Gunung Tajam Belitung

Home » Bangka Belitung » Belitung » Gunung Tajam Belitung
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Satu hal yang membuat saya tertarik untuk berjalan kaki mendaki Gunung Tajam Belitung, setelah meninggalkan Air Terjun Gurok Beraye, adalah karena ada makam Syekh Abubakar Abdullah, seorang ulama terkenal asal Pasai yang menyebarkan Agama Islam di wilayah Buding, Belitung, yang ketika itu masih berstatus Ngabehi.

Syekh Abubakar Abdullah konon masuk ke Pulau Belitung lewat aliran Sungai Buding dan kemudian bermukim di wilayah Ngabehi Buding. Di tempat ini ia berhasil meng-Islamkan Tuk Kundo, seorang sakti yang kemudian menjadi murid dan membantunya dalam berdakwah.

Hal lain yang membuat saya tertarik adalah ketika membaca lagi tengara yang tertancap di pinggir jalan setapak, yang menyebutkan bahwa jarak ke Makam Syekh Abubakar Abdullah ‘hanya’ 350 m. Tidak jauh, pikir saya, sehingga dengan tenang kami pun berjalan masuk ke jalan setapak, dan mulai mendaki Gunung Tajam, lupa membawa bekal minuman.

gunung tajam
Tengara jarak ke Makam Syekh Abubakar Abdullah di Gunung Tajam itu. Tidak terpikir sedikit pun bahwa saya akan mendaki gunung, dengan kemiringan yang tajam di beberapa ruas. Yang terpikir adalah untuk melihat makam, dan kebetulan makam itu ada di Gunung Tajam, dan tidak tahu pula dimana persisnya makam itu.

gunung tajam
Belum sampai sepuluh menit berjalan menyusuri jalan setapak Gunung Tajam, kami sampai di sebuah jembatan kecil dengan air bening mengalir di bawahnya.

Suara gemericik air terdengar di telinga, pertanda adanya air yang mengucur dari sebuah ketinggian. Mungkin itu adalah suara Air Terjun Gurok Beraye. Sejenak berhenti melihat batuan besar dimana air mengalir, kami pun meneruskan langkah.

Jalan terus mendaki, cukup untuk lewat satu orang. Di beberapa tempat terdapat pohon tumbang, dan tanah longsor sehingga perlu berjalan sedikit meilipir. Setengah jam mengayun kaki, tidak terlihat ada tanda-tanda makam.

gunung tajam
Bang Karna duduk berselonjor beristirahat di sela-sela batuan pada Gunung Tajam, mengikuti saya yang telah berhenti sebelumnya.

Meskipun usianya jauh lebih muda, namun Bang Karna membawa gembolan kamera yang lumayan berat di punggungnya, sehingga cukup membantu menguras tenaganya.

gunung tajam
Sebuah tanjakan Gunung Tajam yang kami lewati, sekitar lima menit setelah beristirahat. Tanjakan seperti ini berselang-seling berkali-kali dengan lintasan berkemiringan sedikit. Setiap kali melewati tanjakan, ada harapan bahwa makam akan terlihat, namun harapan tinggal harapan. Begitu sampai di atas tanjakan, lintasan agak landai lainnya telah menanti.

Suara air terjuan yang sempat timbul tenggelam, sudah tidak terdengar lagi. Hanya bunyi-bunyian serangga penghuni hutan yang menemani perjalanan kami.


Hampir satu setengah jam kemudian sampailah di sebuah lokasi, dimana di sebelah kanan terdapat jurang terbuka tanpa pohon penghalang, sehingga bisa melihat pemandangan perbukitan yang lebih rendah serta dataran di bawah sana.

gunung tajam
Pemandangan indah yang sejenak bisa kami nikmati dari sebuah titik di Gunung Tajam. Sangat menghibur, setelah berjalan menapaki jalan yang lumayan sulit di beberapa tempat, dan haus mulai menyergap karena keringat terus mengucur. Tapi apa yang hendak diminum?

Titik ini ada pada ketinggian 410 mdpl, begitu data yang saya catat dari aplikasi GPS di Galaxy Note yang saya bawa. Belakangan baru saya tahu bahwa makam yang saya cari itu ada pada ketinggian 510 mdpl.

gunung tajam
Pemandangan sedikit agak ke sebelah kanan dimana pohon-pohon mulai meninggi, dan tidak lama lagi mungkin sudah menutupi pemandangan dari Gunung Tajam yang indah ini.

Sementara saya beristirahat, Bang Karna naik sendiri untuk melihat apakah sudah ada tanda-tanda ujung pendakian. Beberapa saat kemudian saya menyusul, namun belum lama melangkah saya berpapasan dengan Bang Karna yang berjalan turun, mengatakan masih belum juga ada tanda-tanda, dan ia mau menunggu saja di tempat tadi kami beristirahat.

Masih penasaran, saya meneruskan langkah, meskipun sendirian. Langit Belitung mulai mendung.

gunung tajam
Salah satu ruas lintasan mudah di Gunung Tajam yang baru saja saya lalui, sebelum bertemu dengan undakan tajam berikutnya.

Setelah sepuluh menit berjalan mulailah timbul keraguan, karena belum juga terlihat makam yang. Di sebelah kiri saya melihat ada kain yang terikat pada sebuah pohon. Entah siapa yang melakukannya dan untuk tujuan apa.

gunung tajam
Kain yang terikat di pohon itu. Di sini saya memutuskan untuk berhenti mendaki Gunung Tajam, karena sejauh mata memandang ke depan, hanya terlihat tanjakan yang harus didaki lagi, dan tidak ada keyakinan bahwa itu akan merupakan tanjakan yang terakhir.

Saya mengeluarkan Galaxy Note dan membuka aplikasi GPS. Signal Telkomsel bagus. Sejenak menunggu, data pun muncul di layar. Saya berada pada GPS -2.78567, 107.8719. Sayang saya lupa mencatat ketinggiannya, namun mungkin di kisaran 450 mdpl. Membutuhkan waktu satu jam empat puluh lima menit untuk sampai di titik ini.

Setelah berpikir sekali lagi, saya pun berbalik langkah menuruni Gunung Tajam. Biarlah kali ini saya tidak berjodoh dengan makam sang ulama. Mungkin di lain waktu. Kurang dari sepuluh menit saya sudah bertemu Bang Karna, dan mengajaknya turun setelah menjawab pertanyaanya bahwa makam tidak saya temukan. Perjalanan turun membutuhkan waktu jauh lebih cepat.

gunung tajam
Pohon tumbang di lintasan jalan setapak Gunung Tajam yang saya ambil fotonya selagi turun.

gunung tajam
Sebuah lintasan jalan setapak Gunung Tajam yang tertutup tumbangan pohon-pohon kecil. Entah siapa yang menebangnya, jika bukan karena hantaman angin kencang.

Tidak sampai satu jam kami telah sampai kembali di tempat parkir kendaraan, segera masuk ke dalam mobil dan menenggak berteguk-teguk air putih yang tersimpan manis di sana. Sejenak menata nafas, Bang Karna pun menjalankan mobil menuruni Gunung Tajam. Tidak satu pun manusia kami jumpai sampai bertemu lagi dengan jalan besar.

gunung tajam
Inilah bentuk dari Gunung Tajam yang kami daki, dilihat dari jalan besar ke arah Buding. Menara di puncak Gunung Tajam yang terlihat pada foto adalah Menara Relay TVRI. Rupanya di puncak yang dikenal sebagai Gunung Tajam Laki itulah Makam Syekh Abubakar Abdullah berada. Puncak sebelumnya disebut Gunung Tajam Bini yang tampaknya sudah saya lalui.

Pengalaman mendaki Gunung Tajam ini cukup mengesankan, meskipun tidak sampai ke puncaknya. Selain tidak membawa air minum, ada kekhawatiran pada mendung yang menggantung di langit, dan ada pula pikiran bahwa masih banyak tempat lain yang ingin saya kunjungi, sehingga foto makam pun tidak saya peroleh.

Syekh Abubakar Abdullah meninggal lantaran dibunuh oleh KA Bustam atau Ki Galong (Depati Cakraningrat IV, 1700-1740), yang tidak suka kepadanya lantaran merasa kekuasaannya dirongrong. KA Bustam adalah penganut mistik kuat yang ia ikuti dari Ki Mending, kakeknya. Jasad Syekh Abubakar Abdullah yang sempat dikubur selama tiga bulan kemudian digali oleh Tuk Kundo, dan dimakamkan di puncak Gunung Tajam itu.

Gunung Tajam

Dusun Air Pegantungan, Desa Kacang Botor, Kecamatan Badau, Belitung. Peta), Tempat Wisata di Belitung, Hotel di Belitung

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »