Gunung Bromo Probolinggo

Memerlukan pengalaman dan keterampilan yang baik untuk mengendarai mobil sepanjang rute Gunung Bromo Probolinggo, khususnya antara jam 3-5 dini hari saat jarak pandang mata terbatas dan langit gelap. Namun mengendarai mobil Hardtop turun dari Gunung Penanjakan menuju Gunung Bromo pada pagi yang cerah pun tetap sangat menantang.

Mobil Toyota Hardtop 4×4 jelas merupakan raja di jalanan Gunung Bromo dan telah menjadi ikon penting bagi kawasan Taman Naisonal Bromo Tengger Semeru, selain kuda tunggang, udara yang dingin menggigit hingga tulang, dan pemandangan yang spektakuler terutama saat fajar dengan semburat matahari di timur dan kabut yang mengambang. Kami sempat berhenti beberapa jenak untuk melihat bentang lautan pasir, Gunung Batok, Gunung Bromo, dan Gunung Semere di kejauhan, dari sebuah titik perhentian di tepi jalan lereng Gunung Penanjakan dalam perjalanan turun menuju Bromo. Gunung Bromo mempunyai kawah bergaris tengah 800 meter utara-selatan dan sekitar 600 meter timur-barat.

Kaldera Gunung Bromo tingginya mencapai 2.392 mdpl, di dalam kawasan seluas 10 km2 yang berada dalam empat wilayah kabupaten, yaitu Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Kami berempat datang lewat Surabaya dan Probolinggo, serta menginap di Ngadisari. Nama Bromo berasal dari kata Brahma, salah satu dewa utama dalan Agama Hindu.

gunung bromo probolinggo
Pemandangan kaldera Gunung Bromo yang diambil dari area parkir kendaraan. Hanya kuda tunggang yang dan pejalan kaki yang diperbolehkan mendekati kaldera dari area parkir. Di dalam mobil saya sempat mengumpulkan semangat untuk mendaki tangga Gunung Bromo yang cukup mendebarkan hati karena ini merupakan kunjungan kami yang pertama.

Bersama Apey, kami masing-masing naik seekor kuda, setelah sepakat harga sewanya. Kuda berjalan pelan di atas lautan pasir menuju kaki kaldera Gunung Bromo. Sesekali angin bertiup kencang membawa terbang debu pasir, membuat mulut dan hidung harus ditutup syal. Kacamata rapat akan sangat membantu di area lautan pasir Gunung Bromo ini.

gunung bromo probolinggo
Anak tangga menuju tepian kaldera Gunung Bromo yang rapi, dan ternyata tidak semenakutkan dan tidak seberat yang saya bayangkan sebelumnya. Satu persatu anak tangga beton Gunung Bromo itu saya tapaki dengan mencoba menggunakan tenaga sesedikit mungkin, pelan, tetap, teratur dan terus menerus. Sebuah cara yang saya sebut sebagai teknik Zombie.

Dengan cara itu pun saya masih harus berhenti beberapa kali untuk mengumpulkan tenaga sambil mencuri pandang menikmati pemandangan sekitar yang luar biasa. Setidaknya ada satu cekungan istirahat pada tangga agar tak mengganggu arus pejalan yang naik dan turun. Kami turun terlambat dari Penanjakan, membuat Bromo sudah tak begitu padat orang.

gunung bromo probolinggo
Pemandangan spektakuler dari bibir kaldera Gunung Bromo sesaat setelah kami tiba di sana. Gunung Batok yang tenang diam di sisi kiri, puluhan kuda yang menunggu penumpang di kaki kaldera Gunung Bromo, Pura Luhur Poten di Lautan Pasir Gunung Bromo tempat orang Tengger beribadah, serta Gunung Penanjakan di kejauhan.

Ada cukup banyak pengunjung yang saat itu berdiri di bibir kaldera. Mereka menikmati pemandangan ke arah lautan pasir, serta melihat kawah Bromo yang selalu aktif. Udara masih sangat dingin meski matahari telah naik, dan sesekali angin bertiup keras membawa asap belerang dari kawah Gunung Bromo dengan bau yang sangat kuat.

Pengunjung yang berada di tepi kawah Gunung Bromo perlu memperhatikan ke mana arah angin bertiup agar bisa terhindar dari asap atau mempersiapkan diri ketika angin membawa asap belerang datang. Ada perasaan yang lega dan senang ketika menuruni tangga, karena semua kekhawatiran yang berlebihan tentang Gunung Bromo tidak terbukti.

Bagi Suku Tengger, Gunung Brohmo adalah suci. Suku Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo setiap tahun bertempat di Pura Luhur Poten dan dilanjutkan ritual di puncak Gunung Bromo. Upacara ini diadakan tengah malam hingga dini hari pada bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) dalam Penanggalan Jawa.

Gunung Bromo Probolinggo

Alamat : Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Probolinggo, Jawa Timur. Lokasi GPS : -7.9422762, 112.9528427, Waze. Terdekat : Lautan Pasir Bromo . Gunung Penanjakan. Rujukan : Tempat Wisata di Probolinggo, Peta Wisata Probolinggo, Hotel di Bromo . Hotel di Probolinggo. Galeri (14 foto) Gunung Bromo Probolinggo : 1.Pemandangan kaldera, 2.Anak tangga, 3.Spektakuler, 4.Tiga Gunung, 5.Lautan Pasir 6.Titik Pandang Bromo 7.Turis Asing 8.Status Gunung 9.Berpose … s/d 14.Belerang.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jawa Timur » Probolinggo » Gunung Bromo Probolinggo

By Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 17 Juli 2017. Tag: