Jokowi, Dul, dan Haters

Dul, maren aku bilang bahwa udah nggak relevan lagi nanggepin haters-nya Jokowi, hanya buang waktu dan mendekin umur kita saja. Haters sampai kapan pun tetap haters, kecuali dapat pencerahan lewat peristiwa menggetarkan yang merubah total paradigma atau cara pandangnya.

Ada kondisi yang disebut sebagian orang sebagai backfire effect, yaitu orang yg dapat info salah ketika disajikan info yg benar maka bukannya percaya pada fakta yg benar itu namun malah memperkuat keyakinannya pada info yg salah! Kau pernah mengalaminya bukan?

Contohnya, orang yang otaknya sudah kadung kotor terinfeksi virus benci, setelah ia dapat info Jokowi belum haji dan lalu disodori fakta bahwa Jokowi ternyata sudah haji maka bukannya ia percaya pada fakta yang baru itu, tapi malah menambah keyakinannya bahwa Jokowi memang benar-benar belum haji. Nah nggak guna diurusin kan. Salah-salah ngomong malah jadi runyam urusannya.

Ketika foto sahih Jokowi naik haji bersama Tantowi Yahya dipublikasikan, fakta itu sebenarnya bisa menjadi titik balik pandangan haters terhadap Jokowi jika saja soal haji merupakan satu-satunya info sesat. Namun kebencian haters pada Jokowi tetap kuat, karena masih banyak info2 sesat lainnya yang ada dalam kondisi backfire effect. Kalaupun sudah dibersihkan semua, bakal muncul lagi info sesat baru selama pabriknya belum ditutup.

Jadi Dul, cukup kabarkan fakta yg benarnya saja, namun nggak usah pusing-pusing kalau haters belum juga berubah. Woles saja. Hanya orang itu dan yg Di Atas yg bisa merubah cara pandang dan sikapnya. Bukan kau. Makanya berhenti sajalah ngladenin mereka, supaya nggak gaduh.

Soal belatung mungkin bisa dijelaskan dengan backfire theory (Brian Martin, beda dengan backfire effect) yang kondisinya dipicu oleh tindakan tak adil atau berlebihan. Pihak yg melakukan tindakan buruk itu biasanya melakukan lima hal untuk mencegah backfire (mukulbalik), yaitu menutup-nutupi, merendahkan korbannya, menafsirkan ulang peristiwa sesuai kepentingannya, memakai saluran resmi, serta memakai intimidasi dan nyogok sana-sini.

Tak tahulah aku Dul, apakah kelima tindakan itu sudah mulai muncul hari-hari ini, mungkin iya. Namun selalu ada kondisi titik kritis (tipping point), dimana tindakan buruk yang berlebihan itu sudah sedemikian absurdnya sehingga tak lagi bisa ditutupi lewat cara apa pun sampai melewati titik kritisnya dan membuat orang berbalik arah rame-rame mendukung korban. Kondisi itu sepertinya sudah mulai terjadi Dul. Wallahua’lam, dan Allah Yang Mahatahu.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Blog » Politik » Jokowi, Dul, dan Haters
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 23 Maret 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap