah Babad Kebumen yang dikeluarkan oleh Patih Yogyakarta. Sebagian isinya bisa dibaca di sini. Dalam tulisan itu disebutkan bahwa RT Aroeng Binang I bersama Pangeran Wijil dan Tumenggung Yosodipuro I berhasil memindahkan Keraton Kartosura yang hancur saat Geger Pecinan ke Surakarta. Tumenggung Aroeng Binang I juga secara diam-diam melakukan misi rahasia untuk membantu membiayai perjuangan Pangeran Mangkubumi dalam apa yang disebut sebagai “Perang Kendang”. Pangeran Mangkubumi kemudian menjadi raja pertama Kasultanan Yogyakarta bergelar Sri Sultan Hamengkubuwana I.

Lembar PATRAB menyebutkan bahwa dengan Dewi Nawangwulan di Bulupitu Aroeng Binang I (1679 – 1762) berputra Raden Bagus Klantung, Raden Bagus Cemeti, dan Raden Ayu Isbandiah; dengan istri Mas Ajeng Kuning asal Kalegen berputra R. Ayu Pangeran Blitar, R. Hanggadirjo (Kliwon, Kabupaten Sewu Surakarta), dan R. Ayu Kromo Wijoyo (Solo); dengan istri Mas Ajeng Dewi asal Winong berputra R. Ayu Wonoyudo (Tlogo Mirit), R. Wongso Dirjo (R.T. Aroeng Binang II), dan Mas Ajeng Wongsodiwiryo (Prembun); dengan Mas Ajeng Ragil dari Prajuritan berputra R. Wongsodikromo, penewu Sewu Solo yang dimakamkan di cungkup Makam Aroeng Binang II.

Setelah berkeliling di dalam kompleks, bisa dikatakan bahwa sebagian besar makam Aroeng Binang, dari I – VIII, ada dalam keadaan kurang terawat. Ki Taryono mengatakan bahwa PATRAB sangat aktif hanya pada kurun waktu 1985 – 2005. Dan meskipun tampaknya telah ada usaha untuk menghidupkannya kembali dan membuat laman PATRAB, namun belum menyentuh pada perbaikan pengelolaan dan perawatan makam.

Sebelum meninggalkan Makam Aroeng Binang Kebejen Kebumen, saya mampir ke sumur di luar pagar, melongok ke lubangnya dan melihat airnya masih dipenuhi rontokan dedaunan. Begitupun masih ada yang tapa kungkum dan meminum airnya. Meskipun saya tak begitu suka dengan perkumpulan trah-trahan, namun memang perlu upaya bersama untuk perawatan makam ini.

Galeri (34 foto): 1.Cagar . 2.Depan . 3.Aroeng Binang . 4.Lukisan . 5.Tengara . 6.Cungkup . 7.Taryono . 8.Sangkala . 9.Halaman … s/d 34.Sumur.

Makam Aroeng Binang Kebejen Kebumen

Alamat: Dusun Kebejen, Desa Kuwarisan, Kutowinangun, Kebumen. GPS -7.71558, 109.73326, Waze. Jam buka setiap waktu. Harga tiket masuk gratis, sumbangan diharapkan. Peta . Tempat Wisata di Kebumen . Hotel di Kebumen.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: , , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »