Keraton Kacirebonan Cirebon

Keraton Kacirebonan merupakan keraton yang paling kecil diantara keraton lain yang sempat kami kunjungi di Kota Cirebon. Kami datang ke Keraton Kacirebonan setelah meninggalkan Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan, masih dengan menumpang becak yang sama.

Becak yang kami tumpangi berhenti di depan gapura pertama Keraton Kacirebonan, serta papan penanda Benda Cagar Budaya di sebelah kanannya yang menyebut tahun 1808 sebagai tahun berdirinya Keraton Kacirebonan. Pada dinding pilar gapura sebelah kanan menempel prasasti dalam huruf Jawa. Lokasi Keraton Kacirebonan berada di Jl. Pulasaren, Kelurahan Pulasaren, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, dengan halaman depan yang cukup luas. Sebelum masuk ke dalam keraton yang dipagari tembok tinggi, kami diminta untuk menemui petugas yang berjaga di bangunan joglo di depan tembok keraton.

Setelah menjelaskan maksud kedatangan, dan mendapat sedikit penjelasan tentang Keraton Kacirebonan dan mengenai tiket masuk yang boleh dibayar belakangan, kami pun masuk ke bagian dalam tembok Keraton Kacirebonan dengan ditemani oleh salah seorang petugas.

keraton kacirebonan cirebon
Beranda depan Keraton Kacirebonan dengan halaman depan cukup luas yang diteduhi oleh pohon rindang. Meskipun Keraton Kacirebonan ini sederhana saja dan menyerupai rumah biasa, namun bangunan ini menyimpan kisah perjuangan Pangeran Raja Kanoman melawan penjajah kolonial Belanda.

Ruang tengah Keraton Kacirebonan cukup sempit, yang digunakan untuk menerima tamu-tamu penting yang datang ke Keraton Kacirebonan. Di samping bangunan utama keraton terdapat bangunan kecil yang difungsikan sebagai sebuah museum yang menyimpan sejumlah koleksi keraton yang sudah berumur cukup tua.

Di Keraton Kacirebon terdapat tradisi tahunan seperti Suraan, Syafaran, Muludan, Rajaban, Rowahan, Tarawehan, Likuran, Tadarusan di bulan Ramadhan, Grebeg Syawal (Idul Fitri) dan Raya Agungan (Idul Adha). Puncaknya adalah “Panjang Jimat” yang dilakukan setiap 12 Rabiul awwal bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi.

keraton kacirebonan cirebon
Potret Sultan Kacirebonan di ruang beranda Keraton Kacirebonan. Sejarah Keraton Kacirebonan dimulai ketika Pangeran Raja Kanoman, pewaris takhta Kesultanan Keraton Kanoman bergabung dengan rakyat Cirebon dalam menolak pajak yang diterapkan Belanda. Penerapan pajak yang memberatkan rakyat itu memicu pemberontakan di beberapa tempat.

Akibatnya Pangeran Raja Kanoman ditangkap Belanda dan dibuang ke benteng Viktoria di Ambon, dilucuti gelarnya, serta dicabut haknya sebagai Sultan Keraton Kanoman. Namun karena perlawanan rakyat Cirebon tidak juga reda, Belanda akhirnya membawa kembali Pangeran Raja Kanoman ke Cirebon dalam upaya mengakhiri pemberontakan. Status kebangsawanan Pangeran Raja Kanoman dikembalikan, namun haknya atas Kesultanan Keraton Kanoman tetap dicabut.

Sekembalinya ke Cirebon pada 1808, Pangeran Raja Kanoman tinggal di kompleks Gua Sunyaragi dan bergelar Sultan Amiril Mukminin Muhammad Khaerudin atau Sultan Carbon walaupun tidak memiliki keraton. Sampai wafatnya pada 1814, Sultan Carbon tetap konsisten dengan sikapnya dan menolak uang pensiun dari Belanda. Adalah istri mendiang Sultan Carbon bernama Ratu Raja Resminingpuri yang kemudian membangun Keraton Kacirebonan dengan menggunakan uang pensiun dari Belanda.

keraton kacirebonan cirebon
Di sebelah kiri di Museum Keraton Kacirebonan ini adalah koleksi kain batik tua milik Keraton Kacirebonan, dengan kotak wayang bercat hijau di sebelah kanan. Ruang Museum Keraton Kacirebonan tampaknya selalu ditutup dan hanya dibuka ketika ada pengunjung datang dan ingin melihat koleksinya.

Kami sempat melihat koleksi wayang kulit berupa wujud raksasa yang disimpan di dalam kotak kayu yang sepertinya sudah lama tidak digunakan dalam pagelaran. Ukuran wayang kulit itu cukup besar, hampir selebar kotak kayu tempat penyimpanannya. Pengerjaannya halus, namun kesan tua dan kurang terawat jelas terlihat.

Ada lagi koleksi Museum Keraton Kacirebonan berbentuk semacam wadah dengan ornamen tak beraturan yang diletakkan di sebelah kurungan. Kurungan dari bambu bercat hijau muda itu digunakan dalam ritual tedak siti, mudun lemah, atau turun ke tanah untuk bayi yang telah berusia 7 bulanan. Di dalam kurungan ini ada kursi dan tangga kecil berundak.

Meskipun tidak banyak yang bisa dilihat di dalam kompleks Keraton Kacirebonan ini, namun yang menarik diantara semua yang ada adalah sejarah berdirinya keraton yang lahir dari perlawanan Pangeran Raja Kanoman melawan penindasan kolonial Belanda, dan keteladanan pada konsistensi perlawanan sang Pangeran sampai akhir hayatnya.

Keraton Kacirebonan

Alamat : Jl. Pulasaren, Kec Pekalipan, Cirebon. Lokasi GPS : -6.724748, 108.565274, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Galeri : 11 foto. Terdekat : Makam Syekh Maulana Maghribi (550 m), Masjid Agung Sang Cipta Rasa (800 m). Rujukan : Tempat Wisata di Cirebon, Peta Wisata Cirebon, Hotel di Cirebon. Galeri (11 foto) Keraton Kacirebonan Cirebon : 1.Beranda depan, 2.Potret Sultan, 3.Kain batik tua, 4.Gapura Pertama Keraton, 5.Prasasti 6.Ruang Tengah Keraton 7.Gamelan 8.Relief Raksasa 9.Koleksi Wayang 10.Tedak Siti 11.Tampak Muka.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Barat » Cirebon Kota » Keraton Kacirebonan Cirebon
Tag : ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 17 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap