Jejak Merapi di Kaliadem Sleman Jogja

Tulisan tentang Jejak Merapi di Kaliadem ini diterbitkan dalam bahasa Inggris pada Juli tahun lalu, dan baru sempat dibuat versi bahasa Indonesia sekarang saat letusan Merapi yang jauh lebih dahsyat masih membayang dan kembali meluluhlantakkan Kaliadem dan desa-desa yang jauh. Gerumbul yang dihuni Mbah Marijan yang lolos pada letusan sebelumnya, kini tak luput dari terjangan Wedhus Gembel, yang menghantarnya ke alam keabadian saat bersujud berpasrah kepada Yang Mahakuasa.

Lambang kejayaan dan jejak kesengsaraan hari ini dan masa lalu mungkin berakhir dengan nasib yang sama, sebagai tempat kunjungan para pejalan wisata, dan banyak tempat seperti itu tetap sama selama bertahun-tahun tanpa perubahan bermakna, baik pada tempat maupun pada kehidupan mereka yang selamat. Dan inilah salah satu diantaranya, jejak lava panas yang mematikan dari masa silam, meluncur dengan kecepatan penuh dari salah satu gunung berapi yang paling berbahaya dan sangat aktif di dunia, Gunung Merapi, yang sempat menjadi tempat kunjungan wisatawan di Kaliadem. Ia dekat dengan tempat dimana mBah Marijan, penjaga Gunung Merapi yang terkenal, pernah tinggal.

Jalanan ke Kaliadem saat itu dalam kondisi yang baik. Pengemudi kendaraan mengatakan bahwa mBah Marijan membelanjakan sebagian peruntungannya sebagai bintang iklan sebuah produk minuman berenergi untuk memperbaiki jalan yang saat itu rusak berat. Ia juga menyumbangkan penghasilannya untuk merenovasi sebuah masjid di dekat rumah tinggalnya.

Merapi Kaliadem
Si Mbah tengah bercengkerama bersama cucu-cucunya selagi menunggu dagangannya, kembang dari tanah pegunungan yang tinggi, Edelweiss. Ia tengah duduk di atas lautan lelehan cadas dan lava beku Merapi yang pada suatu ketika sangat berbahaya. Entah dimana si Mbah dan cucunya sekarang berada. Semoga mereka semua selamat dan di tempat yang aman.

Tiket masuk ke Kaliadem saat itu Rp.5.000 per orang dan Rp.5.000 untuk membayar parkir. Dari area parkir, saya berjalan naik ke bukit yang berjarak sekitar 500 dimana saya melihat beberapa warung yang menjual minuman dan makanan ringan, suvenir dan t-shirt dengan gambar Gunung Merapi. Di sana, di sebelah kiri tanah yang datar, saya melihat tumpukan lava yang menutupi sebuah area menanjak yang sangat luas yang sebelumnya dimiliki oleh Taman Wisata Bebeng dan beberapa rumah yang telah hancur.

Merapi Kaliadem
Sekelompok anak muda tampak tengah menuruni lereng dari puncak bukit lava, dekat bantaran sungai. Pepohonan hijau itu kini musnah diterjang awan panas dan dan tertutup hujan debu yang tebal.

Merapi Kaliadem
Deretan rumah hancur, setengah terbenam oleh lava dingin dan bebatuan, adalah jejak bisu letupan dahsyat Merapi sebelumnya.

Merapi Kaliadem
Lembah sungai di atas pernah tertutup seluruhnya oleh lava dingin. Lelehan bebatuan dan lava telah pernah menjadi bahan bangunan bermutu tinggi, diangkut oleh puluhan truk yang hilir mudik setiap harinya, dan menghidupi banyak orang, sampai saat itu.

Merapi Kaliadem
Bagian dari bendung pengendali lava yang tidak mampu menahan terjangan lava Merapi yang muntah dari ketinggian.

Merapi Kaliadem
Sepasang remaja tampak tengah menelusuri lintasan di tepian sungai menuju ke ketinggian di lereng Merapi. Lintasan yang mulai menghijau itu kembali menjadi abu-abu, namun alam selalu menemukan cara untuk kembali ke kehidupan.

Merapi Kaliadem
Pemandangan sungai yang rusak dengan bebatuan dan lava yang tersisa, diambil dari daerah di sekitar bendung. Pada cuaca langit yang cerah, puncak Merapi yang saat itu masih utuh bisa dilihat dari sini.

Merapi Kaliadem
Rumah-rumah sederhana di gerumbul pada gambar di atas, adalah tempat dimana rumah mBah Marijan berada, yang diambil ketika dalam perjalanan turun dari Kaliadem. Kehijauan dan keheningan alam pegunungan yang damai itu kembali terkoyak oleh dahsyatnya letupan Gunung Merapi.

Merapi, yang secara harafiah berarti Gunung Api, hanya berjarak beberapa kilometer dari Kota Yogyakarta. Merapi telah meletus 68 kali sejak 1548, tidak termasuk letusan-letusan dahsyat yang baru saja terjadi, setelah letusan sebelumnya pada Juni, 2006, mengikuti gempa tektonik yang mengguncang Yogya sebelumnya. Ketika bencana menyapa, di mana dan kapan saja, adalah saat dimana solidaritas sosial manusia diketuk pintunya.

Kaliadem

Alamat : Kaliadem, Sleman, Yogyakarta. Lokasi GPS : -7.5832153, 110.4478312, Waze. Rujukan : Peta Wisata Sleman, Tempat Wisata di Sleman, Hotel di Yogyakarta.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Yogyakarta » Sleman » Jejak Merapi di Kaliadem Sleman Jogja
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 15 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap