Konser Java Jazz

Adalah sebuah artikel pendek di koran pagi langganan yang memberi saya informasi tentang akan dilangsungkannya Konser Java Jazz. Konser solo ini tak ada hubungannya dengan Java Jazz Festival yang biasanya diselenggarakan setiap bulan Maret di Jakarta.

Grup Java Jazz didirikan pada 1991 oleh musisi Jazz kenamaan Indra Lesmana (pada kibor), dengan Donny Suhendra (gitar), AS Mates (bas), Gilang Ramadhan (drum), dan mendiang Embong Rahardjo (saksofon). Pada 1993 kelompok ini merubah formasinya menjadi Dewa Budjana (gitar), Jeffrey Tahalele (bas), Cendy Luntungan (drum), Ron Reeves (perkusi), mendiang Embong Rahardjo tetap pada saksofon, dan Indra Lesmana pada kibor.

Grup ini meluncurkan album berjudul “Bulan di Atas Asia” sebelum pergi melawat ke luar negeri untuk tampil pada perhelatan the North Sea Jazz Festival di Den Haag, pada 1994. Di tahun 1998, setelah kosong selama empat tahun, Indra Lesmana mengumpulkan kembali formasi pertamanya dan meluncurkan album pada 1999 berjudul Sabda Prana, dan tidur panjang lagi setelah Embong Rahardjo wafat. Formasi saat ini dibuat setelah tidur selama sekitar 11 tahun.

konser java jazz
Pertunjukan diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 10 Desember 2009 malam. Lampu ruangan dibuat gelap pada sekitar jam 8.30 malam, dan foto seluruh pemain muncul satu per satu di layar belakang panggung, diikuti logo Java Jazz berwarna merah di belakangnya.

Ketika lampu panggung menyala, semua pemain telah berada di posisinya, yaitu Indra Lesmana (kibor), Donny Suhendra (gitar elektrik), Dewa Budjana (gitar akustik dan elektrik, banjo), AS Mates (bas elektrik) dan Gilang Ramadhan (drum), dan langsung menggebrak auditorium besar itu dengan komposisi pertama berjudul Drama yang diciptakan Indra Lesmana. Lagu itu diambil dari album sebelumnya dan pertama kali dimainkan pada 1991.

konser java jazz
Konser Java Jazz itu juga menandai peluncuran album terbaru mereka berjudul Joy Joy Joy, diproduksi Inline Music, berisikan dua kepingan kompak yang dibanderol dengan harga Rp.100.000. Judul album diambil dari sebuah komposisi musik yang diciptakan Indra Lesmana pada 1985 dan direkam untuk pertama kalinya di album ini.

Indra Lesmana adalah putera musisi Jazz terkenal mendiang Jack Lesmana, namun ia menciptakan dan membangun ketenaran namanya sendiri di komunitas Jazz melalui kepiawaian dan kreativitas di kibornya. Komposisi Drama mendapatkan tepuk tangan meriah penonton, dan tanpa sepatah kata pun Konser Java Jazz segera melanjutkan dengan lagu kedua berjudul Exit Permit, sebuah komposisi baru yang diciptakan Indra Lesmana bersama Gilang Ramadhan.

konser java jazz
Lembah merupakan komposisi ketiga yang dimainkan, juga diambil dari album sebelumnya, yang mendapat tepuk tangan meriah penonton pula. Konser Java Jazz berhenti sejenak sementara Indra menyapa penonton dan memberi kata sambutan singkat tentang kelompok ini dan album yang mereka buat. Ketika Indra memperkenalkan anggota Java Jazz, semula ia sengaja melewatkan nama Gilang yang membuat penonton tertawa, sebelum akhirnya meringis memamerkan giginya, meminta maaf dan dengan bergurau berkata bahwa ia selalu melupakan namanya meski sudah mendapat ijin dari sang isteri.

Secara berkelakar Indra menjelaskan bahwa semula sangat sulit untuk mendapatkan exit permit dari para isteri mereka untuk berlatih, khususnya ijin Shahnaz bagi Gilang, namun akhirnya mendapatkan setelah melihat keseriusan mereka. Itulah muasal nama dari judul komposisi lagu kedua mereka. Grup Java Jazz juga memainkan The Seeker (Indra Lesmana), I wish (Indra Lesmana), Bulan di Atas Asia (Indra Lesmana) yang menjadi komposisi paling disukai oleh banyak orang, Violation (Indra Lesmana) dan Joy Joy Joy (Indra Lesmana) yang menjadi judul album mereka.Komposisi yang saya paling suka adalah Crystal Sky, diciptakan Indra Lesmana sebagai kenangan pada ayahnya tercinta, mendiang Jack Lesmana.

konser java jazz
Penonton yang memadati Graha Bhakti Budaya TIM, dengan sound engineer terlihat di sebelah kanan merapat pada tembok. Selain kekompakan para pemain, sukses sebuah konser juga sangat bergantung kepada kepiawain sound engineer dalam meramu suara, sehingga bisa menyajikan suara musik yang lembut atau menggelegar sesuai karakter lagunya.

Dewa Budjana, seorang gitaris kondang, bermain dingin dengan gitar akustik dan elektriknya, dan sesekali juga dengan banjo. Pada Border Line, sebuah komposisi baru berani yang diciptakan bareng Indra Lesmana, ia mempertontonkan warna kental jazz rock yang membuatnya berbeda dari semua komposisi lainnya.

Donny Suhendra lahir di Bandung pada 9 November 1960. Ia mengawali karir musiknya pada 1977 sebagai gitaris WE band, lalu pada 1979 bergabung dengan Band G’Brill Rock di Bandung. Pada 1985 ia bergabung KRAKATAU band bersama Dwiki Dharmawan, Budhy Haryono dan Pra Budi Dharma, dan mendapatkan anugerah sebagai yang terbaik dari Yamaha Light Music Contest pada 1985. Ia kemudian membentuk ADEGAN Band pada 1991 bersama Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Hari Moekti, dan Mates, serta merilis 3 album. Donny bergabung sebagai gitaris Java Jazz pada tahun yang sama dan melakukan tur ke beberapa kota di AS. Pada 2006 ia berperan dalam pembuatan album Syaharani & the Queenfireworks dan masih secara aktif melakukan tur bersama kelompok itu. Selama konser Java Jazz, Donny memperlihatkan kelasnya sebagai gitaris jazz berpengalaman.

AS Mates bermain nyaris tanpa cela dan dalam beberapa komposisi memberi warna bergairah dengan cabikan fretless bass-nya pada musik yang mereka bawakan. Penonton juga sangat puas melihat penampilan Gilang Ramadhan. Ia melakukan pukulan solo drum tunggal saat Java Jazz memulai konsernya. Gilang bergabung dengan Indra Lesmana untuk membentuk Nebula, sebuah band fusion, pada tahun 1985. Kemudian bergabung dengan Karimata band pada 1986, Krakatau (1986-1988), Andromeda (1987), Indra Lesmana’s Group (1987), Adegan (1991), Java Jazz (1991-1993), PIG (1996-), Nera (2002), dan menjadi drummer kelompok legendaris rock band God Bless pada 2004. Gilang Ramadhan adalah satu-satunya drummer Indonesia yang mendapat sponsor Zildjian, sebuah perusahaan AS, sejak 1992.

Meskipun penonton sangat apresiatif dan memberi tepuk tangan pada setiap komposisi yang dimainkan, namun penonton Indonesia cenderung tidak begitu eskpresif dalam menikmati musik, yang dalam kadar tertentu mempengaruhi mood para musisi. Konser Java Jazz sendiri jelas merupakan pertunjukan yang sangat bagus, dengan tiket terjual habis seharga Rp.150.000 pada kursi VIP dan Rp.100.000 untuk kursi boks.

Penyelenggara, POS Entertainment, dan Grup Java Jazz telah membuat keputusan yang baik untuk memilih GBB-TIM sebagai tempat pertunjukan, lantaran merupakan salah satu tempat terbaik di Jakarta dari sisi lokasi, lalu lintas, tempat parkir, dan ekspos publik, dengan harga sewa auditorium yang relatif terjangaku. Sambil menunggu pertunjukan mereka berikutnya, mari nikmati komposisi musik mereka pada album “Joy Joy Joy”.

Konser Java Jazz

Alamat : Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Jl Raya Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Lokasi GPS : -6.1892033, 106.8397692, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Peta Wisata Jakarta . Tempat Wisata di Jakarta . Hotel di Jakarta Pusat. Galeri (71 foto) Konser Java Jazz : 1.Pemain, 2.Album, 3.Lembah, 4.Penonton, 5.Java, 6.Asik, 7.Cahaya, 8.Kompak, 9.Ungu … s/d 71.Panggung.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Blog » Seni Budaya » Konser Java Jazz

By Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 29 Juli 2017. Tag: , ,