Jokowi dan Dul

Begini lho Dul, kamu bilang Jokowi jangan mau ditekan siapa pun, termasuk oleh simbok dan sibewok, namun disaat yg sama kenapa kamu tekan Jokowi, kadang sambil mengungkit jasa (dan lupa jasa sibewok dan simbok), bahwa Jokowi hutang budi padamu yg membuatnya jadi presiden.

Jika Jokowi tak ikuti katamu dg caramu, layaknya ndoro dawuh sama pembantu yg harus diikuti secepat-cepatnya dan sepersisnya, maka kamu pun naik pitam, dan pundung. Sepertinya kamu berharap Jokowi hrs bertindak seperti raja atau diktator yg bisa babat kiri kanan dg cepat.

Cuekin simbok dan sibewok atau anggap mereka kentut busuk, dan melaju selurusnya dan sekencang-kencangnya sendirian, cukup dg didukung teriakanmu dari luar pagar. Baiknya kamu sadar Dul, bahwa Jokowi tidak berhutang budi padamu krn telah memilih dan repot-repot mendukungnya, kamulah yg berhutang pd Jokowi.

Mau-maunya ia kerja keras siang malam mimpin negara bobrok ini, termasuk mimpin rakyat seperti kamu ini yg tak sabaran dan selalu merasa diri paling pintar dan paling benar dan harus diikuti semua kemauannya dg instan.

Dul, kamu mungkin sudah lupa bagaimana gaya Jokowi dalam menyelesaikan masalah dan konflik dg rakyat kecil, baik di Solo maupun di Jakarta. Kecepatan dan gaya frontal sering bukan menjadi pilihan Jokowi dalam menyelesaikan konflik, jika itu malah menimbulkan masalah baru, yg bisa jadi lebih besar, dan berlarut. Lah kalau dg rakyat kecil saja dia bisa begitu sabar, apalagi menyelesaikan konflik dg “rakyat besar”. Apakah dia lemah dg caranya seperti itu, Dul?

Jadi Dul, baiknya kamu berhenti sajalah dg kebiasaan tekan menekanmu itu. Suarakan kata hatimu selantangnya, langsung kepadanya lbh baik, namun kamu mesti ikuti dan hormati cara yg dipilih presiden utk menyelesaikan masalah dan konflik, krn cara cepat dan frontal yg kamu inginkan bukanlah wataknya. Dan tak elok memaksa-maksa dia utk tidak menjadi dirinya, krn itulah kekuatannya yg sesungguh-sungguhnya.

Maaf ya Dul, saranku tetaplah simpan harapanmu, dan lihatlah nanti 2-3 tahun lagi, mudah2an kamu dan saya masih diberi umur panjang. Saat itu mestinya sudah jelas apakah kamu dan saya benar atau keliru karena telah memilihnya utk menjadi presiden kita. Bersabarlah.

Akhir kata Dul, Wallahua’lam, Allah-lah yang Maha Mengetahui.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Blog » Politik » Jokowi dan Dul
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 23 Maret 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap