Kelenteng Ban Hin Kiong

Kelenteng Ban Hin Kiong lokasinya berada di tepian sebuah jalan yang lalu lintasnya cukup padat, yaitu Jl. DI Panjaitan, Manado, Sulawesi Utara. Kelenteng Ban Hin Kiong ini didirikan pada 1819, dan tampaknya merupakan kelenteng yang tertua di Sulawesi Utara. Meskipun demikian, Kelenteng Ban Hin Kiong tetap memancarkan keindahan bangunan dan ornamennya, serta terlihat masih terawat dengan baik.

Kata Ban berarti banyak, Hin adalah berkah berlimpah, sedangkan Kiong artinya istana, atau secara harafiah berarti Istana yang memberikan berkah berlimpah.  Kelenteng Ban Hin Kiong adalah kelenteng Tri Dharma, yaitu kelenteng yang digunakan sebagai tempat beribadah bagi penganut Kong Hu Cu, Tao, dan Buddha.

Kelenteng Ban Hin Kiong
Pintu gerbang masuk ke dalam kompleks Kelenteng Ban Hin Kiong dengan bentuk bangunan, ornamen dan warna oriental yang khas, sementara bangunan utama Kelenteng Ban Hin Kiong tampak di latar belakang dengan halaman depan yang cukup luas.

Kelenteng Ban Hin Kiong
Pintu tengah Kelenteng Ban Hin Kiong ditutup pagar bambu sebagai tanda untuk tidak masuk lewat pintu utama. Sebagaimana juga di Pura, pintu tengah biasanya hanya dibuka ketika ada acara tertentu. Ukiran sepasang burung Hong, atau Phoenix, terlihat indah bertengger di atas pintu utama maupun pintu samping.  Pintu masuk Kelenteng Ban Hin Kiong juga dijaga oleh sepasang arca singa dan sepasang ukiran naga yang melingkar di pilar kelenteng.

Kelenteng Ban Hin Kiong
Foto di atas memperlihatkan undak-undakan dengan ornamen bunga yang merupakan bagian asli dari Kelenteng Ban Hin Kiong yang dipertahankan sampai sekarang. Kelenteng Ban Hin Kiong telah mengalami perbaikan dan renovasi beberapa kali sehingga berbentuk seperti sekarang ini, karenanya sulit untuk menemukan lagi bagian kelenteng yang masih asli.

Sejauh yang dicatat, Kelenteng Ban Hin Kiong pernah direnovasi pada tahun 1854-1859, dan kemudian direnovasi lagi pada tahun 1895-1902.  Kelenteng Ban Hin Kiong kembali diperbaiki setelah rusak terkena pemboman tentara Jepang pada 7 September 1944. Kelenteng Ban Hin Kiong juga pernah terbakar pada 14 Maret 1970, dan pembangunan  kembali Kelenteng Ban Hin Kiong dilakukan pada tahun 1971 – 1975. Pada banyak peristiwa, kerusakan dan kehancuran memberi ruang untuk perbaikan ke tingkatan yang lebih tinggi, bagi mereka yang bisa tetap bertahan.

Saya pun masuk dari pintu samping Kelenteng Ban Hin Kiong, dengan melepas sepatu. Seorang anak muda mendekat dan dengan ramah menyapa, lalu mempersilahkan saya melihat berkeliling untuk memotret, tanpa batasan apa pun.

Setelah berkunjung ke banyak tempat ibadah, baik kelenteng, pura, gereja, mau pun masjid, dibolehkan tidaknya memotret sangat bergantung kepada siapa yang berada di sana ketika itu, ketimbang pada kebijakan yang berlaku. Pendekatan pribadi pun kadang diperlukan.

Kelenteng Ban Hin Kiong
Foto memperlihatkan ornamen dan perlengkapan ibadah khas kelenteng yang berada di ruang utama Kelenteng Ban Hin Kiong, dengan dominasi warna merah dan kuning. Sebuah hiolo (tempat menancapkan batang hio yang dibakar) tampak diletakkan menggantung di tengah ruangan. Sebuah penempatan hiolo yang tidak saya lihat di kelenteng lain.

Kelenteng Ban Hin Kiong
Sebuah altar dengan ornamen patung orang suci dalam pakaian perang yang indah. Panglima perang yang masyhur, seperti Kwan Kong misalnya, Kaisar, atau pun orang yang dipercaya memiliki kelebihan atau kesucian semasa hidupnya, sering dipuja untuk mendapatkan berkah spiritual maupun berkah kehidupan.

Kelenteng Ban Hin Kiong
Altar Tri Nabi Agung, yaitu Lao Tze, Buddha dan Kong Hu Cu yang berada di lantai dua Kelenteng Ban Hin Kiong. Hiolo berwarna keemasan dengan detail ornamen yang indah terlihat menghiasi altar ini.

Kelenteng Ban Hin Kiong
Tiga patung dewa yang terbuat dari keramik dengan detil indah yang masing-masing menggendong seorang bayi dengan raut wajah cerah dan menyejukkan. Beberapa patung dewa ini dan beberapa ornamen di Kelenteng Ban Hin Kiong didatangkan dari daratan Cina.

Kelenteng Ban Hin Kiong
Di lantai tiga Kelenteng Ban Hin Kiong disimpan dua buah meriam antik berukuran sedang yang ditempatkan di sisi kiri kanan ruangan. Meriam antik dengan ornamen indah ini konon merupakan hadiah dari VOC, yang logo dan tahun pembuatannya masih terlihat dengan sangat jelas pada batang meriam, dengan meriam tertua bertahun pembuatan 1778. Pada bagian tengah ruangan terbuka di lantai ini terdapat satu meriam antik yang tidak kalah indahnya dengan ukuran yang lebih kecil.

Kelenteng Ban Hin Kiong
Kelenteng Ban Hin Kiong merupakan sebuah kelenteng cantik di kota Manado, Sulawesi Utara, yang ramah bagi para pengunjung, terutama yang ingin bersembahyang atau pun mereka yang datang untuk sekadar mengagumi keindahan bangunan, arca, ukiran dan ornamen kelenteng yang halus dan indah. Kelenteng Ban Hin Kiong adalah kelenteng yang layak anda kunjungi ketika sedang berada di kota Manado.

Kelenteng Ban Hin Kiong

Alamat: Jl. DI Panjaitan No.70, Manado, Sulawesi Utara. Lokasi GPS: 1.49395, 124.84440. Tempat Wisata di Manado, Hotel di Manado, Peta Wisata Manado

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Sulawesi Utara » Manado » Kelenteng Ban Hin Kiong
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 19 Maret 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap