Gereja Simultan Menteng Pulo Jakarta

Gereja Simultan Menteng Pulo (Simultaankerk) di tengah Ereveld Menteng Pulo ini bukan saja unik, namun juga indah, bersejarah, dan terawat. Bangunannya memiliki ciri gereja dan masjid dengan lonceng, kubah dan minaret, serta simbol empat agama, yaitu Bulan Bintang – Islam, Salib Kristen, Yin-Yang Tao, dan Bintang Daud untuk Yahudi.

Sebutan Gereja Simultan menunjukkan bahwa gereja ini merupakan gereja bersama yang bisa digunakan umat Kristen maupun Katolik. Mungkin karena gereja ini tidak dipakai sebagai tempat ibadah rutin, namun hanya bagi para peziarah yang berkunjung ke Ereveld Menteng Pulo.

Belum saya temukan informasi tentang adanya gereja bersama semacam ini di tempat lain di Indonesia. Tak juga ada di Ereveld Ancol, kompleks kubur Belanda luas dan elok lainnya yang kami kunjungi belakangan. Boleh jadi gereja semacam ini hanya ada di tempat khusus yang tak berada dekat dengan lingkungan permukiman umum.

gereja simultan menteng pulo
Tampak depan Gereja Simultan di kompleks Ereveld Menteng Pulo saat kami berjalan melintasinya dari arah depan menuju ke ujung Barat makam. Ada tangga untuk menaiki menara gereja setinggi 22 meter untuk melihat pemandangan dari atas, yang tidak kami lakukan waktu itu. Sepertinya akan elok jika memotret area ini dari apartemen atau Hotel Park Lane. Uniknya, pada tingkat pertama menara tersebut dipasang lambang Salib, Yin-Yang, Bulan Sabit, dan Bintang Daud, sebagai lambang-lambang agama besar yang dianut oleh mereka yang dikubur di dalam kompleks.

Kubah berwarna kehijauan yang menyerupai kubah masjid itu berada di sayap bangunan gereja yang disebut Columbarium. Tempat itu digunakan sebagai lokasi penyimpanan abu jenazah tentara Belanda yang tewas ketika menjadi tawanan perang tentara Jepang dalam perang Pasifik di awal tahun 40-an. Kami lalu berjalan kaki memutari area di sisi kiri gereja sebelum masuk dari lorong yang tak begitu besar di bagian belakang gedung yang pintunya tak dikunci.

gereja simultan menteng pulo
Ketika berjalan di lorong itu saya sempat melihat ke arah bagian Columbarium lewat lorong selasar yang ada di sisi sebelah kiri sebelum masuk ke ruang utama gedung Gereja Simultan yang cukup luas. Deretan pasu tersusun rapi pada lekuk dinding yang dibagi dalam kolom-kolom berisi nama pemiliknya, diantaranya J.J. Brusse (Olt . Ku A. KNIL, tewas 28-1-43).

Lalu ada W. Buddingh (Ls.Sld Tkl.Inf. KNIL, 7-4-43), J.G. Buis (Sld.H.K.V.D.C., 15-11-44), C.A. Bulckaen (Ls.Sgt Tkl.Inf.KNIL, 21-1-45), P.E. Burchartz (Ls.Sgt Ekl.KNIL, 28-1-45), dan P.F. Burer (Ls.Sld Inf. KNIL, 26-7-45). Kebanyakan tewas antara tahun 1942 – 1945, dan ada yang tewas jelang Jepang takluk, yaitu J.H. van Dalen (Sld Ekl Inf KNIL) yang wafat pada 9 Agustus 1945. Menyimpan abu jenazah dalam pasu merupakan salah satu cara untuk menyimpan kenangan dan menghormati mendiang, meski ada yang memilih melarungnya di laut untuk bersatu dengan alam.

gereja simultan menteng pulo
Pandangan pada serambi dan ruangan utama Gereja Simultan Menteng Pulo. Mimbar kayu di serambi adalah tempat disimpannya kitab Injil kuno dalam Bahasa Belanda, di dalam kotak bertutup kaca. Empat deret dan dua lajur bangku di ruangan ini bantalannya dicopot, mungkin hanya dipasang ketika ada misa. Di ruang dalam terdapat patung Yesus pada tiang salib, meja altar, diterangi sumber cahaya dari dua lubang dinding samping berhias kaca patri sangat indah karya C. Stauthamer yang dibuat pada 1950, tahun berdirinya Gereja Simultan.

Di samping undakan serambi ada salib kayu memorial yang dibuat dari bantalan rel kereta api Burma (sekarang Myanmar), sebagai penghormatan bagi mereka yang tewas selagi menjalani kerja paksa membuat jalur kereta api sepanjang 415 km yang menghubungkan Bangkok dan Rangoon (sekarang Yangon). Jalur itu dibangun Jepang dalam Perang Dunia II guna mendukung serangan militer ke Burma, melibatkan 180.000 pekerja paksa Asia dan 60.000 tentara Sekutu tawanan. Sekitar 90.000 pekerja Asia dan 16.000 tentara Sekutu tewas, termasuk 6.318 orang Inggris, 2.815 Australia, 2.490 Belanda, 356 Amerika dan sejumlah lebih kecil orang Kanada dan New Zealand. Setelah perang, pembuatan Jalan Kereta Api Burma itu dianggap sebagai kejahatan perang. Letnan Satu Hiroshi Abe yang mengawasi pembuatan jalan kereta api di Sonkrai, dimana lebih dari 3.000 tawanan tewas, dijatuhi hukuman mati sebagai penjahat perang kelas B/C, namun kemudian dirubah menjadi hukuman penjara 15 tahun.

gereja simultan menteng pulo
Pemandangan pada sudut Columbarium, dengan sebuah kolam asri dan dua selasar yang membentuk sudut 90 derajat, disangga oleh pilar-pilar besar. Bangunan pojok di bawah kubah hijau itu ternyata merupakan tempat penyimpanan abu jenazah orang Belanda tidak dikenali yang jadi tawanan perang Jepang. Beberapa ikan koi berukuran cukup besar yang berenang-renang di dalam kolam. Menempel di bagian depan setiap pilar yang semuanya ada sembilan (tiga di selasar kiri dan enam di kanan), terdapat medali dengan simbol-simbol empat agama (Kristen, Islam, Yahudi, Tao), serta simbol-simbol kehidupan (hidup, mati, waktu, lahir kembali, dan keabadian).

Relung-relung pada Columbarium Gereja Simultan itu menyimpan 754 guci berisi abu jenazah, yang posisinya disusun berdasarkan urutan abjad nama belakang mereka. Keluar dari Columbarium kami melihat genta besar berangka tahun AD 1950 dengan tulisan “Den dank van ‘t het volk ten vromen tolk, tamp ik boven de graven van die hun trouw aan ‘t rood-wit-blauw, in stof en as hier staven”, dan tulisan Khatoliek thuisfront. Melangkah ke bagian depan, terlihat pintu masuk gereja yang terdiri dari dua buah daun pintu kayu dimana masing-masing terdapat tiga kaca patri bergambar. Pada kaca di pintu kanan terdapat torehan burung, hewan tanah dan pepohonan. Sedangkan di pintu sebelah kiri terdapat lukisan ikan, tanaman dan buah-buahan.

Kunjungan ke Gereja Simultan Menteng Pulo ini, terutama setelah melihat salib rel kereta api Burma dan Columbarium, menyisakan pertanyaan: di manakah memorial bagi para pekerja romusha Indonesia yang tewas di Burma? Dan, adakah usaha pemerintah untuk memindahkan kubur mereka yang ada di Myanmar, sebagaimana yang dilakukan oleh pemerintah Belanda, Amerika, Australia, dan Inggris?

Sambil masih setengah merenung, setelah sempat beristirahat sejenak di depan gereja, kami pun berpamitan kepada Elisa Barkha, mengucapkan terima kasih sambil memberikan tips. Namun dengan halus, tanpa melihat lembar yang disodorkan, Elisa menolaknya. Rupanya petugas jaga tidak diperbolehkan menerima tips dari pengunjung. Salut.

Gereja Simultan Ereveld Menteng Pulo

Alamat : Jl. Menteng Pulo RT 03 / RW 012, Kelurahan Menteng Dalam, Tebet, Jakarta. Lokasi GPS : -6.222335, 106.839675, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Harga tiket masuk : gratis. Jam buka : dengan perjanjian. Ijin kunjungan : Oorlogsgravenstichting Indonesie, Jl. Panglima Polim Raya 23, Kebayoran Baru, Jakarta. Telp +62 21 7207983. Fax +62 21 7252986. Email: ogsind@cbn.net.id. Rujukan : Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Selatan. Galeri (28 foto) Gereja Simultan Menteng Pulo Jakarta : 1.Depan, 2.Columbarium, 3.Utama, 4.Kolam, 5.Ereveld, 6.Bulan Bintang, 7.Salib, 8.Kitab, 9.Mimbar … s/d 28.Koi.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jakarta » Jakarta Selatan » Gereja Simultan Menteng Pulo Jakarta

By Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email for newly published posts. Updated on 21 Juli 2017. Tag: , , , ,

Tulisan sebelumnya : 9 Tempat Wisata di Tanggamus | Downtown JungleLand Sentul | Makam WR Supratman | Customized Recent Comments | Copy Protect Perlukah? | Langgar Laweyan Solo | Museum Manggala Wanabakti Jakarta |