Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas

Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas merupakan tempat pertama yang saya kunjungi setiba di Kota Banyumas, kota kecil yang namanya menjadi nama kabupaten dan berarti “air emas”. Ini karena Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas merupakan tempat terdekat setelah menyeberang Kali Serayu, sekitar 100 m dari bibir sungai.

Kota Banyumas sangat dekat dengan Kali Serayu. Pusat pemerintahannya 500 m dari sungai, sehingga dulu sering banjir karena luapan Kali Serayu di musim hujan. Karena itulah ibukota pemerintahan dipindahkan ke Purwokerto yang berkembang jauh lebih pesat dari Banyumas.

Kunjungan ke Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas ini terjadi pada 12 September 2012. Ketika menulis kelenteng inilah saya bary tahu bahwa bangunan tua ini telah habis terbakar pada dinihari 24 Oktober 2012. Beruntung cukup banyak foto yang saya ambil sehingga bisa memberi gambaran kecantikan Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas sebelum terbakar.

kelenteng boen tek bio banyumas
Gerbang bagian belakang Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas yang berbentuk bulatan dengan lukisan relief burung bangau di sebelah kiri dan seekor kijang di sisi kanan. Namun alih-alih belok ke kanan masuk ke dalam kelenteng, saya meneruskan langkah menuju gedung besar yang semula saya kira merupakan bangunan utama kelenteng ini.

Bangunan itu ternyata Aula Gedung Tri Darma Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas yang terasnya ditopang enam pilar berlilit naga, dijaga Ciok Say (singa) jantan dan betina. Di tengah risplang terdapat relief pria dan wanita yang duduk di punggung burung hong. Di belakangnya ada relief naga, burung, bangau, Ciok Say, kijang, dan ikan berkepala naga.

Mengapit pintu lantai dua adalah lukisan besar seekor burung hong dan naga yang saling berhadapan. Prasasti indah berukir naga ada di depan Gedung Tri Darma Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas. Karena tidak ada yang menarik di dalam gedung, saya pun berjalan ke arah kelenteng dan masuk melalui gerbang bulat di belakang itu.

kelenteng boen tek bio banyumas
Di dalam Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas juga ada altar Lok Sing Kun (Dewa Kebahagiaan), Hok Sing Kun (Dewa Rejeki), dan Siu Sing Kun (Dewa Panjang Umur). Lukisan beberapa ekor macan dan lukisan ketiga dewa itu juga terlihat menempel pada dinding depan altar ini. Ada pula Altar Dewi Kwan Im dengan rupang indah besar dan kecil.

Rupang-rupang Dewi Kwan Im itu dikabarkan tidak bisa diselamatkan dari amukan api. Altar Lung Sen (Dewa Naga) juga ada, dan ada altar Mbah Kuntjung di Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas sebagai penghormatan pada leluhur setempat. Tak ada arca di altar ini, hanya relief tiga bilah keris pada joli, dan dua keris telanjang pada dinding.

Sebelumnya saya lihat aula terbuka di sisi kiri Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas. Lukisan klasik yang besar indah tampak pada dindingnya, dan langit-langitnya dihias bermacam ornamen. Altar Thian Kong ada tepat di depan kelenteng. Lalu ada patung kuda terbang di atas bola dunia, kimlo, dan sepasang naga berebut mustika di atapnya.

kelenteng boen tek bio banyumas
Tampak muka Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas sebelum terbakar. Bangunan asli diperkirakan dibangun sekitar tahun 1826. Sebelum dipakai sebagai tempat ibadah Tri Dharma, bangunan ini sempat digunakan sebagai gedung Sekolah Dwi Tunggal, SMP Negeri 1 Banyumas, dan SD Kristen Banyumas, sebelum baru digunakan sebagai kelenteng sejak 1960.

Pada Altar Tiga Nabi terdapat rupang Konghucu, Bi Lek Hud (Mi Le Fo, Buddha Gendut yang Gembira), dan Lao Tzu. Lambang Konghucu (Genta Rohani), Buddha, dan lambang Tao (Yin-Yang) terlihat pada sisi depan altar. Ada pula sebuah foto kuno, panduan Etika Sembahyang, dan sebuah papan berisi ajakan kerukunan beragama di sebelah kiri belakang.

Juga ada altar Kwan Kong Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas. Di sebelah kiri tertera tulisan Tjao Yang Ciang Kun (Ciu Chong), pengawal setia Kwan Kong, dan yang di sebelah kanan adalah Koan Phing, anak angkatnya. Kwan Kong dipuja karena keteladanan kejujuran dan kesetiaannya, dan sebagai kesatria sejati yang selalu menepati janji dan setia pada sumpah.

Sepasang patung naga yang sangat indah saya lihat di altar Hok Tek Tjeng Sin (Dewa Bumi) Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas. Di kolongnya adalah altar Lao Hu Shen (Dewa Macan). Melihat altar Hok Tek Tjeng Sin dari sisi lain akan tampak deretan lilin berukuran sedang di sisi kanannya. Di dalam kelenteng, nyala api lilin memang tidak boleh mati.

Pembangunan kembali kelenteng setelah terbakar itu diperkirakan membutuhkan biaya hingga empat setengah milyar rupiah, mungkin pula lebih. Dengan biaya pembangunan sebesar itu maka bangunan dan isi kelenteng yang baru saat ini tentu sudah jauh lebih cantik dan artistik ketimbang yang saya tangkap pada foto-foto yang saya buat ini.

Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas

Alamat : Jl. Pungkuran, Belakang Pasar, Banyumas. Lokasi GPS : -7.510399, 109.293988, Waze. Galeri : 20 foto. Rujukan : Peta Wisata Banyumas . Tempat Wisata di Banyumas . Hotel di Purwokerto. Galeri (20 foto) Klenteng Boen Tek Bio Banyumas : 1.Gerbang belakang, 2.Lok Sing Kun, 3.Tampak muka, 4.Gedung Tri Dharma, 5.Prasasti 6.Ornamen 7.Aula 8.Lukisan Klasik 9.Blandar … s/d 20.Mbah Kuntjung.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Tengah » Banyumas » Kelenteng Boen Tek Bio Banyumas
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 16 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap