Kelenteng Hok Ling Bio Kudus

Dari luar, bangunan Kelenteng Hok Ling Bio Kudus tidak terlihat terlalu menonjol, lantaran meski puncak atapnya berbentuk pelana namun tak ada patung naga berebut mustika atau patung burung Hong yang biasa menghias atap kelenteng. Boleh jadi karena kelenteng ini utamanya digunakan oleh penganut agama Konghucu, meski resminya merupakan kelenteng Tri Dharma sebagaimana terlihat pada prasastinya.

Pada pilar pagar sebelah kiri terdapat lambang Tao yang disebut Tai Ji, atau Yin Yang, berbentuk lingkaran dengan lekuk putih seperti kecebong berbintik hitam dan lekuk hitam berbintik putih yang menggambarkan alam semesta serta hukum alam dan kehidupan di dalamnya. Kelenteng ini memiliki pagar lempeng besi tak tembus pandang dan tombak-tombak di atasnya yang terkesan agak kurang ramah, namun pintunya tak dikunci.

Di sisi sebelah kanan terdapat papan berisi tulisan yang berisi sejumlah larangan dan ancaman hukuman karena status kelenteng ini sebagai Benda Cagar Budaya yang dilindungi oleh undang-undang. Belakangan saya baru tahu bahwa Kelenteng Hok Ling Bio Kudus adalah salah satu kelenteng tertua di wilayah ini yaitu berdiri pada abad ke-15 dan disebut-sebut lebih tua dari Masjid Menara Kudus.

kelenteng hok ling bio kudus
Penampakan pada ruang utama Kelenteng Hok Ling Bio Kudus dengan kain bersulam huruf Tionghoa dan figur dewa yang menutupi bagian meja altar depan. Di atas meja itu terdapat sebuah hiolo, dua buah bumbung berisi batang-batang bambu atau kayu bertulis ramalan, dan sepasang kayu berbentuk khusus yang digunakan dalam ritual Ciamsi.

Di belakang sana dan di sebelah kiri kanan adalah altar-altar sembahyang bagi para dewa, yang juga disebut sebagai Sen Ming / Sin Bing atau roh parasuci / roh bercahaya. Rupang atau patung-patung itu melambangkan roh para manusia suci yang semasa hidupnya berjasa besar bagi rakyat dan negara. Perbuatan dan sifat mulia saat mereka hidup itu yang diteladani dan ditiru.

kelenteng hok ling bio kudus
Altar sembahyang bagi Hok Tek Tjing Sien / Hok Tek Tjeng Sin atau Dewa Bumi, yang biasanya menjadi tempat sembahyang utama bagi para pedagang dan petani untuk mendapat berkah rizki yang melimpah. Tiang yang biasanya dililit sepasang naga, pada tiang sebelah kiri altar ini digantikan dengan burung Hong atau burung Phoenix. Rupang-rupang pada altar ini tidak bisa dibilang halus, namun unik dan terlihat tua.

Hok Tek Ceng Sin yang juga disebut To Tee Kong adalah simbol dari perwujudan alam semesta yang memberi sumber hidup bagi manusia. Hok Tek Ceng Sin sendiri bisa diartikan sebagai Semangat Meluruskan Kebajikan akan Mendapatkan Berkah. Agar doa permohonannya terkabul, sebelum bersembahyang di altar ini orang dianjurkan berbuat amal kebaikan terlebih dahulu kepada sesama mahluk.

kelenteng hok ling bio kudus
Altar sembahyang bagi Dewi Kwan Im Posat dengan sejumlah rupang diletakkan di sana, satu diantaranya dalam wujud seorang dewi cantik dan berwajah lembut. Sama halnya di altar sebelumnya, tiang sebelah kiri juga dililit burung Hong (Feng huang). Kepala burung Hong konon melambangkan kebajikan, sayapnya simbol tanggung jawab, punggungnya lambang perbuatan baik, dadanya simbol kemanusiaan, dan perutnya melambangkan sifat terpercaya.

Menurut cerita, Dewi Kwan Im semasa hidupnya adalah seorang putri dari negara bagian Miao di jaman dinasti Zhou abad ke-12 SM. Sang putri memiliki sifat yang baik budi dan sangat welas asih kepada semua orang sehingga mendapat julukan Dewi Kuan Im, atau Guan Yin Niang-niang. Ketika agama Buddha masuk ke daratan Tiongkok pada abad ke-5 Masehi, sang dewi dianggap sebagai perwujudan Bodhisatwa Avalokitesvara dan disebut Kwam Im Posat.

kelenteng hok ling bio kudus
Altar sembahyang bagi Kwan Tee Koen atau Kwan Seng Tee Kun atau Kwan Kong, yang juga diapit oleh burung Hong dan naga. Kwan Kong yang hidup di jaman Sam Kok (Tiga Negara) adalah jenderal perang yang dipuja karena sifat kepahlawanannya. Ia rendah hati, setia, patriot, dan setiap tindakannya berpegang teguh pada ajaran pribadi yang luhur. Pengikut Buddha Mahayana menyebutnya sebagai Kwan Tee Pou Sat atau Ka Lam Pou Sat.

Sebagaimana umumnya kelenteng, di teras bagian depan terdapat hiolo Thian berkaki tiga bertulis nama kelenteng. Hiolo ini indah lantaran ketiga kakinya merupakan badan ular naga dengan kepalanya ada di bawah. Altar sembahyang lainnya yang ada di dalam Kelenteng Hok Ling Bio adalah altar Cow Soe Kong, Bi Lek Hud, Kong Tik Tjoen Ong, dan altar Houw Tjiang Kun (Jenderal Harimau, Datuk Harimau, pengawal Hok Tek Tjeng Sin).

Lokasi Kelenteng Hok Ling Bio Kudus berjarak sekitar 350 meter dari Masjid Menara arah ke timur, sekitar 90 meter sebelum Jembatan Kali Gelis, berdiri diatas lahan seluas 611 m2. Bangunan kelenteng yang lusnya 300,8 m2 pernah mengalami renovasi dua kali, yaitu pada tahun 1889 dan tahun 1976.

Setiap malam Jumat di kelenteng ini diselenggarakan ibadah bagi umat Konghucu. Ibadah di Litang biasanya dilakukan setiap tanggal 1 dan 15 Imlek, namun ada yang hari Minggu atau hari lain. Di sana ada pula pohon Dewa Daru yang oleh Jawa dipercaya memiliki kekuatan magis, namun saya tak melihatnya. Terakhir, karena tak bertemu penjaga kami pun tak bisa minum Teh Tong Ci gratis di kelenteng yang dikelola oleh Yayasan Nyoo Thiam Huk ini.

Kelenteng Hok Ling Bio Kudus

Alamat : Jl. Madurekso No 02, Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Lokasi GPS : -6.80587, 110.83495, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Tempat Wisata di Kudus, Peta Wisata Kudus, Hotel di Kudus. Galeri (15 foto) Kelenteng Hok Ling Bio Kudus : 1.Altar, 2.Dewa Bumi, 3.Kwan Im, 4.Kwan Kong, 5.Hiolo Thian, 6.Prasasti, 7.Hiolo, 8.Naga, 9.Cow Soe Kong … s/d 15.Depan.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jawa Tengah » Kudus » Kelenteng Hok Ling Bio Kudus

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email. Diperbaiki 22 Juli 2017. Tag: