Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea Bogor

Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea ‘ditemukan’ secara tidak sengaja ketika dalam perjalanan mencari lokasi Prasasti Ciaruteun di daerah Ciampea. Adalah ketika bertanya arah di sekitar pasar Ciampea, dan ketahuan bahwa belokan ke Prasasti Ciaruteun sudah terlewat, maka mobil pun mencari ruang untuk berbalik arah, dan masuklah kami ke sebuah halaman gedung.

Halaman gedung tempat kendaraan memutar ternyata halaman Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea, Bogor. Begitu mengetahui keberadaan kelenteng ini, maka saya pun turun dari kendaraan untuk melihat dalaman kelenteng yang ukurannya terlihat tidak terlalu besar ini. Di kiri kanan bangunan utama terdapat bangunan lain yang ukurannya hampir sama.

Selama berkeliling, tidak jarang saya berkunjung ke tempat yang semula tidak direncanakan, seolah-olah tempat itu yang memanggil untuk mampir. Namun tak jarang pula tempat yang saya rencanakan akhirnya terlewatkan tak jadi dikunjungi, meski secara tak sadar kendaraan yang saya tumpangi sudah melintas di jalanan di dekatnya.

kelenteng hok tek bio ciampea bogor
Bangunan Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea adalah yang berada di bagian tengah, sedangkan di sebelah kiri adalah gedung yang menjadi milik Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin), yang pintunya tertutup rapat. Sepasang naga berebut mustika tampak berada di puncak atap kelenteng. Naga itu roman mukanya unik.

Nama Kelenteng Hok Tek Bio di Ciampea ini artinya adalah rumah ibadah yang memberi rejeki dan kebajikan, terutama bagi para pedagang dan petani. Kelenteng ini menjadi tempat sembahyang bagi penganut agama Konghucu, Tao, dan juga Buddha, sehingga disebut kelenteng Tri Dharma, sebuah istilah yang muncul sejak jaman orde baru.

kelenteng hok tek bio ciampea bogor
Tidak ada nama yang ditulis dengan huruf latin pada altar yang berada di sebelah kanan ruangan utama Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea ini. Tak jelas dewa siapa yang disembah di altar yang memiliki dua buah patung atau rupang ini. Rupang di depan berwajah merah, dengan pakaian berwarna keemasan yang terlihat mewah.

Kebanyakan kelenteng yang telah saya kunjungi memasang tengara nama di setiap altar dalam bahasa Latin, selain kadang ada juga disertai dengan aksara Tionghoa. Selain bermanfaat bagi pejalan yang menggemari kelenteng, umat yang bersembahyang pun saya kira tak semuanya faham atau hafal dengan roman muka setiap dewa, dan bahkan boleh jadi banyak pula diantara mereka yang tak bisa membaca aksara Tionghoa.

kelenteng hok tek bio ciampea bogor
Tuan rumah Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea adalah Hok Tek Tjeng Sien atau Dewa Bumi, yang berada di sisi bagian tengah tembok ruangan. Kongco Hok Tek Ceng Sien dipercaya sebagai dewa pelindung bagi orang miskin, dan konon orang akan mudah terkabul doanya jika memohon rizki lewat perantaranaan Kongco Hok Teng Ceng Sien ini.

Bagi para petani, bersembahyang di altar Hok Tek Ceng Sien akan membuat panen mereka diberkahi dengan hasil melimpah. Ternak peliharaan pun akan berkembang biak dengan baik. Bagi pedagang, pekerjaan yang lazim dilakukan oleh kaum Tionghoa perantauan, berharap usahanya berjalan lancar dan menguntungkan dengan bersembahyang di sini. Agar dikabulkan kelancaran rizkinya, orang harus berbuat kebaikan lebih dahulu sebelum berdoa di altar Dewa Bumi ini.

kelenteng hok tek bio ciampea bogor
Altar Kongco Kwan Kong, seorang Jenderal terkenal yang hidup pada zaman Tiga Negara (Sam Kok, 165 – 219 M). Kwan Kong adalah salah satu Dewa yang dipuja oleh tiga agama (Sam Kauw) sekaligus. Penganut Buddha menganggapnya Dewa Pelindung Kuil dan Bangunan2 Suci, pengikut Tao menjunjungnya sebagai Malaikat Pelindung Peperangan.

Kaum Confusianist memuja Kwan Kong sebagai seorang suci dan teladan dalam hal kesetiaan, kebenaran dan keberanian. Di salah satu ruangan Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea juga terdapat Patung Buddha. Ada pula Patung Dewi Kwan Im, atau Kwan She Im Phosat, yang dipercayai sebagai penjelmaan Buddha Welas Asih di wilayah Asia Timur.

Tempat pemujaan bagi Eyang Raden Suryakencana ada di bagian belakang Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea. Eyang Raden Suryakancana adalah karuhun orang Sunda yang diyakini bersemayam di Gunung Gede. Adanya altar sembahyang untuk Eyang Raden Suryakancana menunjukkan bahwa etnis Tionghoa sangat menghormati kepercayaan penduduk setempat.

Sebuah tambur tampak teronggok di pojok ruangan Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea. Kelenteng tertua di daerah Ciampea ini dibangun pada abad ke-19 oleh leluhur marga Thung, yaitu Thung Tiang Mie (1793 – 1856) atau Tubagus Abdullah bin Moestopa. Tengara pada dinding depan menunjukkan bahwa kelenteng direnovasi pada 11 Juni 2005.

Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea

Alamat : JL Letnan Sukarna, Pasar Ciampea, Ciampea Bogor. Lokasi GPS : -6.53988, 106.69649, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Terdekat : Prasasti Tapak Gajah (3,3 km). Rujukan : Tempat Wisata di Bogor, Peta Wisata Bogor, Hotel di Bogor. Galeri (15 foto) Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea : 1.Depan, 2.Rupang, 3.Hok Tek Tjeng Sien, 4.Guan Gong, 5.Naga, 6.Dewa Bumi, 7.Hio, 8.Kwan Kong, 9.Buddha … s/d 15.Singa Penjaga.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jawa Barat » Bogor Kabupaten » Kelenteng Hok Tek Bio Ciampea Bogor

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email. Diperbaiki 17 Juli 2017. Tag: