Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja

Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja akhirnya saya kunjungi juga. Karena datang dari arah Purwokerto, saya turun dan menyeberangi Jl Jenderal Sudirman Sokaraja. Pintu pagar kelenteng terlihat tertutup dan tak ada tempat parkir di depan kelenteng. Tri lanjut mencari tempat parkir setelah belok kanan di pertigaan jalan.

Pintu kembar kelenteng tidak digembok sebagaimana saya duga semula. Dengan menggeser daun pintu pagar saya pun bisa melangkah masuk ke dalam halaman kelenteng. Suasana Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja masih terlihat sepi pagi itu. Waktu sembahyang belum lagi tiba.

Ruang tengah Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja ini setengah terbuka. Ada bagian tanpa dinding yang berada di sebelah kiri kanan ruangan, diselang-seling dengan tembok tertutup. Pada tembok itu terdapat lukisan dinding yang besar dan indah. Lukisan itu merupakan sumbangan Soegiarto yang berasal dari Mojokerto, diberikan pada 10 Oktober 2002.

kelenteng hok tek bio sokaraja
Tampak muka Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja yang terlihat cantik dengan sepasang naga berebut mustika diwuwungan gapura beratap pelana. Gapura Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja ini letaknya terpisah dari bangunan utama, berjarak sekitar 1,5 meter di depannya. Namun karena tidak ada tembok di kiri kanannya maka gapura ini terlihat agak unik.

Di atas tiang kiri, terdapat relief burung hong, di tiang kanan ada relief naga, dan di keempat tiangnya terdapat relief lukisan daun, buah, bunga, seruling, pohon bambu, obor, pedang, kipas, dan labu. Pada kedua sisi dinding luar terdapat relief dewa berpakaian perang dengan tangan memegang pedang terhunus, berdiri melayang di atas awan.

Pada salah satu dinding ruang depan terdapat lukisan seorang raja dengan panglima perang dan seorang sastrawan. Raja itu adalah Kwan Kong, panglima perangnya adalah pengawal setianya bernama Ciu Chong, dan sastrawannya adalah anak angkatnya bernama Koan Phing. Lukisan yang indah ini juga sumbangan Soegiarto pada 10 Oktober 2002.

kelenteng hok tek bio sokaraja
Lukisan Dewi Kwan Im di Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja, digambarkan berada di atas awan bersama seekor naga. Lukisan ini disumbangkan oleh Oeng Fa Sing, Fujing, Fujian, Cina, yang juga diberikan pada 10 Oktober 2012. Entah ada peristiwa apa pada tanggal itu, sehingga sumbangan lukisan-lukisan itu semuanya diberikan pada hari yang sama.

Ada pula lukisan Dewi Kwan Im lainnya yang digambarkan tengah duduk di atas sekuntum bunga teratai yang elok, dilayani seorang dayang kecil serta dijaga oleh seekor naga bersisik hijau dengan garis kuning di perutnya. Lukisan cantik ini merupakan sumbangan Oeng Hie In dari Jian Wan Cowloon, Hongkong, diberikan pada 10 Oktober 2002.

Di sebuah altar tampak hiolo keemasan berukir cantik diapit tempat lilin. Ada altar pemujaan Kwan Tee Koen (Kwan Kong) di Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja. Kwan Tee Koen (160 – 219) adalah jenderal utama Negara Shu Han pada Jaman Tiga Negara. Ia dilahirkan di Kabupaten Jie, wilayah Hedong (sekarang kota Yuncheng, Provinsi Shanxi).

kelenteng hok tek bio sokaraja
Altar pemujaan Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja bagi Hok Tek Tjeng Sin (Dewa Bumi) yang disembah para petani agar mendapatkan panen yang melimpah dan dipuja para pedagang agar rizki mereka dalam perniagaan selalu berjalan lancar. Sebuah altar di bagian bawah merupakan tempat sembahyang bagi Lao Hu Shen (Dewa Macan) dan Long Shen (Dewa Naga).

Seingat saya, di semua kelenteng yang pernah saya kunjungi, altar untuk Dewa Macan ini selalu berada di dalam kolong. Di Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja juga ada altar untuk Kwan She Im Pho Sat. Pada jaman Tiongkok kuno, Kwan She Im Pho Sat telah dikenal dengan sebutan Pek Ie Tai Su, Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih, atau Dewi Welas Asih.

Setelah agama Buddha masuk dan berkembang di Tiongkok, Dewi Kwan Im diasosiasikan dengan perwujudan Buddha Avalokitesvara. Di kelenteng ini juga ada altar pemujaan Buddha dalam wujud Omi Tho Hut, Bi Lek Hut, dan Sakyamuni Hut. Meskipun kecil, Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja terlihat cukup terawat, dan ada petugas kebersihannya.

Altar Ji Kong pun ada di Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja. Ji Kong (Ji Gong) dipuja sebagai pahlawan, didaulat sebagai dewa dan sering diundang para cenayang. Ia digambarkan mengenakan pakaian pendeta dengan sebotol anggur di tangan kanan dan kipas sakti di tangan kirinya. Pada kepalanya terdapat topi bertuliskan huruf Fo yang berarti Buddha.

Senang juga telah berkunjung ke Kelenteng ini lantaran sejak kecil tsering lewat di depannya namun baru kali itu masuk ke dalamnya. Jika melintas di Sokaraja, sebelum atau sesudah makan Sroto Kecik dan membeli oleh-oleh Getuk Goreng, sempatkan mampir ke Hok Tek Bio Sokaraja, kelenteng tua yang dibangun pada tahun 1826 ini.

Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja

Alamat : Jalan Jenderal Sudirman, Sokaraja, Banyumas. Lokasi GPS : -7.42608, 109.24917, Waze. Galeri : 16 foto. Rujukan : Peta Wisata Banyumas . Tempat Wisata di Banyumas . Hotel di Purwokerto. Galeri (16 foto) Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja Banyumas : 1.Tampak muka, 2.Dewi Kwan Im, 3.Dewa Bumi, 4.Puteri, 5.Kwan Kong 6.Kwan Im 7.Hiolo 8.Ruangan 9.Kwan Tee Koen … s/d 16.Samping Muka.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Tengah » Banyumas » Kelenteng Hok Tek Bio Sokaraja
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 16 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap