Kawah Ijen Banyuwangi

Home » Jawa Timur » Banyuwangi » Kawah Ijen Banyuwangi
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Perjalanan ke Kawah Ijen Banyuwangi dimulai dengan Kereta Ekonomi Gaya Baru Malam dari Stasiun Senen ke Surabaya Gubeng yang memakan waktu 16 jam (10.30 – 01.25 hari berikutnya). Kemudian dilanjutkan KA Eksekutif Mutiara Timur Siang dari Surabaya Gubeng ke Karangasem Banyuwangi sekitar 6,5 jam (09.00-15.30).

Banyuwangi ada di ujung timur Pulau Jawa. terkenal dengan keindahan pantainya serta Kawah Ijen, salah satu kawah dengan keasaman mendekati nol terbesar di dunia. Garis terpanjang kawah 925 m,  lebar terpanjang 700 m, berada 300 m di bawah kaldera yang terluas di Pulau Jawa.

Saya berangkat bersama Fani, Anita dan Rica. Kami berempat adalah teman SMA di Padang dan sama-sama menyukai traveling. Kami bertemu di stasiun Gubeng Surabaya karena Fani dan Anita berangkat dari Jogjakarta. Saya bersama Rica sempat menumpang menginap di rumah teman di Surabaya karena sudah datang semenjak dini hari sebelumnya.

Sempat istirahat setelah perjalanan panjang Jakarta-Surabaya-Banyuwangi, kami harus memulai perjalanan dari penginapan di dekat Stasiun Karang Asem pada pukul 01.00. Kami memastikan peralatan pendakian, diantaranya jas hujan, air minum dan makanan, syal, sarung tangan, masker dan senter (memakai lampu kepala akan lebih baik).

kawah ijen banyuwangi
Saat bertemu teman jalan ke Kawah Ijen di Stasiun Gubeng. Dari penginapan ke Pos Paltuding kami naik mobil sewa selama satu jam. Di Pos Paltuding kami bertemu Pak Agus, penjaga warung yang akan menjadi pemandu kami. Setelah sepakat membayar Rp.200.000 kami pun menunggu di warungnya karena pendakian baru akan dibuka pada pukul 03.00.

Sopir mobil sewaan akan menjemput kami lagi sekitar pukul 09.00 pagi. Petugas penginapan dan Pak Agus cukup informatif dalam memberi keterangan tentang Kawah Ijen yang terkenal dengan fenomena blue fire atau api biru. Efek ini disebabkan oleh kandungan belerang yang terdapat di dalam batu yang bersatu dengan suhu dingin saat dini hari.

Ketika melapor ke petugas pengelola Cagar Alam Taman Wisata Ijen, kami membayar karcis masuk Rp.15.000, sedangkan wisman harus membayar Rp.150.000. Karena pendakian kami lakukan di hari Senin setelah libur panjang, maka tak banyak wisatawan lokal yang melakukan pendakian. Agar badan tidak kaget, kami melakukan pemanasan secukupnya sebelum pendakian.

Pendakian kami lakukan dengan santai, tidak ngotot segera mencapai puncak Gunung Ijen yang tingginya 2.443 mpdl dengan tingkat kesulitan treking sedang. Jalan menuju puncak tergolong cukup bagus karena cuaca mendukung dan tanah jalanannya padat serta lebar. Mungkin karena jalurnya sama dengan yang digunakan oleh para penambang belerang.

Kami hanya berhenti sebentar di pos Pondok Bunder yang warungnya masih tutup. Sempat berbincang dengan sesama pendaki, sebelum melanjutkan perjalanan. Tiba di puncak Ijen pukul 04.00, lalu turun 200 m untuk ke Kawah Ijen. Karena masker biasa tak sanggup menahan asap belerang yang tebal, kami pun menyewa masker khusus seharga Rp.30.000

kawah ijen banyuwangi
Blue Fire Kawah Ijen Banyuwangi. Ketika melihat blue fire dari dekat perasaan saya cemas bercampur senang. Cemas karena sewaktu-waktu asap bisa keluar dari dalam kawah dan menerjang siapa saja. Senang karena berhasil sampai puncak dan melihat fenomena langka Kawah Ijen ini, dan rasanya seperti di dalam cawan raksasa dikelilingi bebatuan besar.

Blue fire di Kawah Ijen tergolong langka. Selain Kawah Ijen, tak ada lagi tempat lain di dunia dengan fenomena alam mengagumkan ini. Blue fire pernah digambarkan ada pada jaman dahulu di lereng selatan Gunung Vesuvius Italia serta di Pulau Vulcano. Tidak heran banyak wisman datang ke Kawah Ijen untuk menyaksikan langsung fenomena alam ini.

Kami turun dengan lambat ke kawah dalam suasana alam masih gelap. Aksesnya cukup berat karena melewati batu-batu berukuran besar. Bagi yang fisiknya tidak kuat sebaiknya tidak turun ke kawah karena asap tebal berbahaya yang bisa membuat mata perih dan sulit bernafas. Di puncak kaldera Ijen saja sudah cukup jika ingin melihat blue fire.

Danau vulkanik Kawah Ijen berwarna hijau tosca cantik. Meskipun terlihat elok namun danau ini sangat berbahaya karena air kawah yang volumenya sekitar 200 juta meter kubik itu panasnya mencapai 200 derajat celcius dan memiliki derajat keasaman mendekati nol sehingga orang bisa larut dalam seketika jika sampai tercebur ke dalam air danau.

kawah ijen banyuwangi
Matahari sudah mulai terang ketika kami turun dari Kawah Ijen Banyuwangi. Selama di perjalanan kami sering berpapasan dengan penambang belerang. Mereka sanggup mengangkat beban sampai 100 kg. Apabila berpapasan sebaiknya mendahulukan mereka. Pekerjaan mereka sangat berat dan jumlah uang yang mereka dapatkan tidak sebanding dengan resiko pekerjaannya.

Banyak diantara mereka yang kemudian mengalami bungkuk, punggung melepuh, batuk kronis dan masalah kesehatan lainnya. Sekarang jumlah hanya sekitar 100 orang, dari jumlah semula 300 orang. Kebanyakan mereka beralih ke pekerjaan yang lebih mudah dan tak beresiko besar seperti bertani, berladang ataupun menjadi buruh bangunan di kota.

Pada saat turun kami melihat warung sudah buka dan banyak yang menjual souvenir dari belerang di sekitar warung. Di belakang warung ini terdapat sebuah Pondok peninggalan Belanda yang dahulunya berfungsi sebagai pengendalian irigasi. Menurut info yang kami dapatkan dari Pak Agus, sekarang hanya digunakan sebagai kantor pengelola Konservasi Sumber Daya Alam.

Tepat jam 09.00 kami sudah ditunggu oleh sopir yang akan membawa kami kembali ke penginapan untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke objek wisata lainnya di Banyuwangi. Sebagai tips, baiknya membawa madu sachet untuk menambah tenaga, membawa jaket tebal untuk dipuncak, dan untuk keamanan, ikuti petunjuk pendakian dari pemandu lokal.

Kawah Ijen Banyuwangi selengkapnya: 4.Penambang Belerang 5.Danau 6.Langka 7.Belerang 8.Asap 9.Meranti 10.Gubug 11.Berbahaya 12.Memanggul 13.Pondok 14.Tumbang

Kawah Ijen Banyuwangi

Desa Paltuding, Kecamatan Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi. GPS -8.0620765, 114.2461395 (Kawah Ijen), -8.0736871, 114.2237377 (Paltuding).

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: ,

Oleh Rika Febriani. Tinggal di Jakarta, berasal dari sebuah kota di wilayah Sumatera Barat, merasa beruntung bisa berkeliling Indonesia, kadang bersama teman, kadang untuk urusan pekerjaan, dan banyak lagi yang terjadi dadakan. Lebih menyukai pantai ketimbang pegunungan. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 7 Februari 2017.

Lalu «
Baru » »