Kelenteng Boen Bio Surabaya

Kelenteng Boen Bio berada di tepi Jalan Kapasan, Surabaya, sehingga mudah dikenali pada waktu kami akan melintas di depannya, beberapa saat setelah mengunjungi Benteng Kedung Cowek. Jalanan di depan Kelenteng Boen Bio cukup ramai, dan tidak ada lahan parkir khusus di depan kelenteng.

Kelenteng Boen Bio Surabaya

Alamat : Jalan Kapasan 131, Surabaya.
Lokasi GPS : -7.23930, 112.74796, Waze.
Rujukan : Tempat Wisata di Surabaya, Peta Wisata Surabaya, dan Hotel di Surabaya.

Beruntung Apey menggunakan supir untuk mengendarai mobilnya, sehingga kami bisa turun terlebih dahulu di depan kelenteng. Kelenteng Boen Bio terlihat sangat cantik, seperti baru saja bersolek, dengan warna-warni cat terang menyala khas kelenteng yang didominasi warna merah, kuning emas dan biru laut.

Kelenteng Boen Bio kabarnya merupakan satu-satunya kelenteng khusus bagi penganut Konghucu di Asia Tenggara. Kelenteng aslinya dibangun pada 1883 di Kapasan Dalam dengan nama Boen Thjiang Soe, dan baru dipindahkan ke tempat yang sekarang pada 1907.

kelenteng boen bioKelenteng Boen Bio dengan dua dari empat pilar naga di bagian depan kelenteng dengan detail ornamen dan warna kuning emas biru laut yang sangat indah. Naga adalah penolak roh jahat dan penjaga keseimbangan Hongsui.

Tepat di belakang pagar, terdapat sepasang patung Ciok Say, singa batu penjaga pintu masuk kelenteng dan penolak roh jahat yang seolah-olah mengawasi lalu lalang orang dari sela jeruji besi.

Singa jantan biasanya berada di sebelah kiri dengan bola di kakinya, sedangkan yang di sebelah kanan adalah singa betina dengan anaknya.

kelenteng boen bioKelenteng Boen Bio di bagian ruang utama, dengan deretan bangku di kiri dan kanan ruang yang belum pernah saya jumpai ada di kelenteng lain.

Jika langit-langitnya terlihat sederhana saja, maka keramik pada lantai Kelenteng Boen Bio ini terlihat sangat indah.

kelenteng boen bio kelenteng boen bioKelenteng Boen Bio dengan dua buah pilar naga di ruang utama yang melambangkan Tiong Si, tepo sliro, yang berarti bahwa dalam hidup ini sesama manusia harus bisa saling bertenggang rasa.

Naga, yang melambangkan kekuatan dan keadilan, adalah mahluk mitos yang memiliki mata kelinci, kepala unta, tanduk rusa, badan ular, sisik ikan, paha harimau dan bercakar rajawali. Selain pada pilar, ornamen naga biasa ditemui di bagian atap kelenteng, pada hiolo dan lampion.

kelenteng boen bioKelenteng Boen Bio dengan patung Khonghucu di sebelah kiri dan potret Gus Dur di sebelah kanan.

Ketika menjabat sebagai Presiden ke-4, Gus Dur menerbitkan Kepres 6 tahun 2000 yang mencabut Inpres Nomor 14 Tahun 1967 yang dikeluarkan pemerintah Orde Baru. Inpres No. 14 ini menetapkan larangan bagi penyelenggaraan semua kegiatan keagamaan, kepercayaan dan adat istiadat Cina di Indonesia.

Gus Dur juga menetapkan Imlek sebagai hari libur fakultatif pada 2001, dan kemudian sebagai hari libur nasional dengan terbitnya Kepres 19 tahun 2002 pada masa pemerintahan Megawati.

Menempel pada gebyok kayu di bagian tengah atas adalah plakat bertuliskan Sen Diau Nan Cing (Berkumandang ke Selatan), aseli pemberian Kaisar Cina, yang melambangkan penyebaran ajaran Khonghucu ke bagian Selatan Cina.

kelenteng boen bioKelenteng Boen Bio dengan ornamen naga dengan kepala di bawah yang melilit tiang yang berisi lampu-lampu kecil pada langit-langit kelenteng.

Konghucu, yang bernama aseli Zong Ni, lahir pada 27 Ba Yue ( bulan 8 ) 551 Sebelum Masehi, yang kemudian digunakan sebagai awal kalender Cina. Ia merupakan bungsu dari 11 bersaudara, 9 kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki yang memiliki cacat kaki. Ayahnya bernama Shu Liang He dan ibunya bernama Yan Zheng Zai. Ia menikah pada usia 19 tahun dan dikarunia seorang putera dan dua orang puteri.

Khonghucu pernah menjabat sebagai Walikota Zhong Dou dan Menteri Pekerjaaan Umum di Negeri Lu, serta Perdana Menteri merangkap Menteri Kehakiman. Jabatan itu ditinggalkannya ketika terjadi perbedaan antara dirinya dengan sang raja. Diikuti oleh murid-muridnya ia mengembara selama 13 tahun pada usianya yang ke 56 tahun.

Menjelang akhir pengembaraan itulah Yan Hui, murid terpandai yang diharapkan dapat menggantikannya, meninggal pada 482 SM. Kematian sang murid membuatnya sangat berduka. Khonghucu sendiri meninggal pada 18 Erl Lu (bulan dua) 479 SM.

kelenteng boen bioKelenteng Boen Bio dengan daftar para dermawan yang menyumbang pemugaran kelenteng yang dipasang pada salah satu dindingnya.

Boen berarti sastera atau budaya, dan bio berarti kelenteng atau tempat ibadah. Kelenteng Boen Bio memang pada awalnya dibuat untuk memuja dewa kesusastraan Boen Tjhiang dan Khonghucu. Namun Patung Dewa Boen Tjhiang telah dipindahkan ke Kelenteng Kampung Dukuh.

kelenteng boen bioKelenteng Boen Bio dengan sebuah hiolo di meja altarnya. Pada kain penutup meja ini terdapat sulaman binatang mitologi Cina yang disebut Kilin.

Kilin memiliki badan rusa, berkepala naga, dengan surai dan ekor singa, yang bisa berjalan di atas air, dan memiliki sifat lembut, cerdas, bijak, berhati besar, menarik hati, serta berumur panjang. Konon Kilin menampakkan diri pada saat Khonghucu dilahirkan dan muncul kembali pada saat ia meninggal dunia.

kelenteng boen bioKelenteng Boen Bio memiliki papan di altarnya yang berisi nama Khonghucu dan nama delapan puluh murid terbaiknya, yang terpilih dari 3000 murid yang berguru kepadanya.

Karya Khonghucu terbagi menjadi dua kelompok. Yang pertama adalah hasil rangkuman yang dilakukannya terhadap karya-karya terdahulu yang dianggapnya penting dalam mencapai keharmonisan, yang terdiri dari Shih Ching (buku Puisi), Shu Ching (buku Sejarah), I Li ( buku Upacara), I Ching (buku Perubahan), Yueh Ching (buku Musik) dan Ch’un Ch’iu (buku Musim Semi dan Musim Gugur).

Yang kedua merupakan hasil rangkuman para muridnya yang berisi ajaran-ajaran Khonghucu kepada mereka. Yang kedua inilah yang kemudian dikenal sebagai Konfusianisme.

kelenteng boen bioKelenteng Boen Bio dilihat dari seberang Jalan Kapasan yang sangat sibuk, sehingga meskipun berhasil memotret ketika tidak ada kendaraan lewat, ada saja mobil yang parkir di depan kelenteng.

Menulis tentang Kelenteng Boen Bio ini membuat saya menjadi lebih faham tentang Imlek, yang sebentar lagi akan dirayakan oleh masyarakat keturunan Cina yang masih setia menjaga tradisi leluhurnya yang telah berlangsung ribuan tahun. Tradisi bisa menjadi pengikat suatu kaum, apa pun agama dan kepercayaan yang dianut oleh masing-masing anggotanya.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jawa Timur » Surabaya » Kelenteng Boen Bio Surabaya
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 25 Juni 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap