Kisah Alun-alun Kejaksan Cirebon

Alun-alun Kejaksan Cirebon selalu saya lalui ketika masih bersekolah di SMP Negeri 1 Cirebon. Dari rumah, dengan berbagai pilihan jalan ke SMP Negeri 1 itu, pasti akan tetap melewati jalan di depan Alun-alun Kejaksan. Saat itu, pagar pembatas Alun-alun Kejaksan dengan trotoar jalan masih menggunakan pagar besi.

Alun-alun Kejaksan

Alamat : Sudut antara Jalan RA Kartini dan Jalan Siliwangi. Lokasi GPS : -6.709552, 108.559442, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Galeri : 8 foto. Rujukan : Tempat Wisata di Cirebon, Peta Wisata Cirebon, Hotel di Cirebon.

Pagar itu setinggi 50 cm dari trotoar. Letak gerbang masih sama. Gerbang Alun-alun Kejaksan berpintu geser yang sudah tak bisa bergerak, namun tak ada yang terlihat sebagai gerbang utama. Ruas Jl Siliwangi pada penggalan depan SMP Negeri 1 Cirebon tidak dilalui angkot.

Maka, dengan alternatif angkot apapun yang saya naiki, saya pasti turun di halte Alun-alun Kejaksan. Kemudian harus lanjut berjalan kaki ke sekolah saya itu. Awal November 2012 lalu, diadakan Pesta Rakyat perayaan HUT Cirebon ke 643 (berdiri sejak 1 Muharam 849 Hijrah). Digelar selama 2 pekan, puncaknya tanggal 15 November (1 Muharam, tahun baru Islam). Menurut rencana, Pesta Rakyat perayaan HUT Cirebon di Alun-alun Kejaksan ini akan menjadi tradisi tahunan.

alun-alun kejaksan cirebon
Gerbang utama Alun-alun Kejaksan yang berada di Jalan Siliwangi. Terlihat Masjid At-Taqwa di belakang sana. Rumah saya di kampung Kebon Panggung, Kelurahan Pekalangan (saat itu masuk Kecamatan Cirebon Barat), Kecamatan Pekalipan (sekarang). Hampir setiap keluar kampung, saya selalu lewat Jalan Parujakan (atau Parajukan menurut Peta Google).

Hampir semua angkot (saat itu disebut Taksi Kota), yang melintas Jalan Parujakan (dulu searah ke utara) pasti berputar via Jalan Tentara Pelajar, menuju Terminal Gunung Sari (sekarang, berserta stadion dan kolam renang Gunung Sari, telah menjadi Grage Mall), lalu ke arah Jalan RA Kartini, dan melewati Mesjid At-Taqwa dan Alun-alun Kejaksan.

Jika saya sedang ingin berjalan kaki dari rumah ke sekolah SMP Negeri 1 Cirebon, dari Jalan Parujakan ke arah utara, setelah bertemu perempatan (atau lebih mirip perlimaan) ada dua alternatif rute. Rute pertama lurus ke utara melalui Jalan KS Tubun. Setelah bertemu Jalan RA Kartini, belok ke arah timur. Dari sini, menyusuri bagian depan Masjid At-Taqwa, dan kembali melintasi Alun-alun Kejaksan.

Rute kedua, serong timur laut menyusuri Jalan Kali Sukalila. Setelah bertemu Jalan Siliwangi, belok ke utara lewat depan Pasar Pagi (sekarang menjadi Pusat Grosir Cirebon atau PGC). Berjalan terus ke utara melewati perempatan tempat Alun-alun Kejaksan berada. Di perempatan ini terdapat Tugu Proklamasi, atau kami lebih sering menyebutnya pensil karena saat itu tak tahu namanya.

Saat masih SMP itu, saya sempat bertanya kepada nenek (yang saya panggil Emak), “Kenapa disebut Alun-alun Kejaksan?”. Kata Emak, “Karena terletak di kampungnya Pangeran Kejaksan.” Nama kampung dan daerah sekitar situ itu terpengaruh oleh tempat kediaman Pangeran Kejaksan. Tempat orang-orang bertanya tentang berbagai permasalahan dan yang menyangkut secara hukum Islam. Akhirnya tempat Pangeran Kejaksan menjadi Tajug Agung Pangeran Kejaksan. Tajug ini masih berdiri di tengah kampung.

Pangeran Kejaksan (atau Syarifuddin) adalah nama yang diberikan oleh Syekh Dzatul Kahfi (atau Syekh Datuk Kahfi). Versi lain mengatakan yang memberi nama itu adalah Syekh Nurjati (atau Syekh Nurul Jati). Versi yang lebih moderat, mengatakan Syekh Dzatul Kahfi dan Syekh Nurjati adalah orang yang sama. Nama asli Pangeran Kejaksan adalah Abdurrahim. Ada pula yang menyebutnya Sayid Abdurrahim atau Syarif Abdurrahim.

Syarif Abdurrahim datang dan menemui Syekh Dzatul Kahfi beserta saudara-saudaranya Syarif Abdurrahman dan Syarif Abdillah (versi lain menambahkan nama Syarifah Baghdad). Mereka adalah anak-anak Sultan Chuffi (Kesultanan Baghdad – Persia) yang datang untuk belajar agama Islam dan membantu Syekh Dzatul Kahfi.

Syarif Abdurrahim kemudian menekuni bidang Hukum Islam, karenanya dikenal dengan nama Syarifuddin atau Pangeran Kejaksan. “Ke” adalah sebutan untuk orang yang bijaksana (mungkin mirip Ki atau Kiyai), sedangkan Jaksan berarti hukum atau keadilan.

alun-alun kejaksan cirebon
Terlihat Masjid At-Taqwa di sisi barat. Ada pintu masuk pada pagar pembatas antara Masjid At-Taqwa dengan Alun-alun Kejaksan. Kendaraan bermotor bisa masuk ke Alun-alun Kejaksan melalui gerbang masuk Masjid At-Taqwa. Sering kali Alun-alun Kejaksan menjadi area parkir mobil, saat ada acara di Masjid At-Taqwa.

Pada sudut Alun-alun Kejaksan di perempatan antara Jalan RA Kartini dan Jalan Siliwangi, berdiri Tugu Proklamasi. Tugu yang sama pada berdiri di depan Kepolisian Sektor Waled, Cirebon. Tersebut nama dr. Soedarsono, seorang dokter kader aktivis dalam Koperasi Rakyat Indonesia (KRI) yang berafiliasi dengan PNI Pendidikan pimpinan Hatta-Syahrir. Dialah yang mengumandangkan proklamasi negara Indonesia. Pembacaan pertama dilakukan di Alun-alun Kejaksan, kemudian dibacakan ulang di Waled.

Jika diibaratkan pakem pada cerita wayang, kisah sejarah ini saling tumpang tindih versi carangannya. Namun yang pasti, teks proklamasi ini berbeda dengan teks proklamasi yang dibacakan Ir Soekarno di Jakarta. Dan tanggal dibacakannya, adalah 15 Agustus 1945 (2 hari lebih awal). Saat dibacakan, dihadiri oleh sekira 150 pemuda dari berbagai gerakan bawah tanah. Di mana gerangan teks proklamasi versi Alun-alun Kejaksan itu kini berada? Entah. Hanya Tugu Proklamasi itu yang menjadi bukti.

Versi lain (yang minoritas) mengatakan, bahwa Tugu Proklamasi dibangun sebagai peringatan atas pertempuran besar dari arah rel kereta stasiun Kejaksan. Saat itu ribuan pejuang revolusi naik kereta api dari Stasiun Jatinegara menuju Yogyakarta. Sebagian besar turun di Stasiun Kejaksan untuk menyergap tentara Belanda yang membonceng bersama sekutu.

Pertempuran ini bergeser ke arah Alun-alun Kejaksan. Bukti pertempuran masih terlihat pada kantor Pikiran Rakyat edisi Cirebon, Jalan RA Kartini nomor 7, ketika baru pindah dari Jalan Siliwangi nomor 77 tahun 1982. Sebagian besar tembok dan pintu kayu jati berlobang bekas terjangan peluru.

Sekali waktu saya bertanya kepada Arbai Kusuma (yang biasa saya panggil Mang Ba’i) tetangga saya yang masih keturunan Ki Gede Pekiringan, “Kapan Alun-alun Kejaksan dibangun?”
Mang Ba’i menjawab,”Alun-alun Kejaksan ga pernah dibangun. Itu luas tanah yang tersisa sewaktu mbangun Tajug Agung”. Saya tersenyum, mungkin pertanyaan saya yang salah, tapi mungkin juga demikian kejadiannya.

Alun-alun Kejaksan berdampingan dengan Masjid At-Taqwa. Masjid ini dulu bernama Tajug Agung (bukan Tajug Agung Pangeran Kejaksan). Saat Tajug Agung dibangun (tahun 1918), tersisa tanah yang menjadi Alun-alun dan dipertahankan keberadaannya hingga sekarang, itulah Alun-alun Kejaksan. Masjid ini resmi bernama Masjid At-Taqwa pada tahun 1963.

alun-alun kejaksan cirebon
Di sisi utara, seberang gang yang tembus ke Jalan Tanda Barat, terdapat reruntuhan bekas gedung Grand Hotel. Pada Jalan RA Kartini yang melintas di depan gerbang Masjid At-Taqwa dan Alun-alun Kejaksan, dulunya adalah rel kereta api. Rel ini menghubungkan Stasiun Kejaksan dengan Pelabuhan Cirebon. Kemudian akses rel itu dipindah memotong Jalan KS Tubun.

Saat saya masih di TK Perwari (daerah Pamitran, di belakang Pasar Pagi, atau Pusat Grosir Cirebon sekarang), saya ingat rel-rel ini masih difungsikan. Saat saya sudah di SMP Negeri 1 (berseberangan dengan Grand Hotel), rel-rel ini sudah tak terpakai lagi. Sekarang, rel-rel yang membelah tengah kampung ini sudah ditumbuhi bangunan (warung, balai kampung, poskamling, dan lain-lain) atau menjadi gang.

Di sebelah utara Alun-alun Kejaksan terdapat reruntuhan gedung Grand Hotel. Pada 12-14 Februari 1946, Grand Hotel masih bernama Hotel Leebrinck. Saat itu menjadi basis kekuatan PKI (Partai Komunis Indonesia) pimpinan Mr Yusuf. Dan telah dikepung sekitar 50-an pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang semula terkonsentrasi di Alun-alun Kejaksan.

Penyergapan, merangsek masuk, saat pagi hari, berjalan lancar dan nyaris tanpa perlawanan. Di hotel itu ditemukan sejumlah senjata. Senjata-senjata itu sepertinya belum sempat digunakan kelompok PKI untuk memberikan perlawanan. Kejadian ini pun sepertinya luput dari rincian sejarah.

Pasar rakyat di Alun-alun Kejaksan kerap hadir juga pada bulan Ramadhan. Entah sejak kapan “pasar kaget ngabuburit” ini hadir tiap Ramadhan. Sifatnya spontanitas, inisiatif para PKL (Pedagang Kaki Lima) sendiri. Meskipun menurut Pemda setempat (Walikota Cirebon) ada larangan, namun “pasar kaget ngabuburit” ini tetap ada. Bahkan para PKL mengaku membayar semacam iuran kepada aparat.

Kebetulan saya sedang membawa anak dan istri jalan-jalan di siang hari. Belum terlalu sore, saya bawa istri dan anak saya mampir ke Alun-alun Kejaksan. Untunglah saya berbekal kamera saku. Saya ambil gambar dari beberapa sudut. Ya, sebatas foto dokumentasi, karena saya tak paham fotografi.

Saya berniat untuk mengambil gambar lagi pada malam hari. Tapi karena ada masalah pada kartu memori kamera, maka baru keesokan malam saya dapat mengambil gambar lagi. Menjelang sore, banyak warga sekitar yang melakukan aktivitas olah raga di Alun-alun Kejaksan. Tak beda jauh dengan suasana pagi hari (kecuali Minggu, Alun-alun Kejaksan dipenuhi PKL spontanitas). Selamat berkunjung.

Galeri (8 foto) Kisah Alun-alun Kejaksan Cirebon : 1.Gerbang utama, 2.Masjid At-Taqwa, 3.Reruntuhan, 4.Halte, 5.Tugu Proklamasi 6.Gerbang 7.PKL 8.Olah Raga.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jawa Barat » Cirebon Kota » Kisah Alun-alun Kejaksan Cirebon

Oleh Dodi Nurdjaja. Mantan penulis lepas beberapa surat kabar lokal dan nasional. Pernah pula bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pernah aktif mendampingi kegiatan KIR (Kelompok Ilmiah Remaja). Sekarang hanya sedang merenung di kampung halaman, Cirebon, Jawa Barat. Subscribe via email. Diperbaiki 28 Juni 2017. Tag: