Jokowi, Dul, dan Kehormatan Bangsa

Dul, saat gegeran pengangkatan Kapolri mulai reda, dan semoga dpr bijak tak perpanjang gegeran dengan menolak Badrodin Haiti yang diajukan Jokowi biar fokus kerja yang jadi tanggung jawab masing-masing, yuk kita ngomongin kehormatan bangsa yang hangat di sosmed.

Respons #koinuntukAustralia untuk tampar Abbott sangat tepat, itu kehormatan bangsa. Tak penting tercapai tidaknya, tapi pesannya sampai. Respons soal turis Australia #boycottbali juga tepat. Biar yang tak waras dan bandar narkoba yang boikot, yang waras terus datang.

Belum ada tonjokan ke presiden brasil karena telah mempermalukan dubes Indonesia. Sempat saya tulis #shamebrazil di twitter namun saya hapus karena yang salah presidennya, belum tentu rakyatnya. presiden brasil itu (dengan p dan b kecil buat protes) mestinya terima pesan kuat untuk tidak main-main dengan bangsa ini.

Dul, kita maklumi ketika pemerintah negara asing berusaha keras untuk menyelamatkan nyawa warganya, dengan alasan kemanusiaan atau pun alasan politik domestiknya. Pemerintah kita pun telah dan akan lakukan upaya sama. Kita pahami itu, namun jika dilakukan secara tak pantas dan melebihi batas maka itu bakal menampar muka sendiri.

Soal batas itu juga berlaku buat kita di Indonesia. Jangan sampai respons kita terhadap negara-negara itu ditangkap sebagai terlalu berlebihan yang justru akan buruk akibatnya bagi negara kita sendiri. Mengirim pesan yang kuat dan jelas iya, namun jangan sampai melebihi batas yang bisa diterima oleh masyarakat internasional.

Dul, kehormatan bangsa eloknya baiknya dimulai dari rumah sendiri. Bangsa ini mesti menghormati diri sendiri untuk dihormati bangsa lain. Susi Pudjiastuti mulai mengembalikan kehormatan bangsa ini di lautan. Kita masih menunggu drone yang digadang Jokowi dan agar TNI-AL mempunyai armada laut kuat untuk menjaga laut.

TKI tanpa ketrampilan juga mesti dihentikan. Tak bakalan kita dihormati selama orang kita masih jadi pembantu di negeri orang. Lapangan kerja tentunya mesti diciptakan, dan Jokowi mau mencapai itu dengan iklim investasi yang baik, memangkas prosedur perijinan, mendorong industri kreatif, dan menghilangkan biaya siluman.

Pasar tradisional yang setara pasar modern juga kehormatan bangsa, yang Jokowi mau bangun dari Papua sampai Aceh. Layanan kelurahan di seluruh Indonesia setara layanan bank, memakai model Solo dan Jakarta, juga kehormatan bangsa. Layanan di Kantor Polisi mestinya juga setara bank, dengan polisi wanita ramah sebagai penerima laporan.

Dul, ada banyak yang Jokowi dan menteri-menterinya, juga para gubernur dan walikota, sedang dan akan kerjakan dalam setahun ke depan, yang prioritas kerjanya bisa kau lihat lagi di tulisan Jokowi, Dul, dan APBN P 2015. Namun semuanya membutuhkan proses, dan aparat warisan lama butuh waktu untuk berubah, tidak bisa instan.

Jika pun kamu tak bisa membantu negeri ini, setidaknya janganlah membuat gaduh yang tidak perlu. Itu kontribusi terkecil yang bisa kau berikan buat bangsa ini. Lainnya adalah STOP atau sebisa mungkin mengurangi pembelian makanan dan produk import, itu akan sangat membantu industri dalam negeri yang akan memperkuat ekonomi kita. Mau Dul?

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Blog » Politik » Jokowi, Dul, dan Kehormatan Bangsa

By Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email for newly published posts. Updated on 23 Maret 2017. Tag:

Tulisan lainnya : Museum Hakka Indonesia TMII Jakarta | Benteng Van der Wijck Gombong | Gunung Penanjakan Probolinggo | Melawan Komentar Spam Tanpa Plugin | Pancuran Telu Baturraden | 13 Peta Wisata Banjarnegara | Graha Maria Annai Velangkanni | Museum Tanah Bogor | Situs Gedong Tlogopakis Petungkriyono Pekalongan | Gedung Bank Mandiri Cirebon |