Gereja Sion Jakarta

Gereja Sion Jakarta merupakan sebuah bangunan kuno antik peninggalan dari jaman kolonial Belanda yang lokasinya berada di Jl Pangeran Jayakarta No. 1, Jakarta Barat. Jika dari Stasiun Kereta Api Kota (Beos) maka jaraknya hanya sekitar 200 meter, dengan bagian sisi Utara menghadap ke arah Jalan Mangga Dua Raya.

Halaman parkir Gereja Sion Jakarta ada di sisi Utara, dimana terdapat genta. Area parkir juga di sisi Selatan, sedangkan halaman depan terpotong banyak karena pelebaran Jalan Pangeran Jayakarta pada 1984. Ada taman, menyisakan lintasan kendaraan keluar masuk area parkir. Jika taman Gereja Sion Jakarta ini terlihat cukup terawat, tidak demikian dengan gedungnya. Gedung Gereja Sion yang kokoh dan sesungguhnya sangat cantik ini sudah memerlukan perawatan segera. Kesan itu terpampang nyata bahkan sebelum masuk ke dalam gedung.

Sisi Utara Gereja Sion Jakarta. Di bawah atap rumahan yang disangga tiang kayu itu terdapat sebuah genta cukup besar. Sepanjang perjalanan sejarahnya, Gereja Sion pernah mengalami pemugaran pada 1920 serta 1978. Kini Gereja Sion sudah membutuhkan pemugaran lagi. Meskipun tetap digunakan sebagai tempat ibadah, namun bangunan Gereja Sion ini dikelola dan diawasi oleh dinas kebudayaan dan permuseuman bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

gereja sion jakarta
Tengara papan nama, taman, dan tampak muka bangunan cagar budaya ini. Setelah Olyve bertemu dengan penjaga kami pun masuk melewati pintu kayu lengkung diapit pilar dan ornamen bergaya Romawi dengan tulisan “Sion” dan angka 317, serta lambang salib. Angka 317 menunjukkan bahwa Gereja Sion telah berumur 317 tahun saat kami berkunjung awal Februari lalu. Cat pintu kayu warnanya sudah pudar, demikian juga warna cat di keempat jendela serta temboknya. Ujung bawah pintu kayunya pun rompal.

Nama Sion gereja berasal dari kata Zion, yang umumnya diartikan sebagai “kesucian dalam hati”. Zion sering digunakan untuk merujuk pada orang-orang Tuhan atau Gereja dan mereka yang memiliki kepentingan dengannya. Kabarnya Gereja Sion dibangun dengan landasan 10.000 balok kayu bundar, dibuat berdasarkan rancangan E. Ewout Verhagen dari Rotterdam. Bangunan Gereja Sion berbentuk kotak berukuran 24 x 32 meter, dan mampu menampung sampai 1.000 jemaat.

gereja sion jakarta
Pilar penyangga atap Gereja Sion terlihat besar dan kokoh. Pandangan dari bawah balkon ini memperlihatkan kanopi mimbar dengan tiang ulir bermahkota. Mimbar antik bergaya Barok ini terbuat dari kayu hitam (Ebony), meski sudah terlihat kusam namun merupakan perabot asli Gereja Sion pemberian H. Bruijn. Empat jendela kaca besar masing-masing di kiri kanan ruangan, serta dua jendela lagi masing-masing di bagian depan dan belakang, memberi pencahayaan yang cukup baik.

Relief keemasan terlihat pada dinding kiri di bawah balkon. Skripsi Prita Nur Aini Sandjojo dari Fakultas Pengetahuan Budaya Program Studi Arkeologi Universitas Indonesia menyebut tulisan itu berbunyi “Hier Rvst Ontslapen Inden Heer Op Acht Ienden Mey 1653 Den EDL: Heer Carel Reniersen Insyn Leveen Goveernevr Generael Van Indea”, yang diterjemahkan Prita “Di sini beristirahat di sisi Tuhan pada tanggal 18 Mei 1653 Yang Mulia Tuan Carel Reniersen Semasa hidupnya Gubernur Jenderal Hindia”. Sedangkan tulisan di sebelah kanan berbunyi “Hier Leyt Begraven D:Eerbaere Joff Judith Barra Van Amstel Dam Huysvrouw Van Dee Heer Carel Reniers Raadt Van Indien Sterf Intjaarons Heeren Jesu Christi MDC XlVI Den XXI Julii MDC XLVI Den XXI Julii Oudt Xxv Jaaren X Maenden” yang diterjemahkan Prita “Di sini berbaring dimakamkan Nyonya Judith Barra van Amstel Dam Istri dari Tuan Carel Reniers Anggota Dewan Hindia yang telah meninggal dalam tahun Masehi pada tanggal 21 Juli 1656 pada usia 25 tahun 10 bulan”. Relief itu rupanya tengara kubur. Pada tahun 1790 saja kabarnya ada 2.381 orang yang dimakamkan di area Gereja Sion ini, namun hanya sedikit kubur yang masih tersisa saat ini.

gereja sion jakarta
Ruang utama Gereja Sion Jakarta dilihat dari area di depan mimbar. Di ujung ruangan terdapat sebuah pintu dan di atasnya ada balkon kaya ornaman, disangga empat pilar kayu. Pada balkon terdapat organ pipa (orgel). Empat lampu gantung besar antik terbuat dari tembaga menggantung rendah diantara pilar, namun cukup tinggi untuk tidak menyentuh kepala orang. Dulu Gereja Sion dikenal dengan nama De Nieuwe Portugeesche Buitenkerk atau Gereja Luar Portugis Yang Baru, menandai bahwa lokasinya berada di luar dinding kota Batavia ketika itu.

Pada masa itu Gereja Sion juga dikenal dengan nama Belkita, dan karena semula diperuntukkan bagi para Mardijkers (Portugis Hitam) maka orang bule juga menyebutnya sebagai Black Portuguese Church. De Mardijkers adalah sebutan bagi mantan serdadu Portugis keturunan India dan Afrika yang menjadi tawanan Belanda di Batavia dan kemudian dibebaskan setelah bersedia beralih agama dari Katolik menjadi Protestan. Keturunan mereka bisa dijumpai di Kampung Tugu, Koja, Jakarta Utara, dengan ikon Gereja Tugu yang dibangun pada 1661. Di tempat itu, setiap pertengahan tahun, diselenggarakan Festival Kampung Tugu untuk menjaga dan menghidupkan kebudayaan leluhur para Mardijkers itu.

gereja sion jakarta
Orgel pada balkon Gereja Sion dilihat dari samping, memperlihatkan dimensi balkon, ornamen motif bunga daun berwarna keemasan di depan orgel, dan tangga kayu menuju ke balkon. Jam digital berwarna merah di bawah balkon menunjukkan angka 09:02:13. Foto ini juga menunjukkan pilar yang menyangga dan menjadi dudukan tiang kayu. Dari dekat mimbar saya masuk ke ruangan bagian belakang Gereja Sion melewati pintu kayu yang di atasnya terdapat lukisan kaca patri “The Last Supper”. Perjamuan Terakhir adalah merupakan acara makan malam terakhir Yesus bersama duabelas rasul sebelum hari kematiannya.

Ruangan belakang Gereja Sion ini berukuran 6 x 18 meter. Sebuah meja panjang antik yang kursinya hanya tersisa tujuh saya jumpai di ruangan belakang Gereja Sion. Rantai merah yang melilit kursi menandakan bahwa meja kursi yang biasa digunakan rapat gereja ini sudah di’museum’kan. Di belakang kiri meja ini ada bangku asli Gereja Sion yang masih tersisa. Sedangkan bangku pada ruang utama sudah merupakan bangku baru. Pemakaian bangku baru bisa dimaklumi karena Gereja Sion sudah sangat tua, diresmikan pada 23 Oktober 1695. Pemberkatannya dilakukan oleh Pendeta Theodorus Zas. Peletakan batu pertama pembangunan gedungnya dilakukan dua tahun sebelumnya oleh Pieter van Hoorn pada 19 Oktober 1693.

Semacam bilik terbuka berada di sisi kiri kanan depan ruangan utama. Di belakangnya terdapat pemisah kayu dengan ornamen bunga, daun, dan sepasang burung. Di bawah ornamen ada tulisan “Diaienen”, sedangkan pada sisi seberangnya terdapat tulisan “Predi an en en ouderlingen”. Yang terakhir sepertinya dimaksudkan buat pendeta dan orang tua. Diantara jendela-jendela besar pada dinding Gereja Sion terdapat tengara berisi tulisan-tulisan dalam bahasa Belanda.

Dari sini saya menuju tangga, dan menaiki undakannya yang kondisinya masih cukup baik untuk melihat orgel yang ada di balkon Gereja Sion Jakarta pemberian putri pendeta John Maurits Moor. Tulisan pada pelat kuningan yang menempel pada kayu orgel berbunyi “Bekker – Lefebre, Weltevreben”. Organ Pipa (Orgel) adalah organ akustik yang memiliki pipa-pipa besar untuk menghasilkan bunyi. Masih di atas balkon terdapat terdapat sebuah roda dengan ban karet melingkari roda kecilnya, namun saya lupa menanyakan apa fungsinya. Ada tangga kayu pada balkon yang menuju ke ruang paling atas yang tidak saya kunjungi, mungkin karena gelap, mungkin juga karena tidak begitu yakin dengan kondisi tangga yang sebenarnya masih terlihat cukup baik itu.

Setelah menuruni balkon saya melangkah menuju dekat ke pintu keluar, mengisi buku tamu, dan hendak memberikan tips kepada penjaga. Namun penjaga meminta saya untuk memasukkan uang itu ke dalam kotak. Setelah saya memasukkan derma ke dalam kotak, barulah ia bersedia menerima tips. Melangkah keluar pintu saya baru melihat ada beberapa buah tengara kubur di halaman Gereja Sion, salah satunya adalah tengara kubur yang terbuat dari bahan tembaga milik Gubernur Jenderal Hendrick Zwaardecroon yang meninggal 1728. Tengara kubur lainnya ada yang masih bisa dibaca, namun ada pula yang sudah hilang sama sekali aksaranya, rata dengan lempeng tembaganya.

Semoga perhatian pemprov DKI terhadap bangunan-bangunan cagar budaya seperti ini bisa mendapat porsi yang besar. Sudah waktunya bangunan tua di seluruh Jakarta dirawat dan dijaga keelokannya sepanjang waktu, agar bisa menjadi magnet wisata Jakarta, bukan saja bagi para wisman namun juga bagi wislok yang jumlahnya juga tidak sedikit.

Gereja Sion Jakarta

Alamat : Jl Pangeran Jayakarta No 1, Jakarta Barat. Telp./Fax. 021-6267457. Lokasi GPS : -6.138237, 106.817646, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Rujukan : Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Barat. Galeri (29 foto) Gereja Sion Jakarta : 1.Tengara, 2.Pilar, 3.Ornamen, 4.Balkon, 5.Pilar, 6.Antik, 7.Supper, 8.Tua, 9.Mimbar … s/d 29.Lonceng.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jakarta » Jakarta Barat » Gereja Sion Jakarta
Tag : , , , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 16 Juli 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap