Jokowi, Dul, dan Jonan

Dul, kita sisihkan dulu soal gegeran ya. Kita ngomongin Jonan, menhub yang penunjukannya merupakan keputusan tepat Jokowi. Jonan merupakan salah satu warisan terbaik pejabat di era pemerintahan SBY, yang mengurangi sedikit rasa kesal karena telah memilihnya selama dua periode.

Keberhasilan Jonan tak lepas dari dukungan Dahlan Iskan, yang mestinya jadi Menko di kabinet Jokowi. Namun politik membuat Jokowi untuk sementara “melupakan” orang yang ikut berjasa dalam pilpres lalu ini, sampai saatnya nanti Jokowi menemukan posisi yang tepat untuknya.

Dul, Jokowi kasih tanggung jawab besar ke Jonan. Semasa SBY, Jonan tak hanya bereskan PT KAI, namun ia juga bantu ngangkat rasa percaya diri bangsa ini. Tak ada lagi tontonan ngenes saat libur lebaran dengan jubelan penumpang. Tak ada lagi cemooh bangsa terbelakang karena gerombolan liar penumpang duduk di atas gerbong, atau lesehan ndeprok di depan wc kereta yang bau pesing.

Jokowi yakin Jonan bisa replikasi sukses PT KAI ke PT PELNI dan kapal antar pulau lainnya, juga ke PT DAMRI dan bus AKAP lainnya. Lima tahun ke depan tak ada lagi jubelan penumpang berebut naik ke kapal dan bus saat lebaran. Kapal dan bus hanya ngangkut sesuai kapasitas, dengan tiket online dan sistem boarding. Angkutan manusia dimanusiakan.

Tol laut, salah satu program utama Jokowi, jadi sebagian tanggung jawab Jonan untuk diwujudkan untuk ngurangi disparitas harga antar pulau yang besar.

Angkutan udara juga nunggu dibereskan Jonan, termasuk sistem perijinan, sistem kontrol yang mengendalikan lalu lintas penerbangan untuk keselamatan dan ketepatan jadwal di bandara, dan sistem yang ngatur lalu lintas orang serta fasilitas bandara.

Dul, saya percaya bahwa Jonan bakal membuat kita tak lagi perlu malu dengan kondisi Bandara Soekarno – Hatta. Sukur bisa menjadi bandara terbaik di Asia Tenggara. Itu tercapai ketika naik turun pesawat semua lewat belalai; wifi kecepatan tinggi gratis di semua area; travelator sepanjang lorong, antrian pemeriksaan imigrasi pendek, toilet keren, cepat ngambil bagasi, gampang akses ke mobil dan angkutan umum dari ke bandara.

Kereta Api dari Bandara Soekarno-Hatta ke Stasiun Manggarai mungkin selesai tahun depan, dan sambil menunggu itu sistem kelola taksi bandara dan bus bandara harus dibereskan.

Sistem antrian tunggal taksi sudah waktunya diterapkan, dan itu butuh seleksi ketat operator dan supir taksi bandara. Khusus taksi bandara baiknya warna taksinya sama semua, supirnya yang dididik dengan keras. Jika nakal pada penumpang, hukum supir seberat-beratnya.

Akses langsung dari pengambilan bagasi ke antrian taksi juga perlu untuk meniadakan angkutan liar bandara. Akses langsung dan sistem antrian bus bandara juga dibuat bermartabat, agar orang tak perlu adu cepat dan adu kuat untuk bisa naik ke dalam bus.

Dul, dengan Jonan menjadi Menhub, Ahok di DKI-1 dan Jokowi di RI-1, realisasi jalur layang Kereta Api Jabodetabek harapannya bisa cepat terwujud. Sementara untuk luar Jawa, pembangunan jaring Kereta Api Trans-Sumatera, Trans-Kalimantan, dan Trans-Sulawesi juga sebentar lagi akan dimulai.

Jalur layang ini tidak hanya akan menaikkan secara drastis kapasitas angkut kereta komuter serta tercapainya ketepatan jadwal, namun berdampak besar mengurangi kemacetan kota. Bukan hanya karena tidak adanya perlintasan sebidang, namun beralihnya pengguna jalan ke kereta komuter karena jadwalnya bisa diprediksi ketepatannya dengan waktu tunggu singkat.

Meniadakan perlintasan sebidang di seluruh jalur kereta api di Jawa menjadi pekerjaan Dirut KA yang sekarang, juga Jonan, dan pemda setempat dalam lima tahun mendatang. Bukan hanya bagi kelancaran dan ketepatan waktu jadwal kereta jarak jauh, namun di atas itu semua adalah bagi keselamatan pengguna jalan dan penumpang kereta.

Membuat jalur khusus Bus TransJakarta di seluruh koridor juga menjadi pekerjaan besar bagi Jonan dan Ahok. Hanya dengan jalur khusus busway di semua koridor dengan jumlah bus cukup yang bisa membuat orang beralih memakai TransJakarta. Namun ide Ahok untuk memperbolehkan kendaraan pribadi masuk jalur busway dengan membayar mahal adalah ide yang sangat buruk. Bayangkan saja Dul, kau sedang berjubel dalam Bus TransJakarta dan di depanmu ada 10 atau dua puluh kendaraan mewah yang menghambat jalan bus. Itu pasti akan membuatmu marah, dan dendam bukan hanya pada pemilik mobil mewah, namun pada Ahok yang mengentuti mereka hanya agar orang kaya bisa memakai mobil mewahnya dengan lancar jaya. Itu memuakkan, dan saya tak akan heran jika suatu ketika orang bakal ramai-ramai melempari mobil mewah yang masuk jalur busway dengan telur busuk, karena ini merendahkan harga diri seluruh manusia yang ada di dalam bus.

Dul, ada banyak pekerjaan rumah yang mesti dibereskan Jokowi dan Jonan. Hari-hari mereka merupakan hari-hari yang berat, namun martabat dan harga diri bangsa yang sudah banyak terkoyak akan membaik ketika kerja mereka berhasil. Kita doakan ya Dul, semoga Jokowi dan Jonan selalu diberi kekuatan dan kesehatan untuk membuat bangsa ini menjadi lebih baik dan bermartabat. Amin. Akhirul kata, Wallahua’lam, dan Allah Yang Mahatahu.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Blog » Politik » Jokowi, Dul, dan Jonan
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 23 Maret 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap