Kelenteng Tjo Soe Kong Tangerang

Kelenteng Tjo Soe Kong, yang juga dikenal sebagai Kelenteng Tanjung Kait dan Rong Jia Yi Da Bo Gong Miao, saya kunjungi setelah dari Pantai Tanjung Kait, yang jaraknya sekitar 500 meter. Kelenteng Tjo Soe Kong memiliki halaman luas dan berada sekitar 100 m dari tepi jalan.

Bangunan Kelenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait ini tidak dibuat menghadap ke laut, yang jaraknya ke tepiannya sekitar 200 m, namun menghadap ke arah Barat. Ini agak tak lazim karena biasanya sebuah kelenteng dibuat menghadap ke laut atau memunggungi gunung. Pada atap bangunan utama Kelenteng Tjo Soe Kong ini saya tidak melihat ada patung sepasang naga yang tengah memperebutkan mustika, tidak juga burung Hong. Kelenteng ini terkesan sederhana jika dilihat dari luar.

Di bagian depan kelenteng ada pula sebuah tengara yang mewartakan pembangunan kembali kelenteng yang dimulai pada 21 Maret 1959, lengkap dengan nama-nama panitia serta inspekturnya. Ada pula hiolo Thian untuk memuja Dewa Langit di halaman depan ini, dengan ukiran kepala raksasa di kiri kanannya.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait
Tampak muka Kelenteng Tjo Soe Kong dengan sepasang pagoda tempat pembakaran kertas di halaman depan yang menjadi ciri kelenteng ini. Kedua pagoda berbentuk segi enam setinggi empat meter ini kabarnya masih aseli. Adanya kanopi polikarbonat pada halaman dalam, yang meskipun secara fungsional bermanfaat, tidak memperindah kelenteng namun hemat saya justru merusak ciri tradisional kelenteng tertua di Tangerang ini (seorang teman mengatakan bahwa kanopi itu sudah dibuang, sukurlah).

Berdasarkan inskripsi beraksara Tionghoa pada tempat pembakaran kertas, tempat pembakaran kertas sisi Utara dibangun pada 1873 dan merupakan sumbangan Huang Qingsog dari Tingzijiao (Pasar Gelap, Batavia). Tempat pembakaran kertas di sisi Selatan dengan tulisan “Pavilion of Precious Protection” dibangun pada 1868 sumbangan Zheng Cheng An.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait
Altar utama kelenteng yang digunakan untuk bersembahyang bagi Kongco Tjo Soe Kong, seorang tabib dari jaman Dinasti Song yang sering menolong orang sakit tanpa meminta imbalan, yang digambarkan dalam posisi duduk di atas singgasana, mengenakan jubah berwarna merah dengan sulaman benang emas. Tjo Soe Kong, yang lahir dengan nama Tan Ciu Eng, berasal dari Cuanciu di Provinsi Hokkian. Ia wafat pada masa pemerintahan Kaisar Wi Cong dari Dinasti Song. Bisa dimengerti mengapa Kelenteng Tjo Soe Kong tidak dibuat menghadap ke laut, karena tuan rumah utamanya bukanlah Thian Siang Sing Bo, Dewi pelindung para pelaut.

Lagipula Kelenteng Tjo Soe Kong tidak didirikan oleh para pelaut, namun oleh para petani tebu keturunan Tionghoa yang tinggal di daerah Mauk, Tangerang. Di bagian lain Kelenteng Tjo Soe Kong terdapat altar bertuliskan Kongco Obat. Sakit memang tidak menyenangkan, dan sakit bisa membawa maut pada anggota keluarga, sehingga bisa dimengerti jika ada penghormatan dan pemujaan terhadap tabib yang bisa menyembuhkan penyakit. Sedangkan di bagian belakang Kelenteng Tjo Soe Kong terdapat altar pemujaan Budha, terletak di dalam bangunan Dharmasala yang dibuat setengah terbuka, dipisahkan dengan sebuah halaman terbuka dari bangunan induk.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait

Salah satu tempat pemujaan utama di dalam Kelenteng Tjo Soe Kong adalah altar Hok Tek Ceng Sin, Dewa Bumi, yang dipuja orang untuk mempermudah dan memperlancar mengalirnya rezeki bagi para pedagang dan petani. Rupang Dewa Bumi diapit oleh sepasang lilin merah raksasa terdapat simbol-simbol Konghucu, yaitu Yin-Yang, Pat Kwa, dan bentuk seperti labu bersayap dengan untaian anggur di lehernya. Di bawahnya terdapat tulisan 7-4-2521 dan 21-5-1870, yang tampaknya merupakan tahun dibuatnya altar ini.

Sembahyang bagi Hok Tek Ceng Sin lazimnya dilakukan pedagang pada tanggal 1 dan 15 Imlek tiap bulan untuk memohon perlindungan dan rejeki, lalu pada tanggal 2 bulan 2 Imlek untuk merayakan ulang tahun Hok Tek Tjeng Sin, dan pada tanggal 16 bulan 12 Imlek yang disebut “Wei ya” (penutup). Sedangkan para petani biasanya bersembahyang pada tanggal 15 bulan 8 imlek sebagai ungkapan rasa syukur.

kelenteng tjo soe kong tanjung kait
Sepasang patung Ciok-Say (singa) terbuat dari batu andesit di halaman Kelenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait. Singa yang jantan menimang bola diletakkan di atas batu dengan relief kuda dan singa serta ornamen lengkung, dan Ciok-Say betina bermain dengan anaknya.

Di belakang patung singa ada batu berbentuk membulat dengan ukiran daun dan bebungaan indah, serta rilief binatang. Mungkin ini batu nisan pemberian seorang tuan tanah terkaya di Batavia bernama Andries Teisseire (1746 – 1800), yang dibawanya langsung dari Tiongkok saat kelenteng mulai dibangun. Andries mencatat keberadaan Kelenteng Tjo Soe Kong pada 1792, sedangkan kapan didirikannya tidak diketahui pasti. Hal yang unik di Kelenteng Tjo Soe Kong adalah adanya altar Embah Rachman dan Empe Dato yang terletak di kiri kanan altar Hok Tek Ceng Sin, serta altar bagi Dewi Neng. Dewi Neng adalah orang pribumi di Tanjung Kait yang juga merupakan anak Kongco Tjo Soe Kong.

Konon ketika Gunung Krakatau meletus pada 1883, penduduk setempat banyak yang mengungsi di dalam kelenteng dan mereka pun terselamatkan dari terjangan gelombang tsunami. Cerita ini kemudian dibuat dalam lagu Gambang Kramat Karam yang kabarnya masih dimainkan oleh kelompok gambang kromong.

Pejalan tampaknya harus membawa kendaraan sendiri karena belum ada angkutan umum ke sana. Selain rute yang disebutkan dalam tulisan Pantai Tanjung Kait, pejalan bisa lewat Jl Daan Mogot, belok kanan setelah Penjara Anak-Anak Tangerang (sebelah kiri jalan), belok kiri ke Jl Buroq, lanjut Jl Dr. Sitanala, belok kiri ke Jl Jembatan Pintu Sepuluh, seberangi jembatan, belok kanan ke Jl Sangego Raya.

Di sini pejalan bisa mampir di Jembatan Pintu Sepuluh di kanan jalan. Setelah itu ikuti terus Jl Sangego Raya, ketemu jembatan pertama belok kiri, lalu langsung belok kanan setelah menyeberangi jembatan ke Jl Karet Kota Bumi, ikuti terus sampai bertemu perempatan dengan Jl Raya Mauk, belok kanan ke Jl Raya Mauk, setelah Pasar Sepatan di sebelah kiri ketemu pertigaan yang ada tugu ditengah2nya ambil arah kanan masuk ke Jl Paku Haji, lewat saluran irigasi belok ke kiri masih di Jl Paku Haji, lurus terus sampai habis Jl Paku Haji sambung ke Jl Desa Kramat, mentok ketemu Jl Kalibaru, belok ke kiri. Ketemu perempatan, belok ke kiri ke Jl Desa Sukawati, ikuti terus jalan ini.

Kelenteng Tjo Soe Kong

Alamat : Jalan Raya Tanjung Kait, Dusun Tanjung Anom, Desa Tanjung Kait, Kecamatan Mauk, Tangerang. Lokasi GPS : -6.179185, 106.629589, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Peta Wisata Tangerang, Hotel di Tangerang, Tempat Wisata di Tangerang. Galeri (14 foto) Kelenteng Tjo Soe Kong Wisata Tangerang : 1.Tampak Muka, 2.Altar utama, 3.Dewa Bumi, 4.Ciok-say, 5.Tjo Soe Kong, 6.Pek How, 7.Donatur, 8.Kongco Obat, 9.Hiolo Thian …s/d 14.Ruang Tengah.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Banten » Tangerang Kabupaten » Kelenteng Tjo Soe Kong Tangerang
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang.

BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA.

Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 17 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap