Kuburan Batu Lemo Toraja

Home » Sulawesi Selatan » Toraja » Kuburan Batu Lemo Toraja
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Cuaca kurang bersahabat ketika kami melangkah ke jalan besar mencari angkutan jurusan Makale yang melewati Desa Lemo dimana Kubur Batu Lemo berada. Untuk mengantisipasi bila hujan mendadak turun, trash bag pun disiapkan di kantong depan. Ternyata tak perlu menunggu lama, sebuah tawaran tumpangan dari pengendara APV yang hendak pulang ke Pare-pare disambut baik dengan membayar ongkos sejumlah ongkos angkutan umum resmi.

Dari jalan poros Rantepao – Makale, kami melanjutkan berjalan kaki kurang lebih 600m untuk sampai di kawasan wisata Lemo. Jika ingin cepat bisa naik ojek yang mangkal di depan gerbang, sayangnya saat kami turun dari kendaraan hanya menemukan sebuah penanda bahwa di gerbang tersebut ada ojek ;)

Lemo Toraja
Sebuah papan penanda situs Lemo sebagai kawasan cagar budaya yang tampak miring ke kiri tanpa ada niat untuk menegakkannya

Lemo Toraja
Sejauh mata memandang yang tampak adalah bukit sambung menyambung dengan latar depan persawahan warga. Gambar diambil dari atas bukit Lemo (dok. koleksi Chandra Christianti)

Pemandangan khas sebuah perkampungan mulai terasa, sawah di kiri kanan, hutan bambu, satu dua rumah warga serta suara khas binatang penggeret yang bersahutan dari balik pepohonan. Di tengah jalan kami berpapasan dengan seorang pejalan yang membawa backpack di punggung dan sempat mengurungkan langkah saat berpapasan dengan orang gila. Dengan berjalan santai, sekitar 20 menit kemudian kami mencapai pos kecil untuk membayar tiket masuk kawasan wisata.

Gerai-gerai penjual sovenir khas Toraja tampak berjejer di dekat pintu masuk menawarkan beragam buah tangan yang bisa dibeli dengan harga miring. Tentunya dengan menggunakan jurus tawar menawar handal, barang yang diincar bakal bisa didapatkan dengan harga yang asik di dompet ;).

Lemo (bahasa Toraja) artinya jeruk, adalah salah satu destinasi wisata Toraja berupa deretan liang batu yang tedapat di dinding cadas tempat penyimpanan jenazah. Disebut lemo karena bukit yang dipenuhi liang-liang itu sepintas mirip dengan buah jeruk. Kawasan pemakaman ini telah berusia ratusan tahun dan diperkirakan sudah ada sekitar abad ke-16 sebagai tempat pemakaman kepala-kepala suku Toraja.

Lemo Toraja
Tau-tau berjejer di atas bukit dengan liang lahat di sisi atas dan bawahnya

Lemo Toraja
Tau-tau sebagai souvenir khas Toraja yang dipajang di salah satu gerai di kawasan wisata Lemo, Toraja (dok. Chandra Christianti)

Puluhan tau-tau (=patung replika dari yang meninggal) berdiri rapi di depan liang seakan menyapa menyambut para tamu yang berkunjung ke Lemo. Ada makna filosofi yang bisa diambil dari keunikan tau-tau ini, posisi tangan kanan mereka menghadap ke atas sedang yang  kiri ke bawah. Telapak tangan ke atas berarti meminta sedang ke bawah artinya memberkati.

Posisi tangan ini menandakan hubungan timbal balik antara yang hidup dan yang mati. Si mati memerlukan bantuan dari keturunannya yang masih hidup untuk mencapai puya (=nirwana) melalui upacara adat sedang yang hidup berharap berkat yang ditinggalkan si mati tetap menyertai kehidupan anak cucunya.

Lemo Toraja
Tiga buah rumah tongkonan (=rumah adat Toraja) di Lemo, lapuk dimakan usia yang memerlukan perhatian pemerintah dan pengelola kawasan wisata setempat (dok. Chandra Christianti)

Puas memandangi liang dan tau-taunya, kami berjalan mengitari bukit melalui jalan setapak melewati beberapa kuburan lain yang ada di sekitarnya untuk mencapai rumah pengrajin tau-tau. Setelah mengaso sebentar menikmati angin pegunungan sembari bercengkerama dengan warga setempat, kami pun pamit beranjak menuruni bukit. Sama seperti saat datang, kami kembali mengayun langkah dengan riang ke jalan utama melanjutkan perjalanan ke Londa.

Sedikit tips jika ingin menikmati paparan matahari yang jatuh di liang-liang batu, berkunjunglah pada pagi hari saat matahari belum tinggi.

Kuburan Batu Lemo

Alamat: Jl Poros Makale – Rantepao, Kecamatan Makale Utara, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Lokasi GPS: -3.040797, 119.876891 (est.). Angkot Rantepao – Lemo Rp 3.000, Ojek menuju lokasi Rp 5.000. Harga tiket masuk Rp 5.000/orang, wisman Rp 10.000. Hotel di Toraja, dan Tempat Wisata di Toraja

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: ,

Oleh Olyvia Bendon. Tinggal di Jakarta, berasal dari daerah eksotis bernama Toraja, Sulawesi Selatan, dengan panorama alamnya yg elok dan budayanya yg unik. Penikmat keindahan alam ciptaan Tuhan, senang berjalan kaki dan menyesap senyap saat berada di kuburan tua yang sarat cerita. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »