Gedung Arsip Nasional Masih Elok

Gedung Arsip Nasional di Jl Gajah Mada Jakarta saya kunjungi setelah beberapa hari sebelumnya sempat mencari lokasinya dari dalam Bus TransJakarta ketika dalam perjalanan menuju ke Taman Fatahillah. Meskipun selintas, gedung tua elok itu terlihat dan memudahkan saya ketika berkunjung ke sana ditemani oleh Pak Dayat.

Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia tampaknya sesatunya gedung di sepanjang Jl Gajah Mada dan Jl Hayam Wuruk, yang memiliki halaman sangat luas, sebuah kemewahan luar biasa di Kota Jakarta. Tak heran jika gedung ini sempat diincar untuk dijadikan mal. Syukur gagal.

Petugas di pos jaga memberi tanda untuk langsung mengarah ke kanan, ke tempat parkir kendaraan. Setelah turun dan memasuki ruangan depan gedung, saya menyapa Satpam yang sudah sepuh dan mengisi buku tamu. Karena sedang ada pameran lukisan yang disponsori Kedubes Italia, maka saya pun mencatat nama di dua buku tamu.

gedung arsip nasional
Tampak muka Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia yang terlihat masih cantik. Gedung dibangun pada 1760 oleh Reiner de Klerk (Middelburg, 19 November 1710 – Batavia 1 September 1780) yang sekaligus menjadi arsiteknya. Reiner, yang saat itu adalah anggota dewan Hindia Belanda, memberi nama Villa Molenvliet pada gedung yang dibangunnya itu.

Reiner yang kemudian diangkat sebagai Gubernur Jendral VOC (1777-1780) juga berjasa sebagai pendiri Museum Nasional pada tahun 1778 yang saat itu bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Lebar tanah Gedung Arsip Nasional sekarang ini tinggal 57 m dengan panjang 164 M, menciut dari luas aslinya.

gedung arsip nasional
Memasuki ruangan-ruangan di dalam Gedung Arsip Nasional ini, tidak banyak benda dan perabot tua yang saya jumpai dipajang di sana. Dari yang sedikit itu ada pula tulisan permintaan untuk tidak memotretnya, yang mau tak mau saya turuti. Gramafon adalah salah satu dari sedikit koleksi yang disimpan di ruang utama gedung Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia.

Koleksi lain di ruang utama adalah beberapa buah almari kayu, meja kerja, konsol, sera peti antik. Di dalam ruangan di sisi kanan gedung ada replika kapal-kapal layar yang disimpan di balik kaca lemari dinding. Belakangan baru saya bisa memotret benda-benda yang ada di ruangan utama ini. Gedung ini berbentuk bangunan simetris sempurna, dengan bangunan tambahan di sayap kiri kanannya, serta bangunan yang membentuk huruf U di bagian belakang dengan taman terbuka yang luas. Bangunan tengah sartu bangunan di bagian belakang berlantai dua. Pintu-pintu kayunya yang tinggi berhias ukiran yang indah.

gedung arsip nasional
Salah satu ukir kayu yang indah pada bagian atas pintu gedung tinggi itu. Setiap pintu memiliki ukir kayu dengan motif yang berbeda. Semuanya masih terlihat asli, indah dan antik. Pada dinding Gedung Arsip Nasional menempel pelat-pelat logam penghargaan, diantaranya Penghargaan Karya Arsitektur dari Ikatan Arsitek Indonesia tahun 1999.

UNESCO memberi Award of Excellence pada UNESCO Asia-Pacific Heritage Awards 2001 kategori Culture Heritage Conservation. Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta memberi “Penghargaan Sadar Pelestarian Budaya untuk Pemeliharaan dan Pemugaran Lingkungan dan Bangunan Cagar Budaya di Provinsi DKI Jakarta tahun 2005”. Semua itu mungkin untuk membendung nafsu pengembang untuk menyulap gedung ini menjadi lahan bisnis.

gedung arsip nasional
Di halaman belakang terdapat sepasang meriam tua berukuran besar menghadap ke Barat di kiri kanan lapangan rumput. Dekat meriam di sisi kiri terdapat lonceng dengan ornamen dedaunan pada bagian atasnya mengapit tulisan melingkar, menggantung pada dudukan beton. Sebuah tengara ditulis pada lempeng logam yang menempel di dindingnya.

Halaman belakang ini dan lantai bawah gedung utama, biasa disewakan untuk resepsi pernikahan yang mampu menampung sampai 1500 tamu undangan. Perolehan dari penyewaan gedung inilah yang rupanya digunakan pengelola untuk membiayai perawatan gedung sehingga tak lagi meminta subsidi dana dari pemerintah. Saya berbincang cukup lama seputar Gedung Arsip Nasional dengan Ariani, pengeloa gedung saat itu, di ruangan kantornya yang menghadap taman. Kantornya cukup sejuk, meski tidak dipasang pendingin. Ariani pula yang mengijinkan saya mengambil foto koleksi gedung. Sayang seluruh koleksi di lantai dua tengah disimpan, lantaran sedang digunakan untuk pameran.

Bangunan kuno ini telah dipugar oleh Stichting Cadeu Indonesia, yayasan yang didirikan sekelompok pengusaha Belanda untuk menyelamatkan Gedung Arsip Nasional. Pemicunya adalah tersiarnya kabar bahwa gedung itu akan dibongkar oleh keluarga Soeharto untuk dijadikan pertokoan pada 1992. Tahun itu Arsip Nasional RI pindah ke Jl Ampera Jakarta Selatan. Stichting Cadeu Indonesia mengumpulkan dana pemugaran dan menjadikannya museum. Pemugaran selesai awal 1998. Ketika pada 13 Mei tahun itu terjadi kerusuhan, karyawan bank yang kantornya bersebelahan berlindung di dalam gedung. Perusuh yang mengejar ke dalam Gedung Arsip Nasional diusir para pekerja yang tengah menyelesaikan perbaikan gedung.

Sampai 1925, gedung ini digunakan oleh Departemen Pertambangan pemerintah kolonial, dan kemudian dijadikan Lands Archief (Arsip Negeri), dan setelah jaman republik menjadi Gedung Arsip Nasional. Sejak pertengahan 2000, halaman gedung dibuka untuk masyarakat umum, khususnya bagi warga sekitar untuk melakukan kegiatan olah raga senam pagi. Karenanya pagar gedung telah dibuka oleh petugas jaga sejak jam 6 pagi. Setelah jam 4 sore, anak-anak juga diperbolehkan untuk bermain di halaman gedung bersama orang tuanya yang sering dilakukan sambil menyuapi makan. Warga biasanya baru pulang menjelang maghrib. Sebuah upaya yang baik untuk lebih mendekatkan diri dengan warga.

Gedung Arsip Nasional Republik Indonesia

Alamat : Jalan Gajah Mada Nomor 111, Jakarta Barat. Lokasi GPS : -6.153718, 106.817391, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : Setiap hari 08.00 – 17.00. Harga tiket masuk : tidak dipungut biaya. Rujukan : Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Barat. Galeri (19 foto) Gedung Arsip Nasional : 1.Depan . 2.Ruangan . 3.Ukir . 4.Meriam . 5.Halaman . 6.Tengara . 7.Sumbangan . 8.Lonceng . 9.Kantor … s/d 19.Loteng.

Share | Tweet | WA | Email | Print!
Home » Jakarta » Jakarta Barat » Gedung Arsip Nasional Masih Elok

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email. Diperbaiki 16 Juli 2017. Tag: , , , ,