Kemanusian dan Berlaku Adil dalam Kasus Ahok

Alkisah ketika Abrahah mengirim pasukan ke pinggiran kota sebelum menyerbu Mekah mereka merampas segala apa yg ditemui di perjalanan, termasuk 200 unta milik Abdul Muthalib, kakek Muhammad. Abrahah lalu mengirim pesan kepada penguasa Mekah bahwa ia tak hendak berperang, namun hanya akan menghancurkan Ka’bah. Abrahah meminta pemimpin Mekah menemuinya di kemah untuk menghindari pertumpahan darah. Abdul Muthalib bersama seorang puteranya lalu datang ke kemah Abrahah mewakili pemimpin Mekah, yang membuat Abrahah sangat terkesan.

Saking terkesannya Abrahah hingga turun dari singgasana untuk menyambutnya dan duduk bersama di karpet. Ketika ditanya permintaan apa yang ingin ia ajukan, Abdul Muthalib menjawab agar 200 untanya yang dirampas pasukan Abrahah untuk dikembalikan. Abrahah terkejut, kecewa dan sangat heran karena menganggap Abdul Muthalib jauh lebih mementingkan unta-untanya ketimbang agama dan tempat suci yang hendak dihancurkan olehnya.

Namun Abdul Muthalib berkata “Aku adalah pemilik unta-unta itu, sedangkan Ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya.”
“Tapi sekarang Ia tak akan mampu melawanku”, kata Abrahah.
“Kita lihat saja nanti” jawab Abdul Muthalib, “sekarang kembalikan unta-untaku”. Abrahah pun memerintahkan anak buahnya untuk mengembalikan unta-unta itu.

Begitulah, pasukan Abrahah yang sangat kuat akhirnya hancur oleh serangan beribu-ribu burung yang masing-masing menjatuhkan tiga batu kecil, satu dari paruh dan satu dari masing-masing kakinya. Batu yang meluncur cepat itu menembus pelindung tubuh dan mematikan siapa saja yang terkena, ada yg langsung mati ada yg mati setelah kembali ke Shanaa, termasuk Abrahah.

Kisah di atas dicuplik dari buku “Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik” yang ditulis oleh Martin Lings (Abu Bakar Sirajuddin).

Sama halnya Ka’bah, agama dan kitab suci bukan milik manusia. Bukan manusia yang membuatnya. Agama dan kitab suci adalah milik Tuhan yang Ia turunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia, dan disampaikan-Nya melalui para Rasul. Tak ada kelompok manusia mana pun yang bisa mengklaim bahwa itu miliknya, dan tidak bisa mereka melarang satu orang atau kaum untuk tidak memeluk agama, atau untuk tidak membaca kitab suci.

Jika ada ancaman hebat terhadap kehancuran agama dan kitab suci, maka Sang Pemilik tentu akan bertindak melindunginya, dan tidak mesti melalui manusia, seperti kisah Abrahah di atas. Karenanya, sesuai kodratnya, manusia lebih baik memperbaiki ahlaknya sendiri, melindungi dan membela kemanusiaan dan keadilan ketimbang jumawa hendak “melindungi” kepunyaan Tuhan. “Melindungi” dengan cara keliru bukannya membuat harum agama dan menambah pengikut, justru malah membuatnya terpuruk dan dijauhi orang.

Karena ajaran agama selalu menjunjung kemanusiaan dan keadilan, bahkan bagi musuh sekalipun, maka janganlah para pemimpin dan penganut agama justru berlaku zalim pada kemanusiaan, meski dengan niat membela apa yang sesungguhnya milik Tuhan. Lebih parah lagi jika dilakukan karena sentimen pribadi dan memanfaatkannya untuk tujuan politik.

Kesabaran dengan mengedepankan kemanusian dan rasa keadilan akan jauh lebih baik dalam menyikapi singgungan terhadap agama dan kitab suci. Meski milik Tuhan, harumnya agama justru karena sikap penganutnya.

Dalam kasus Ahok, coba tanggalkan sentimen ras, sentimen agama dan kepentingan politik, lalu jawab dengan jujur apakah Ahok punya niat busuk untuk hina kitab suci, dan apakah rekam jejaknya ketika menjadi Bupati di Belitung, anggota DPR, serta menjadi wakil gubernur dan kemudian gubernur DKI merugikan umat? Jika jujur, kata-kata Ahok jelas sasarannya. Jika pun ada ulama yang terkena tentulah oknum, bukan menyasar ulama secara umum.

Janganlah berhenti pada kata-kata Ahok, dan menutup mata serangan terhadap dirinya yang sudah berlangsung berbulan-bulan hingga hari ini, saat wakil gubernur dan kemudian gubernur DKI, bahkan bertahun sebelumnya saat dia hendak menjadi Bupati Belitung. Adab memang mesti dijaga, namun kebenaran tidak boleh disembunyikan, apalagi itu menyangkut kemanusian, keadilan, dan kemungkinan dipenjarakannya orang secara zalim.

Jika orang Barat di hari-hari ini justru berdemo untuk membela kemanusiaan dan keadilan dengan menyingkirkan sentimen agama dan ras, maka menjadi absurd jika kita justru melakukan hal sebaliknya. Jika pun tulisan ini tak mampu merubah pandangan pada Ahok, cukuplah jika bisa mengingatkan bahwa menempatkan kemanusiaan dan keadilan di atas sentimen agama justru yang akan harumkan dan membuat orang menaruh hormat pada agama dan penganutnya, ketimbang berlaku sebaliknya. Damai.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Blog » Politik » Kemanusian dan Berlaku Adil dalam Kasus Ahok

By Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email for newly published posts. Updated on 23 Maret 2017. Tag:

Tulisan lainnya : Makam Nyi Mas Ratu Gandasari Cirebon | Museum Perangko Indonesia TMII Jakarta | Agung Rai Museum of Art – ARMA Gianyar Bali | 3 Peta Wisata Pagar Alam | EB Batik Traditional Cirebon | Rumah Dinas Residen Kediri | 20 Tempat Wisata di Padang | Masjid Hastana Keraton Kartasura | Dofollow TA Travelog | Museum Bank Rakyat Indonesia Purwokerto |