Integrasi Angkutan Umum Jakarta

Home » Blog » Politik » Integrasi Angkutan Umum Jakarta
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Kemacetan di Jakarta bisa dikurangi dengan memperbaiki angkutan umum yang terintegrasi, membangun jalan baru, jalan tol/tol layang, menghilangkan perlintasan sebidang rel KA, dan mengurangi jumlah lampu merah dengan underpass/flyover/semanggi.

Semuanya hal di atas itu mesti dilakukan secara bersamaan karena satu dan lainnya saling pengaruh mempengaruhi. Perhatian kepada pemakai kendaraan umum mestinya sama dengan pemakai kendaraan pribadi, karena keduanya sama-sama penggerak ekonomi.

Jalan tol TransJawa tidak lama lagi tersambung, sementara Jalan Tol Lintas Sumatera dikebut pengerjaannya. Arus kendaraan pribadi, truk dan Bus dari Aceh hingga ke Banyuwangi, dan arah sebaliknya, tentu meningkat tajam ketika semua jalan tol itu telah tersambung.

Pemerintah kota/kabupaten di wilayah Banten, DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur harus menyiapkan infrastruktur jalan untuk menghadapi lonjakan arus kendaraan yang akan menyerbu wilayah mereka. Sumatera juga akan mengalaminya, dan perlu menyiapkan hal yang sama.

Kota-kota di Jawa mesti segera membangun jalan lingkar luar, sehingga kendaraan yang tak hendak singgah tak perlu menyesakkan jalanan kota. Jalan di Jawa hendaknya juga bebas dari perlintasan sebidang dengan rel KA, yang memperlancar arus kendaraan, meningkatkan frekuensi KA, dan lebih menjamin keselamatan bagi semuanya.

Sudah banyak yang dilakukan pemprov DKI Jakarta yang didukung pemerintah pusat untuk memperbaiki angkutan umum di Jakarta, diantaranya dengan membangun MRT, LRT, serta terus meningkatkan jangkauan, kelancaran dan kenyamanan Bus TransJakarta. Sejumlah jalan tol juga dibangun. Sementara itu KA Komuter Jabodetabek juga terus membaik.

Sejumlah langkah masih harus dilakukan Pemprov DKI, yang mesti pula didukung pemerintahan kota dan kabupaten satelitnya, dan pemerintah pusat, agar Jakarta dan kota di sekitarnya lebih ramah dan lebih nyaman baik bagi pengguna kendaraan pribadi, maupun bagi pengguna kendaraan umum.

Integrasi Halte TransJakarta dengan Stasiun Kereta Api

Halte TJ dan Stasiun KA, di Jakarta Timur misalnya, belum juga terhubung dan itu sangat menyusahkan penumpang. Di wilayah lain saya kira sama. Di Stasiun Jatinegara penumpang KA harus mendaki tangga tinggi ke halte TJ yang sangat merepotkan saat membawa koper, dan jauh pula jaraknya.

Stasiun Jatinegara, Stasiun Klender, Stasiun Buaran, Stasiun Buaran Baru, dan stasiun KA/KA Komuter lainnya hendaknya terhubung langsung ke Halte TJ yang dibuat di seberangnya, atau tak terlalu jauh, dengan akses nyaman. Di stasiun Jatinegara mesti disediakan lift bagi penumpang KA yang hendak naik TJ.

Integrasi Halte TJ dengan Stasiun KA akan secara bermakna meningkatkan kepuasan pemakai TJ dan KA/KA Komuter, dan kepuasan akan menyebar lewat mulut dan media sosial. Wajar jika ada warga mempertanyakan keseriusan dan kompetensi manajemen TJ dan KAI Komuter Jabodetabek jika soal ini tidak bisa segera mereka selesaikan.

Integrasi Halte TJ dan Stasiun KA dengan Pasar, Mal, dan Pusat Hiburan

Kemudahan pengguna kendaraan pribadi adalah bisa parkir di halaman pasar, mal, atau pusat hiburan, atau di parkir bawah gedung. Sangat dekat dengan mal, tak kepanasan dan tak kehujanan. Nyaman.

Kenyamanan ini yang mesti disediakan pemprov DKI dan PT KAI Commuter, bekerjasama dengan pengelola mal, pasar, dan pusat hiburan, agar orang lebih suka memakai TJ atau KA Komuter ketimbang memakai kendaraan pribadi. Bagaimana pun parkir mahal, dan sering tak mudah mencari tempat parkir.

Stasiun Jatinegara dan halte TJ Jatinegara, misalnya, mestinya terhubung langsung ke Pasar Rawabening Jatinegara dengan sky bridge, yang bisa diisi pedagang kaki lima yang biasa berjualan di depan stasiun hingga sampai lampu merah. Ini sekaligus solusi relokasi pedagang kaki lima yang menyita separuh jalan dan membuat macet.

Pasar Klender juga mestinya terhubung langsung dengan Stasiun Klender dan Halte TJ, dengan akses nyaman dan terlindung dari panas dan hujan. Demikian juga dengan Pasar Rawamangun, Mal Klender, dan Buaran Plaza, yang mestinya terhubung langsung dengan halte TJ. Mal dan Pasar di wilayah lain juga mestinya terhubung langsung dengan Halte TJ/Stasiun KA Komuter.

Sterilisasi Jalur TJ

Tanggul pembatas yang tinggi mendesak untuk dikerjakan agar motor tidak bisa lagi masuk ke jalur TJ, meski mulut jalan telah dijaga petugas.

Jalan I Gusti Ngurah Rai, dan jalan-jalan lainnya yang jalur TJ masih bercampur dengan jalur umum, mesti segera diperlebar agar bisa dibuat jalur khusus TJ yang steril. Biayanya memang besar. Namun semakin ditunda akan semakin besar biaya yang harus ditanggung pemprov DKI.

Di setiap mulut jalan bus TJ baiknya dipasang papan mencolok berisi denda maksimal bagi pelanggar, dan lubangi SIM jika melanggar, atau catat dengan aplikasi android. Jika melanggar tiga kali maka SIM dicabut selama satu tahun, dan wajib kerja sosial. Hukuman yang keras harus diterapkan agar membuat orang jera.

Hilangkan dan Tutup Perlintasan Sebidang KA

Penutupan perlintasan di Stasiun Tebet dan Pasar Burung Pramuka sangat baik. Percuma dibuat jalan layang dan underpass jika perlintasan lama tetap ada. Biang macet perlintasan KA di dekat Stasiun Buaran Baru Pondok Kopi, juga harus ditutup, hanya saja perlu dibuat jalan layang putar seperti di perempatan Jl Pramuka – Jl Pemuda.

Hilangnya perlintasan sebidang KA di DKI dan Jabodetabek akan meningkatkan frekuensi KA Komuter/KA Jarak Jauh, memberi kepastian jadwal, keamanan, dan sekaligus memperlancar lalu lintas kendaraan di jalan.

Khususnya Double-double track dari Stasiun Manggarai-Bekasi menuntut dihilangkannya perlintasan sebidang di sepanjang jalurnya untuk menghindari kemacetan parah di jalan raya karena frekuensi lewatnya KA yang sangat tinggi.

Integrasi KA Komuter dengan KA Jarak Jauh

Perluasan Stasiun Gambir sudah sangat mendesak, agar KRL Komuter bisa berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Penumpang KA jarak jauh yang selama ini harus naik taksi dari rumah, atau terpaksa naik ojeg dari Stasiun Juanda atau Gondangdia, untuk selanjutnya bisa naik KRL. Ini juga menuntut integrasi Halte TJ dengan Stasiun KA/KRL Komuter.

Perluasan Stasiun Kota juga sangat mendesak oleh karena sering terjadi antrian KRL Komuter saat akan masuk ke Stasiun Kota yang membuat penumpang tidak puas, dan ketidakpuasan ini cepat atau lambat akan merugikan KRL Komuter.

Hilangkan Sistem Setoran Angkutan Umum

Tidak adanya setoran pada angkutan umum di DKI dan Jabodetabek akan membuat kendaraan umum terus mengalir tanpa ngetem mencari muatan yang membuat kesal penumpang, dan menyebabkan macet. Di Jakarta mestinya hanya ada TJ dan angkutan umum yang terintegrasi TJ.

Angkutan yang nyaman, aman, dan cepat sudah lama menjadi dambaan orang. Meski keberadaan bus TJ dan KA Komuter telah sangat membantu, namun ketiadaan integrasi keduanya serta ketiadaan integrasi yang nyaman dengan pusat-pusat pergerakan orang, seperti mal dan pasar, akan tetap menjadi hambatan besar bagi berkembangnya angkutan umum yang nyaman dan berkelas.

Dengan telah berfungsinya Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek, maka tindakan strategis dan taktis cepat serta gebrakan nyata yang ditunggu masyarakat. Jangan lagi waktu dihabiskan di kantor yang nyaman dengan duduk berdiskusi dan membuat kajian. Blusukanlah ke pusat masalah dan membuat penyelesaian berdasar fakta lapangan yang akurat.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 23 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »