Kelenteng Talang Cirebon

Kelenteng Talang Cirebon ini letaknya sangat dekat dengan Gedung BAT, namun Kelenteng Talang Cirebon ini memang sengaja dilewatkan ketika kami berkunjung ke Gedung BAT karena menunggu seorang teman yang baru bisa pergi berkeliling di Cirebon keesokan harinya.

Kelenteng Talang Cirebon

Alamat : Jl. Talang No. 2 Cirebon. Lokasi GPS : -6.7197, 108.56957, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Terdekat : Kelenteng Dewi Welas Asih (0,2 km). Rujukan : Tempat Wisata di Cirebon, Peta Wisata Cirebon, Hotel di Cirebon.

Baru dua hari kemudian kami berkunjung ke Kelenteng Talang ini dengan menumpang becak. Di Cirebon, becak merupakan alat transportasi yang sangat praktis dan murah untuk mengunjungi tempat-tempat menarik di dalam kota, apalagi jika cuaca agak sedikit bersahabat. Tepat sebelum sampai di Gedung BAT, becak yang kami tumpangi berbelok ke kanan, dan sesaat kemudian bangunan Kelenteng Talang pun sudah terlihat di sebelah kanan jalan.

Konon Kelenteng Talang ini sebelumnya bernama Sam Po Toa Lang. Toa-Lang artinya adalah orang-orang besar. Nama itu diambil untuk menghormati tiga tokoh besar muslim utusan dinasti Ming yang pernah singgah di Cirebon, yaitu Laksamana Cheng Ho, Laksamana Kung Wu Ping, dan Laksamana Fa Wan.

Kelenteng Talang Cirebon
Tulisan yang berada di atas pintu gerbang Kelenteng Talang, yang menunjukkan bahwa Kelenteng Talang adalah sebuah Kelenteng Konghucu. Karena yang saya kunjungi biasanya adalah kelenteng Tri Dharma (Buddha, Konghucu, dan Tao), maka Kelenteng Talang Cirebon ini merupakan kelenteng Konghucu pertama yang pernah saya kunjungi.

Ada sebuah tulisan pada papan yang menempel pada dinding Kelenteng Talang yang berbunyi “Di dunia ini ada dua hal yang susah, memanjat langit itu susah, meminta bantuan orang lain lebih susah. Dalam kehidupan manusia ada dua hal yang pahit, buah Huang-lian itu pahit, hidup orang miskin lebih pahit. Di dunia ini ada dua hal yang rawan, dunia Kang-ouw itu rawan, hati manusia lebih rawan. Dalam kehidupan manusia ada dua hal yang tipis, kertas itu tipis, nurani manusia lebih tipis.”

Dunia Kang-ouw adalah dunia persilatan, istilah yang tidak asing bagi mereka yang hobi membaca cerita silat Cina karya Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo. Dunia Kang-ouw juga sering disebut dunia rimba hijau.

Kelenteng Talang Cirebon
Pintu masuk ke dalam Kelenteng Talang yang disebut “Pintu Memasuki Kebajikan”, dan di sebelah kiri bawah berbunyi “Kesusilaan”, dan di sebelah kanannya berbunyi “Cinta Kasih”

Kelenteng Talang Cirebon
Sebuah silsilah yang menempel di tembok Kelenteng Talang yang sangat menarik perhatian. Papan di tembok Kelenteng Talang ini berisi silsilah dari Hayam Wuruk, Raja terbesar Kerajaan Majapahit, sampai ke pendiri Kelenteng Talang, Tan Sam Cay.

Silsilah ini, jika benar, membuktikan kedekatan tali darah Raja-raja Jawa dan keturunannya dengan para Cina perantauan dan keturunannya di tanah Jawa ini. Raden Patah misalnya, Sultan Demak pertama yang memerintah 1455 – 1518, disebut-sebut sebagai Pangeran Jin Bun, dan dikatakan sebagai anak Kertabumi (Raja yang memerintah Majapahit pada 1474 – 1478) dari seorang isteri Cina, anak babah Ban Hong.

Sunan Gunung Jati, Sultan Cirebon pertama yang memerintah pada 1552 – 1578, tertulis di sana sebagai anak Sultan Trenggana dari seorang isteri Cina, anak perempuan Swan Liong.

Kelenteng Talang Cirebon
Sebuah genta besar berwarna kuning terang dengan ornamen dan tulisan Cina berwarna merah, di dekat meja berukir dengan warna abu-abu keunguan kuat indah yang berada di depan altar Kelenteng Talang.

Kelenteng Talang Cirebon
Naga indah tanpa baju yang tengah beristirahat menunggu waktu yang tepat untuk beraksi di jalanan pada acara ritual tahunan Kelenteng Talang Cirebon. Penampilan Barongsai Kelenteng Talang Cirebon ini kabarnya sangat menarik dan indah, sehingga aksinya selalu ditunggu-tunggu oleh masyarakat Cirebon.

Kelenteng Talang Cirebon
Sebuah altar yang digunakan untuk memuja Tan Sam Cay, atau Haji Mohamad Sjafi’i, Menteri Keuangan Kesultanan Cirebon tahun 1569-1585, yang diberi gelar oleh Sultan Cirebon sebagi Tumenggung Aria Dipa Wira Cula. Bangunan Kelenteng Talang ini didirikan Tan Sam Tjay pada 1450 M sebagai tempat ibadah umat Islam Tionghoa dari Mahzab Hanafi.

Konon karena kegiatan Muslim Tionghoa di Kota Cirebon waktu itu semakin berkembang pesat, maka Pusat Pengembangan Muslim Tionghoa kemudian dipindah ke Desa Sambung. Bangunan Kelenteng Talang Cirebon lalu lama kelamaan dijadikan sebagai tempat ibadah penganut Konghuchu. Tan Sam Cay sendiri akhirnya kembali memeluk Konghucu.

Kelenteng Talang Cirebon
Patung Nabi Kong Hu Cu yang berada di altar utama Kelenteng Talang yang duduk diantara para muridnya. Di belakangnya terdapat ornamen naga hijau yang indah. Bangunan kelenteng Talang ini diperkirakan didirikan sejaman dengan dibangunnya Masjid Demak.

Kelenteng Talang Cirebon
Di atas altar ini terdapat sebuah tulisan yang berbunyi: “Kebajikan Mengharukan Malaikat”. Di atas altar Nabi Kong Hu Cu di Kelenteng Talang Cirebon juga ada tulisan yang berbunyi: “Kebajikannya Menunggal dengan Langit dan Bumi”, dan di atas altar Tan Sam Cay Kong tertulis: “Mengurus Keuangan dengan Jujur”. Kata-kata ini bisa dimengerti, karena semasa hidupnya Tan Sam Cay Kong adalah Menteri Keuangan Kasultanan Cirebon.

Kelenteng Talang Cirebon
Ketiga altar pemujaan di ruang utama Kelenteng Talang Cirebon. Seingat saya, belum pernah saya menemukan tulisan yang menyerupai tulisan bijak yang ada di Kelenteng Talang ini. Tetapi mungkin saja di kelenteng lain kalimat-kalimat itu hanya ditulis dalam huruf Cina saja, sehingga saya tidak memahaminya.

Di taman samping Kelenteng Talang, terdapat patung monyet dengan kedua tangan masing-masing menutupi mulut, mata dan telinga, yang bisa diartikan sebagai mengendalikan indera dari hal-hal yang bisa merusak pikir, rasa, jiwa, dan raga.

Di sebelah kanan depan Kelenteng Talang terdapat sebuah sumur tua dan bekas tempat berwudlu yang ditutup pagar dan sudah tidak digunakan lagi. Tan Sam Cay, atau Aria Dipa Wira Cula, meninggal pada tahun 1817 M di Puri Sunyaragi karena menenggak racun saat bersama haremnya, dan makamnya berada di Jalan Sukalila Utara, Cirebon.

Kelenteng Talang Cirebon
Tidak ada ornamen sepasang naga atau pun burung Hong di atas wuwungan Kelenteng Talang ini. Sebagaimana terlihat, kondisi Kelenteng Talang saat itu berada dalam keadaan yang cukup baik dan terawat, setelah sebelumnya sempat dikabarkan dalam keadaan menyedihkan dan terlantar.

Tampaknya memang ada masa dimana pengurus dan dinas terkait seperti membiarkan Benda Cagar Budaya tidak terurus, sebelum akhirnya muncul dewa penyelamat. Seperti sebuah siklus hidup tanpa akhir.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jawa Barat » Cirebon Kota » Kelenteng Talang Cirebon

By Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email for newly published posts. Updated on 28 Juni 2017. Tag:

Tulisan lainnya : Bukit Kasih Minahasa | Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea Bogor | Situs Prasasti Sojomerto Batang | Pantai Matras Bangka | Monumen dan Museum PETA Bogor | Hotel di Klaten | Masjid Aulia Sapuro Pekalongan | Angkringan Tahu Kupat Pabuaran Purwokerto | Gedung Indonesia Menggugat Bandung | Pura Lingga Buana Ksira Arnawa Pekalongan |