Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis

Home » Jawa Barat » Bogor Kota » Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Ini adalah usaha kedua untuk ke Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis, di tengah Sungai Ciliwung, di belakang Terminal Baranangsiang, Kota Bogor. Usaha pertama saya lakukan beberapa minggu sebelumnya, yang gagal lantaran salah masuk ke terminal Baranangsiang dan terjebak macet sehingga memutuskan balik ke Jakarta.

Kelenteng Pan Kho Bio

Alamat: Pulo Geulis, Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Lokasi GPS: -6.6050697, 106.8038705, Waze. Rujukan: Tempat Wisata di Bogor, Peta Wisata Bogor, Hotel di Bogor.
Galeri (27 foto): 1.Jembatan, 2.Embah Raden, 3.Hok Lok Soe, 4.Jembatan Pemuda, 5.Jembatan Pulo Geulis, 6.Sungai Ciliwung, 7.Tengara Kelenteng, 8.Uyut Gebok, 9.Eyang Jayaningrat … s/d 27..

Namun di Terminal Baranangsiang Bogor itulah saya mendapatkan petunjuk jalan masuk ke Pulau Geulis dimana kelenteng berada. Keberadaan Kelenteng Pan Kho Bio sendiri saya peroleh ketika ke Kelenteng Hok Tek Bio (Vihara Dhanagun) di sebelah Kebun Raya Bogor.

Kelenteng Pan Kho Bio menarik karena merupakan kelenteng tertua di Kota Bogor, berdiri pada 1703, meskipun bangunan aslinya sudah tak ada, juga karena berada di Pulo Geulis yang diapit aliran Sungai Ciliwung. Di pertigaan Baranangsiang kami ke kiri, dan berputar di putaran kedua lantaran saya enggan memotong jalan.

Kami belok ke Jalan Sambu setelah Masjid Raya Bogor, lalu belok kiri ke Jalan Riau sampai mentok Jl Bangka lalu belok kiri dan berhenti 50 meter kemudian di seberang warung kelapa muda. Kendaraan kami tinggalkan di bahu jalan, menyeberang jalan lalu ke kiri masuk gang, menuruni undakan, dan terlihatlah jembatan kecil di atas Sungai Ciliwung untuk menyeberang ke Pulo Geulis.

kelenteng pan kho bio pulo geulis bogor
Jembatan ke Pulo Geulis itu. Setidaknya ada tiga jembatan di lokasi lain untuk menyeberang ke Pulo Geulis. Sejenak kami berhenti di tengah jembatan untuk melihat alir Sungai Ciliwung sebelum melanjutkan langkah memasuki perkampungan Pulo Geulis yang luasnya 3,5 hektare namun dihuni lebih dari 2.500 jiwa.

Dulu Pulo Geulis bernama Pulau Parakan Baranangsiang dan Rawa Bangke. Mengikuti jalan berkelok, dan rajin bertanya, kami akhirnya sampai di Kelenteng Pan Kho Bio atau Vihara Maha Brahma. Melewati pintu besi, kami masuk ke area Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis dan disambut ramah seorang Bapak bernama Wiwi, yang menemani melihat bagian dalam kelenteng.

Di halaman kelenteng terdapat Hiolo Dewa Langit dan sepasang hiolo kecil diletakkan di kiri kanan pintu merapat tembok. Jendela hawa di kiri kanan berbentuk pat-kwa warna-warni, dan lampion kecil bergelantungan di langit teras. Sepasang pagoda pembakaran kertas (Kim Lo) juga ada di halaman depan Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis yang tak begitu luas ini.

kelenteng pan kho bio pulo geulis bogor
Di sisi kanan ada batu hitam besar dibalut kain hijau berornamen bunga mekar dan kuncup yang merupakan petilasan Embah Raden Mangun Jaya, salah satu karuhun atau orang yang semasa hidupnya memiliki kharisma kuat dan disegani oleh masyarakat tradisional Sunda, serta dipercayai masih merupakan keturunan dari Raja Pajajaran.

Di ruang utama terdapat deretan patung para dewa. Di tengah adalah altar Pan Kho yang merupakan tuan rumah Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis. Pan Kho lahir pada bulan 1 tanggal 6 Imlek, dan ritual peringatan malam Sie Jit Kongco Pan Kho dilakukan setiap tahun di kelenteng ini. Ada poster di tembok Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis berisi legenda Pan Kho.

Konon awalnya terjadi kegelapan dan kekacauan dimana-mana. Saat itulah muncul telur berisi Pan Kho. Selama ribuan tahun Pan Kho tidur dan tumbuh di dalam telur, hingga tubuhnya menjadi sangat besar. Telur pun pecah saat ia merentangkan tangan dan kakinya. Bagian telur yang ringan melayang membentuk langit, dan yang padat turun menjadi bumi.

Untuk mencegah bersatunya langit dan bumi, Pan Kho berdiri diantara keduanya dengan kepala menahan langit dan kaki menjejak bumi. Dalam keadaan itu Pan Kho terus tumbuh dengan kecepatan 10 kaki per hari selama 18.000 tahun, sampai bumi langit terpisah sejauh 30.000 mil. Karena kelelahan ia pun tertidur dan tak pernah bangun lagi.

Setelah Pan Kho meninggal, nafasnya menjadi angin dan awan, suara jadi guntur dan halilintar, mata kiri kanan jadi matahari dan bulan, lengan dan kaki jadi mata angin, tubuh jadi gunung, daging jadi bumi dan pohon, darah jadi sungai, rambut tubuh jadi rerumputan dan tumbuhan berkhasiat, kulit jadi kulit bumi, tulang dan gigi jadi batu berharga dan mineral, rambut kepala menjadi bintang, keringat jadi embun, serta benalu di tubuhnya jadi manusia yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

Selanjutnya saya melihat altar Thu Tie Pakung yang berada tepat di bawah altar Pan Kho. Ada yang menyamakan Thu Tie Pakung sebagai Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi), ada pula yang menyebutnya sebagai adik Dewa Bumi. Namun di sebuah tulisan disebut bahwa sie jit (ulang tahun) To Ti Pa Kung jatuh pada tanggal 6 bulan 6 Imlek, sedangkan Hok Tek Ceng Sin jatuh pada tanggal 16 bulan 12 Imlek.

kelenteng pan kho bio pulo geulis bogor
Altar Hok Lok Soe di Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis. Hok Lok Soe berarti Rejeki Bahagia Umur panjang. Ho Lok Soe adalah dewanya para pengikut Tao yang terdiri dari tiga, yaitu Fu Shen (dewa rejeki / kekayaan, menggendong anak kecil, paling kanan), Lu Shen (dewa kebahagiaan / keturunan, tengah) dan Shou Shen (dewa panjang umur, kepala botak berjanggut putih).

Ada pula altar Dewi Kwan Im di Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis. Jauh sebelum agama Buddha masuk ke daratan Tiongkok, orang Tionghoa sudah mengenal Pek Ie Tai Su, atau Dewi Welas Asih baju putih. Ketika agama Buddha masuk, Kwan Im diakomodasi sebagai penjelmaan Buddha Avalokitesvara yang turun ke bumi untuk menolong manusia dari penderitaan, dan berwujud wanita agar leluasa dalam memberi pertolongan kepada semua orang.

kelenteng pan kho bio pulo geulis bogor
Di Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis ada pula altar pemujaan bagi Kwan Seng Tek Kun yang lebih terkenal di Indonesia sebagai Kwan Kong (Guan Gong), serta altar bagi Dai Sang Law Cin. Di sisi kiri depan terdapat joli dibungkus plastik yang biasa diarak pada perayaan Imlek, serta kotak-kotak rak berisi buku-buku doa.

Dari rak itu saya mengambil beberapa buah buku, setelah mendapat ijin dari Wiwi. Salah satu diantaranya adalah Kitab Peringatan Bencana Kwan Kong. Ada nasihat menarik di dalam buku ini, yang saya salin di bawah ini:

Janganlah melakukan perbuatan yg bisa membuat langit marah, karena terlahir sebagai manusia itu bukanlah hal yg mudah.
Janganlah takut mendengar suara petir, apabila Anda tidak melakukan perbuatan jahat.
Janganlah terlalu mendengarkan perkataan wanita, karena selalu kurang sisi kebaikannya.
Jangan lamban dalam melayani sesama, agar tidak merugikan Anda.
Janganlah bermalas-malasan dalam bekerja dan belajar, karena semua ini adalah fondasi dalam membina keluarga di kemudian hari.

Jangan berperilaku yang tidak benar, agar anak cucu dapat hidup dengan baik.
Jangan malu saat berada dalam kegelapan, karena itu lakukanlah segala sesuatu dengan berhati-hati dan benar.
Jangan peralat bawahan atau anak asuh, maka hidup akan selalu penuh keberuntungan.
Jangan dekati orang-orang jahat, karena sangat tidak baik melukai kaum yg lemah.
Jangan melakukan rencana jahat, karena bisa membuat sulit kehidupan anak cucu.

Jangan iri kepada orang kaya, karena kekayaan itu adalah berkat pahalanya di kehidupan sebelumnya.
Jangan membaca dan menyimpan buku porno, karena akan mencelakakan anak cucu.
Jangan bersantai-santai dalam rumah, karena ini adalah contoh rakyat yg malas.
Jangan menyiksa pembantu rumah, karena sama-sama manusia juga.
Jangan menciptakan sensasi hidup karena akan mudah terjatuh dalam jurang kesengsaraan.

Jangan meniru kehidupan foya-foya, karena akibatnya bisa jatuh miskin.
Jangan bertindak secara arogan, bila orang banyak marah maka yg rugi adalah diri sendiri.
Jangan ragukan Hukum Sebab Akibat, sebab Karma akan terlihat di depan mata.
Jangan permainkan Hukum Negara, karena akibatnya akan sangat berat.
Jangan jauhi kampung halaman, sebagai tanda hormat kepada leluhur

Jangan jauhi orang baik, karena bisa membantu kita keluar dari masalah.
Jangan menggunakan emosi dalam menyelesaikan masalah, karena penyesalan selalu datang terlambat.
Berbicara jangan menyakiti hati orang, karena bisa mengurangi rejeki hidup.
Jangan pandang rendah mereka yang miskin, pikirkan masa-masa lalu Anda.
Jangan sia-siakan pahala para leluhur karena bisa mendatangkan bencana.

Sesama saudara jangan saling menyakiti, karena sama-sama berasal dari satu ibu dan ayah.
Jangan lakukan pergaulan sesuka hati, kenalilah orang dengan baik.
Jangan terlalu berangan-angan, karena tidak ada gunanya. Jangan melukai kaum wanita, karena merekalah yg melahirkan dan menjaga anak.
Jangan melakukan kejahatan, segeralah bertobat.
Jangan lupakan para leluhur, bila tidak untuk apalah menjadi anak cucu.

Hubungan antar tetangga jangan dirusak, seharusnya saling menghormati dan membantu.
Janganlah lakukan hal yg bukan menjadi kepentingan Anda, agar terhindar dari masalah dan bencana.
Jangan mengeluh karena miskin, untuk hidup kaya harus dimulai dari kerja keras.
Jangan turut ikut campur perdebatan orang lain, karena hanya akan melukai salah satu pihak.
Jangan membuang kertas atau buku-buku, karena buku adalah barang berharga dunia.

Dalam rumah tangga jangan ada kasih sayang yang tidak adil, karena bisa mendatangkan kabut dalam keluarga.
Jangan menganggap remeh uang dan harta benda, karena semua itu diperoleh dengan tidak mudah. Jangan meminum alkohol dengan berlebihan, karena bisa merusak tubuh.
Jangan tergoda oleh kecantikan dan kenikmatan, karena balasan akan segera tiba.
Jangan melihat buku porno, karena ini bagaikan memakan kotoran.
Jangan ada niat negatif, karena bisa mendatangkan bencana.

Jangan melawan orang tua, pikirkanlah bahwa tubuh ini adalah pemberian mereka.
Jangan terlantarkan pekerjaan sendiri, sadarilah untuk apa Anda berjuang.
Jangan bawa permasalahan ke pengadilan, walaupun menang juga tidak ada artinya.
Masa kecil jangan bermain tanpa batas, setelah dewasa apa yg bisa diperbuat?.
Jangan membuang-buang makanan, karena makanan adalah sumber kehidupan.

Di bagian belakang Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis terdapat ruangan memanjang dengan dua batu besar petilasan Embah Sakee dan Eyang Jayaningrat. Di sana ada sarung, peci, kain ustad, payung susun tiga, bendera merah putih, kaligrafi Arab, sajadah dan mukena, tasbih, dan sejumlah benda lainnya. Baru kali ini saja jumpai kelenteng yang menyediakan tempat sholat, berikut perlengkapannya.

kelenteng pan kho bio pulo geulis bogor
Di emperan kanan Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis terdapat petilasan Eyang Prabu Surya Kencana dengan dua patung kepala harimau hitam, patung harimau putih kecil, harimau loreng hitam kuning, dua harimau lainnya, sebuah hiolo, lampu minyak, dan sebuah kura-kura batu berukuran besar. Bersebelahan dengan petilasan Embah Imam. Menurut Wiwi, petilasan ini merupakan pindahan dari Jalan Pajajaran.

Lebih lanjut Wiwi mengatakan bahwa di Kelenteng Pan Kho Bio Pulo Geulis ini pada setiap malam Jumat digunakan oleh umat Islam sebagai tempat untuk tawasulan. Juga digunakan sebagai peringatan Maulud, dan tempat buka bersama pada bulan Ramadhan. Pada dinding memang menempel Program Vihara Maha Brahma (Pan Kho Bio) yang diantaranya menyebutkan pada 30 Januari 2013 ada Peringatan Maulid Nabi Muhammada SAW serta sedekah Maulud. Kelenteng yang unik.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 27 Mei 2017.

Lalu «
Baru » »