Keraton Surosowan Banten Lama

Keraton Surosowan Banten Lama, Serang, merupakan sebuah situs bersejarah yang tinggal berupa reruntuhan benteng dan keraton peninggalan Kesultanan Banten. Lokasi reruntuhan keraton ini berada berseberangan dengan gedung Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, dan hanya beberapa puluh langkah dari halaman Masjid Agung Banten.

Dalam perjalanan menuju Banten Lama kami sempat mampir ke sebuah danau bernama Situ Ardi. Di sana kami berhenti sejenak untuk memeriksa arah. Danau berukuran sedang itu dikelilingi pepohonan rindang, namun airnya agak keruh. Belakangan saya tahu bahwa danau ini dulunya pernah menjadi sumber air bersih bagi Istana Surosowan. Setelah berkendara lagi melewati Situ Ardi, kami melihat dua bangunan beton di tengah persawahan di kanan jalan. Bangunan memanjang menyerupai bunker itu rupanya adalah dua dari tiga tingkatan fasilitas penjernihan bernama Merah, Putih dan Emas, yang menyaring dan membersihkan air dari Situ Ardi sebelum dialirkan ke Istana Surosowan.

Untuk berkunjung ke reruntuhan Keraton Surosowan, kami terlebih dahulu harus datang ke musuem, karena di sanalah kunci pembuka gembok pagar pintu masuk ke reruntuhan keraton berada. Ketika masuk ke dalam situs kami ditemani oleh seorang petugas pria yang membukakan pagar dan mengantarkan kami ke dalam area situs yang sangat luas.

keraton surosowan banten lama
Petugas terlihat tengah membukakan pintu berjeruji batangan besi yang tinggi, setinggi benteng Keraton Surosowan yang sangat lebar dan terbuat dari bata. Tak ada arca penjaga di depan gerbang atau pun ornamen lainnya. Namun di lekukan benteng di sebelah kiri terlihat ada tumpukan yang tampaknya dulu merupakan ornamen gerbang.

Terik matahari di siang hari membuat udara di sekitar reruntuhan istana itu menjadi sangat kering dan panas menyengat. Tidak ada sama sekali pepohonan atau bangunan peneduh di sana, membuat Pak Dayat harus menggunakan sajadah sebagai tutup kepala, sedangkan saya menggunakan payung untuk berlindung dari sengat matahari yang bisa membuat kepala pening.

Benteng Keraton Surosowan dahulu dikelilingi oleh kolam perlindungan yang sekarang telah rata dengan tanah. Istana tersebut diserbu dan dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1808 setelah utusannya dipenggal kepalanya oleh Sultan yang menolak mengirimkan orang untuk membantu membangun proyek Jalan Raya Anyer – Panarukan karena telah memakan banyak korban rakyat.

keraton surosowan banten lama
Reruntuhan Bale Kambang yang lokasinya berada di tengah Kolam Rara Denok Keraton Surosowan. Kolam itu berukuran 30 x 13 meter dengan kedalaman 4,5 meter. Saya membayangkan bahwa kolam dan balekambang itu mungkin dahulu seindah kolam dan bangunan yang ada di Taman Soekasada Ujung di Karangasem.

Memang kita hanya bisa berimajinasi untuk menyusun gambaran istana besar itu, dengan melihat apa yang tersisa. Reruntuhan pondasi bangunan berbentuk kotak-kotak lainnya banyak tersebar di area bekas keraton seluas sekitar 3 hektare ini, yang dikeliling benteng setinggi 2 meter dengan sudut benteng berbentuk intan (bastion) di keempat sudutnya.

Keraton Surosowan dibangun sekitar tahun 1522-1526 oleh Sultan Maulana Hasanuddin, pendiri Kesultanan Banten yang juga merupakan anak sulung Sunan Gunung Jati Cirebon. Benteng dan Keraton Surosowan dibangun setelah penaklukan kawasan pelabuhan yang sebelumnya merupakan wilayah Kerajaan Pajajaran, dan menjadikannya sebagai kawasan perdagangan.

Sultan Banten berikutnya memperluas dan menambah bangunan keraton serta memperkuat benteng. Pada jaman Sultan Haji yang merebut kekuasaan dengan bantuan VOC dari Sultan Ageng Tirtayasa, perbaikan keraton kabarnya juga melibatkan Hendrik Lucasz Cardeel, arsitek keturunan Belanda yang memeluk Islam dan diberi gelar kehormatan Pangeran Wiraguna atas jasa-jasanya.

keraton surosowan banten lama
Di ujung kanan area reruntuhan Keraton Surosowan ini terdapat sejumlah undakan untuk menuju ke atas benteng, sementara di kiri dan kanan terlihat lubang masuk ke bagian bawah benteng yang berbentuk lengkung. Saya kemudian memanjat menaiki undakan untuk melihat benteng dari atas, yang sayangnya sudah ditumbuhi rumput yang sangat tebal.

Benteng Surosowan itu dulunya berdiri kokoh setinggi 2 meter dengan tebal 5 meter. Ketebalan benteng itu masih terlihat jelas ketika saya berdiri di atasnya. Dari tiga gerbang masuk ke Keraton Surosowan yang ada di sisi utara, timur, dan selatan, hanya gerbang di sisi selatan yang tak lagi bisa dimasuki karena telah ditutup dengan tembok.

Masa kejayaan Kesultanan Banten terjadi pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, yaitu 1651 – 1682. Saat itu Banten memiliki armada kuat yang dibangun mengikuti model Eropa, dengan mengupah orang Eropa. Adalah karena perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji, puteranya yang didukung VOC, menjadi awal runtuhnya Kesultanan Banten.

Setelah Keraton Surosowan dihancurkan, pada 22 November 1808 Daendels mengumumkan dari markasnya di Serang bahwa wilayah Kesultanan Banten diserap ke wilayah Hindia Belanda. Namun Kesultanan Banten baru dihapuskan tahun 1813, ketika Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh Thomas Stamford Raffles.

Jika Taman Soekasada Ujung Karangasem yang pernah hancur total kini telah menjelma menjadi istana air yang cantik, maka mestinya Istana Surosowan juga bisa dibangun kembali sebagai jejak sejarah kejayaan Kesultanan Banten. Ini bisa terwujud ketika para pejabat benar-benar bersih dan semata-mata bekerja untuk kemakmuran rakyat, bukan memperkaya diri.

Keraton Surosowan Banten Lama

Alamat : Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Serang, Banten. Lokasi GPS : -6.0373843, 106.1552587, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Tempat Wisata di Serang, Hotel di Serang, Peta Wisata Serang. Galeri (11 foto) Keraton Surosowan Banten Lama : 1.Pintu berjeruji, 2.Balekambang, 3.Undakan, 4.Rata, 5.Reruntuhan 6.Petirtaan 7.Bawah Tanah 8.Bervariasi 9.Sumur 10.Lebar 11.Petugas.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Banten » Serang » Keraton Surosowan Banten Lama
Tag : ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 17 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap