Kelenteng Pak Kik Bio Surabaya

Kelenteng Pak Kik Bio saya kunjungi lebih karena berjodoh ketimbang karena direncanakan, oleh sebab meskipun telah mengumpulkan informasi tentang tempat wisata dan tempat menarik lainnya di Surabaya, termasuk Kelenteng Pak Kik Bio, namun saya tidak membuat rute perjalanan.

Karena lokasi Kelenteng Pak Kik Bio ini berada di Jalan Jagalan karenanya tempat ibadah ini sering disebut sebagai Kelenteng Jagalan, untuk membedakannya dengan kelenteng di jalan lainnya yang ada di kota Surabaya.

Sebuah Kim Lo (tempat membakar kertas) berbentuk pagoda tingkat tiga berada di halaman sebelah kiri. Sepasang Ciok Say, singa penjaga pintu kelenteng, duduk di kiri kanan depan serambi, dan di atas wuwungan terdapat sepasang naga yang tengah memperebutkan mustika.

kelenteng pak kik bio
Kelenteng Pak Kik Bio dilihat dari bawah lengkung pintung gerbang depan. Kelenteng ini terlihat unik dengan adanya serambi menjorok ke depan yang seingat saya baru pertama kali ini saya jumpai di sebuah kelenteng.

kelenteng pak kik bioKelenteng Pak Kik Bio dengan sebuah hiolo (bokor batang hio) untuk Tian (Tuhan) berkaki tiga berada di tengah serambi depan. Kaki hiolo lazimnya menyerupai bentuk kaki harimau. Deretan lampion berwarna merah dengan ornamen kuning keemasan menggelantung di kiri kanan serambi.

Warna merah biasanya mendominasi warna sebuah kelenteng, karena dipercaya melambangkan kegembiraan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Sedangkan warna kuning atau kuning keemasan melambangkan kemuliaan, kerajaan, kesentosaan dan kekayaan.

kelenteng pak kik bioKelenteng Pak Kik Bio dengan sebuah genta yang berada di dekat dinding berlambang Patkwa dan Yin-Yang. Genta dalam kepercayaan Konghucu melambangkan suluh kehidupan, serta dibunyikan sebagai tanda untuk berkumpul dan siap untuk melaksanakan upacara keagamaan.

Patkwa adalah sebuah simbol yang diperkenalkan oleh Kaisar Fu Hsi (2582 SM) dengan garis-garis lurus tanpa putus (Yang I, simbol maskulin) dan garis-garis patah dua (Yin I, simbol feminin), di dalam sebuah segi delapan yang menggambarkan delapan situasi kehidupan, yaitu perkawinan, ketenaran, kekuasaan, keluarga, pengetahuan, karir, orang-orang berguna, dan anak-anak.

kelenteng pak kik bioKelenteng Pak Kik Bio pada altar utama untuk memuja Kongco Hian Thian Siang Tee. Di sekitar altar terdapat lilin, hiolo, beberapa botol air mineral, beberapa piring buah-buahan, lampu minyak dan umbul-umbul.

Hian Thian Siang Tee merupakan salah satu dewa paling terkenal dengan kedudukan sangat tinggi, setingkat di bawah Giok Hong Tai Te (dewa tertinggi), dan merupakan salah satu dari Se Thian Sang Ti (Empat Maha Raja Langit).

Hian Thian Siang Te menjadi pemimpin tertinggi para Dewa di Langit bagian Utara dan arcanya selalu digambarkan menginjak kura-kura dan ular. Di kiri kanan Hian Thian Siang Te biasanya terdapat patung Jenderal Zhao dan Jenderal Kang, pengawalnya.

kelenteng pak kik bioKelenteng Pak Kik Bio dengan hiolo yang bertuliskan Kongtjo Hian Thian Siang Te.

Menurut cerita, Zhu Yuan Zhang (pendiri Dinasti Ming) di awal perjuangannya pernah mengalami kekalahan besar dalam sebuah pertempuran sehingga terpaksa bersembunyi di Kelenteng Siang Te Bio di Pegunungan Bu Tong, provinsi Hu Bei. Di bawah perlindungan Hian Thian Siang Te, Zhu Yuan Zhang berhasil lolos dari kejaran pasukan Mongol.

Hian Thian Siang Te pula yang membantu Zhu Yuan Zhang sehingga ia berhasil menumbangkan Dinasti Yuan dan mengusir orang Mongol. Zhu Yuan Zhang kemudian mempersatukan Cina, mendirikan Dinasti Ming, dan mendirikan kelenteng Nan Jing dan di Bu Tong San untuk mengenang jasa-jasa Hian Thian Siang Te.

kelenteng pak kik bioKelenteng Pak Kik Bio pada altar Kwan Im Hud Co, Dewi Welas Asih yang dipuja oleh penganut Buddha, Tao dan masyarakat Cina pada umumnya.

Kwan Im Hud Co merupakan penolong bagi orang-orang yang sedang sengsara dan menderita dan penolong roh-roh yang menderita di neraka, sehingga biasa diusung dalam sembahyang memberi makan roh-roh kelaparan yang diadakan pada bulan 7 Imlek dengan nama Pho To Kong.

kelenteng pak kik bioKelenteng Pak Kik Bio pada sebuah sudut ketika seorang nenek tengah melipat kertas di depan ukiran ikan besar yang terbuat dari kayu.

Ikan, yang mampu berenang melawan arus sungai dan sanggup melompat melewati air terjun untuk menuju ke hulu, merupakan lambang keteguhan niat dalam menghadapi tantangan.

kelenteng pak kik bioKelenteng Pak Kik Bio dengan sebuah tambur menggantung di sebuah sudut, yang ketika dipukul pada sebuah upacara dipercayai akan memanggil para dewa untuk turun ke bumi, dan di belakangnya terdapat ornamen harimau di sebelah kiri dan burung Hong di sebelah kanan.

kelenteng pak kik bioKelenteng Pak Kik Bio pada sebuah rumah-rumahan kecil yang merupakan altar untuk memuja Wie Tho Poo Sat, putera Raja Langit yang memimpin 31 jenderal langit dan bergelar Hu Fa Pu Sa. Wie Tho Poo Sat konon memenangkan ratusan pertempuran dengan jalan damai, tanpa membunuh lawan, dan diramalkan bakal menjadi Buddha terakhir.

kelenteng pak kik bioKelenteng Pak Kik Bio dibangun pada 8 April 1951 dan peresmiannya dilakukan pada 17 Juni 1952. Semula tempat ini merupakan rumah tinggal Kho Sien Tjing, namun ketika rumahnya terbakar terkena bom sewaktu perang kemerdekaan tahun 1946, ia dan keluarganya menyingkir ke Tretes. Beberapa tahun kemudian, Kho mewakafkan tanahnya kepada Gan Ban Kiem untuk dibangun sebuah kelenteng.

Klenteng Pak Kik Bio Surabaya

Alamat : Jl Jagalan No. 74-76, Surabaya. Lokasi GPS : -7.24812, 112.74453, Waze. Rujukan : Tempat Wisata di Surabaya, Peta Wisata Surabaya, dan Hotel di Surabaya.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jawa Timur » Surabaya » Kelenteng Pak Kik Bio Surabaya

By Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email for newly published posts. Updated on 12 Juli 2017. Tag:

Tulisan lainnya : Hotel di Rokan Hulu | Tempat Wisata di Cianjur | Makam Syekh Bela-Belu Parangtritis Bantul | Masjid Hidayatullah Jakarta | Makam Nyi Mas Ratu Gandasari Cirebon | Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan Jepara | 119 Peta Wisata Yogyakarta | WhatsApp Sharer Tanpa Plugin | Hotel di Tulungagung | 27 Tempat Wisata di Agam |