Kampung Adat Ke’te’ Kesu’ Toraja

Home » Sulawesi Selatan » Toraja » Kampung Adat Ke’te’ Kesu’ Toraja
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Senja menemani langkah kami memasuki area yang dikenal dengan sebutan Kampung Adat Ke’te’, Kesu’, di Toraja Utara pada penghujung tahun lalu. Setelah membayar tiket masuk di loket jaga di bagian depan, kami memacu langkah berpayung langit gelap, berlomba dengan gerimis untuk segera mencari tempat berteduh yang aman.

Perkampungan adat dengan rumah tongkonan (= rumah adat suku Toraja sebagai simbol kerukunan/rumpun keluarga besar) dikelilingi alang (= lumbung padi) serta kompleks pemakaman keluarga di belakang perkampungan menjadi daya tarik tersendiri bagi pejalan.

Dari segi lokasi pun, tempatnya sangat mudah dijangkau dari Rantepao, ibukota Toraja Utara. Wisata alam, sejarah, budaya dan potret kehidupan sehari-hari masyarakat adat Toraja adalah paket wisata lengkap yang bisa didapatkan di Ke’te’.

Kampung Adat Ke'te' Kesu'
Dua buah tongkonan di Ke’te’ Kesu dengan hiasan tanduk kerbau di bagian depan dan rahang babi di sisi kirinya

Lima tongkonan yang sudah berusia ratusan tahun, berada di perkampungan adat ini. Kelima tongkonan tersebut adalah Tongkonan Bamba, Tongkonan To Sendana, Tongkonan Kesu’, Tongkonan Tonga dan Tongkonan Panimba. Usia tongkonan di sini bukan dilihat dari usia bangunannya tapi eksistensi dari tongkonan/kerukunan itu sendiri; sedang usia bangunannya sekitar 80 tahun. Ada kalanya sebuah tongkonan tidak memiliki bangunan secara fisik yang menjadi simbol rumpun kekerabatan di satu tempat karena belum dibangun oleh keluarga atau sedang direnovasi. Salah satu contoh adalah Tongkonan Kesu’ yang baru dibangun pada awal 1920-an, meski keberadaannya sudah diakui oleh masyarakat adat 700 tahun sebelumnya.

Kampung Adat Ke'te' Kesu'
Patane berbentuk tongkonan yang ada di kompleks makam keluarga Ke’te’ Kesu’

Gerimis masih betah turun satu-satu saat kami melangkah menuruni undakan menuju pemakaman keluarga di belakang kampung adat. Meski jalannya sudah disemen, perlu ekstra hati-hati melangkah terutama saat hujan karena undakan yang ditumbuhi lumut menjadi sangat licin. Di kiri kanan jalan menuju makam, beberapa kios cindera mata tampak masih sibuk melayani pembeli. Menurut salah seorang penjual, meski biasanya kios tutup jelang pk 6 sore, tapi kalau masih ada pengunjung maka mereka tetap melayaninya.

Empat buah patane (= bangunan permanen yang difungsikan sebagai kuburan berbentuk rumah kecil dengan satu pintu berukuran 1x1m) berjejer di kiri jalan, salah satunya menjulang tinggi berbentuk tongkonan dan di ujung kiri adalah makam keluarga Sarungallo yang ditandai dengan patung besar dari si empunya makam dipajang di dalam kaca berdiri tegak di atas pintu makam.

Kampung Adat Ke'te' Kesu'
Jalan berundak menuju pemakaman, tampak di sisi kanan bawah tiga buah patane berjejer

Kampung Adat Ke'te' Kesu'
Tulang belulang dan tengkorak di dalam peti yang sudah rapuh dan terbuka, pemandangan khas di kuburan Ke’te Kesu’

Tulang belulang berserakan di dalam peti mati tua usang, dibiarkan menganga serta jejeran patung di dalam ceruk buatan yang diberi pagar besi dan digembok untuk menghindari tangan jahil adalah pemandangan khas kuburan. Di depannya rimbunan pohon bambu melagukan kerinduan pada alam lewat gesekan daunnya yang diayun angin senja.

Saat sedang menikmati senyap, kami dikagetkan oleh seorang anak lelaki tanggung yang menawarkan untuk memandu kami ke dalam gua di balik bukit. Tawaran yang langsung disetujui dan si anak ini pun berlari ke rumah terdekat mengambil lampu petromaks untuk penerang. Saat kembali ke tempat kami menunggu, ternyata anak ini membawa rombongan lain yang katanya ingin bergabung. Ya sudahlah, mungkin lebih seru kalau masuk gua beramai-ramai jadi kami pun mengikuti langkah pemandu cilik ke balik bukit.

Kampung Adat Ke'te' Kesu'
Makam keluarga Saroengallo, salah satu patane yang bisa ditemui di Ke’te’ Kesu’

Kampung Adat Ke'te' Kesu'
Pemandangan saat berteduh di salah satu sisi kuburan Ke’te Kesu’

Tepat sesaat badan masuk gua, byuuuuuuuuurrrrrr! hujan deras disertai angin mengguyur Ke’te’ membuat kami tertahan di dalam kubur! Untuk kesekian kalinya saya terperangkap senja dan hujan lebat di kompleks pemakaman, bedanya kali ini desak-desakan di mulut gua ;). Pemandangan di dalam gua selain berisi peti jenasah, beragam harta benda orang yang telah meninggal tampak berserakan seperti: meja kerja, kipas angin, rokok, berbagai macam buku dan lain-lain. Pertanyaan iseng saya adalah,”Memangnya yang sudah meninggal masih ada waktu untuk baca?” Satu pemahaman yang agak melenceng dari logika; sayang kan, bukunya bisa buat dibaca yang masih hidup!

Jelang pukul 18.00 kami berlari keluar dari gua setelah membungkus semua tas kamera dengan kantong sampah besar yang membuat saya tampak seperti Piet Hitam berlari menembus hujan, memanggul karung mencari anak nakal. Sebelum beranjak dari Ke’te’ Kesu’ kami sempatkan mampir ke salah satu kios souvenir. Tawar menawar sepasang patung Toraja pun disahkan dengan berperpindah tangannya sang patung dengan harga persahabatan.

Ke’te’ Kesu’

Kampung Bonoran, Desa Tikunna Malenong
Kec. Sanggalangi, Toraja Utara
GPS: -2.9963827, 119.9101227

HTM:
Wisatawan Lokal : Rp 5,000/orang
Wisatawan Asing: Rp 10,000/orang

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag: ,

Oleh Olyvia Bendon. Tinggal di Jakarta, berasal dari daerah eksotis bernama Toraja, Sulawesi Selatan, dengan panorama alamnya yg elok dan budayanya yg unik. Penikmat keindahan alam ciptaan Tuhan, senang berjalan kaki dan menyesap senyap saat berada di kuburan tua yang sarat cerita. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 7 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »