Hotel Majapahit Surabaya

Hotel Majapahit merupakan gedung tua bersejarah Surabaya yang berada di Jl Tunjungan 65, tidak begitu jauh dari Gedung Siola (sekarang Tunjungan City). Meskipun sudah beberapa kali berkunjung ke Hotel Majapahit ini, namun baru kali itu saya memiliki kesempatan untuk memotret bangunan yang pernah menjadi saksi menggeloranya semangat kepahlawanan arek-arek Suroboyo yang dahsyat.

Halaman depan Hotel Majapahit hanya menyisakan beberapa petak untuk parkir kendaraan, namun tepat setelah jalan masuk hotel terdapat sebuah lorong menuju tempat parkir yang berada di samping belakang bangunan utama hotel. Dari area parkir itu terdapat sebuah lorong yang terhubung dengan bagian belakang hotel.

Model bangunan Hotel Majapahit yang didirikan pada 1910 dan dibuka 1911 oleh Lucas Martin Sarkies dengan arsitek James Afprey ini awalnya bergaya art noveau, namun pada 1936 dilakukan perubahan oleh pemiliknya menjadi gaya art deco yang sedang populer saat itu.

hotel majapahit
Bagian depan bangunan Hotel Majapahit, dilihat dari pintu keluar, dengan pohon-pohon palem dan tanaman lainnya yang menyegarkan pandangan.

hotel majapahit
Sebuah lorong memanjang di lantai dua Hotel Majapahit, dengan model keramik klasik, lampu-lampu gantung antik, dan pilar-pilar pagar pembatas berbentuk lengkung di bagian atasnya. Sementara pada foto di sebelah kanan adalah sebagian dari taman yang terdapat pada bagian tengah Hotel Majapahit.

hotel majapahit
Halaman tengah Hotel Majapahit yang hijau segar dan sebuah tempat duduk untuk bersantai menikmati suasana ditengah suara gemercik air mancur.

Pada jaman kolonial, Hotel Majapahit ini bernama Hotel Oranje, sesuai dengan warna dominan pada hotel yang merupakan warna kesukaan orang Belanda, dan pada masa pendudukan Jepang namanya berubah menjadi Hotel Yamato.

hotel majapahit hotel majapahit
Sebuah prasasti dalam dua bahasa yang dipasang di salah satu bagian dinding
Hotel Majapahit.

Prasasti itu berbunyi:
“Pada tanggal 19 September 1945, ketika melihat bendera putih – merah – biru berkibar kembali di Hotel Oranje (Hotel Yamato), kemarahan rakyat dan pemuda-pemuda di Surabaya tidak tertahankan lagi. Dengan serempak rakyat bergerak, suasana menjadi panas saat Jalan Tunjungan menjadi lautan manusia yang bergelora…”

“Terjadilah… Insiden bendera, fajar permulaan meletusnya api revolusi, karena rakyat hanya menghendaki supaya Sang Dwi-Warna Merah Putih saja yang berkibar di angkasa – Indonesia, sedang si-tiga warna harus turun…”

“Kemudian… berkibarlah Sang Dwi-Warna hingga detik sekarang dan untuk seterusnya sebagai lambang kemegahan dan kejayaan Nusa dan Bangsa Indonesia”

Prasasti Hotel Majapahit ini dibuat pada 10 November 1970 dengan menggunakan ejaan lama.

hotel majapahit
Ruang pertemuan Hotel Majapahit yang terlihat indah. Dinding pada bagian bawahnya dilapis kayu, langit-langit berbentuk lengkung dengan tiga buah lampu gantung antik serta lampu-lampu dinding yang menciptakan efek pencahayaan yang mengesankan.

hotel majapahit
Sebuah undakan berlapis kayu berkesan antik yang menuju ke lantai dua bangunan Hotel Majapahit.

hotel majapahit
Langit-langit di area lobi Hotel Majapahit dengan lampu gantung klasik dan kaca-kaca patri pada dinding langit-langit yang di bawahnya dihias ornamen berbentuk huruf V.

hotel majapahit
Bendera Merah Putih pada menara Hotel Majapahit dimana insiden penyobekan bendera 3-warna menjadi 2-warna terjadi.

Pada dinding terlihat sebuah prasasti yang ditulis dalam dua kolom, dengan bendera merah putih kecil pada kolom sebelah kiri. Isi prasasti ini sama persis dengan prasasti yang ada di bagian dalam gedung, hanya prasasti ini dibuat dalam Bahasa Indonesia saja.

Tulisan Insiden Hotel Yamato menyebutkan bahwa insiden ini bermula ketika sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan W.V.Ch Ploegman mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), pada pukul 21.00, tanggal 18 September 1945, di tiang tingkat teratas Hotel Yamato di sisi utara.

Esok harinya, para pemuda Surabaya yang melihatnya pun menjadi sangat marah dan menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak menjaja h kembali, dan melecehkan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di berbagai tempat di Surabaya. Dalam waktu singkat Jl. Tunjungan dibanjiri massa. Mereka memadati halaman hotel dan halaman gedung yang bersebelahan.

Tidak lama kemudian, Residen Sudirman, pejuang dan diplomat yang kala itu menjabat Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui Jepang, sekaligus menjabat Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, melewati kerumunan massa dan masuk ke dalam Hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono untuk berunding dengan Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta mereka segera menurunkan bendera Belanda dari atas gedung Hotel Yamato.

Namun Ploegman menolak menurunkan bendera Belanda dan menolak mengakui kedaulatan Indonesia. Suasana memanas, Ploegman mencabut pistol, dan terjadi perkelahian. Ploegman tewas dicekik Sidik, yang kemudian tewas oleh tentara Belanda yang masuk setelah mendengar letusan pistol Ploegman. Sudirman dan Hariyono lari keluar Hotel Yamato.

Para pemuda kemudian mendobrak masuk ke dalam Hotel Yamato dan terjadi perkelahian di lobi. Sebagian pemuda bergegas naik ke atas hotel, termasuk Hariyono yang kemudian terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengerek kembali bagian Merah Putih ke puncak tiang. Massa di bawah hotel pun menyambut riuh peristiwa itu dengan pekik ‘Merdeka’ berulang kali.

hotel majapahit
Bangunan Hotel Majapahit dilihat dari jalan masuk yang merupakan bayangan cermin dari sisi lainnya.

hotel majapahitHotel Majapahit pada sebuah malam yang damai, yang saya ambil beberapa puluh bulan lalu. Kedamaian kadang terkoyak untuk sebuah maksud yang sering baru dipahami beberapa waktu kemudian.

Hotel Majapahit Surabaya

Alamat : Jl. Tunjungan 65, Surabaya. Lokasi GPS : -7.26039, 112.73941, Waze. Rujukan : Tempat Wisata di Surabaya, Peta Wisata Surabaya, dan Hotel di Surabaya.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jawa Timur » Surabaya » Hotel Majapahit Surabaya

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email. Diperbaiki 14 Juli 2017. Tag: , ,