Ereveld Ancol Jakarta

Di sebuah Sabtu jelang Imlek beberapa bulan yang lalu, bersama dengan Olive Bendon, pagi-pagi saya berkunjung ke Ereveld Ancol Jakarta, kompleks kubur tertata rapi di dalam kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, tepat di bibir Laut Jawa. Sebagai ‘ahli kubur’, Olive yang mengatur perijinan untuk kunjungan ini.

Berkunjung ke Ereveld Ancol Jakarta perlu ijin Oorlogsgravenstichting Indonesie. Kami datang melalui Pintu Masuk Ancol Timur. Ini ongkos termahal untuk berkunjung ke kompleks sebuah kubur, oleh sebab lokasinya berada di dalam kawasan wisata Ancol. Kami menyusur tepian pantai sejauh 1 km sebelum tiba ke lokasi kubur. Namun entah hanya di hari itu atau di setiap akhir pekan, jalan dua arah di depan pintu gerbang makam ternyata hanya dibuka satu jalur, yaitu yang ada di sebelah kanan. Sehingga kami melewatinya terlebih dahulu, memutar kendaraan, dan membuka pembatas jalan sebelum bisa parkir di dekat gerbang ereveld.

Dulu ada 22 tempat seperti Ereveld Ancol Jakarta ini yang tersebar di beberapa tempat di Indonesia. Pada 1945 Presiden Soekarno meminta agar semua kubur Belanda dipusatkan di Pulau Jawa sehingga kini tersisa 7 buah. Jasad di Ereveld Ancol ada yang berasal dari Mandor, Brastagi, Banjarmasin, Manado, Mantoangin, dan beberapa tempat lagi. Ereveld Ancol Jakarta menjadi kubur lebih dari 2000 korban perang yang tewas antara kurun waktu 1942 – 1945, termasuk 128 tentara Inggris dan Austrialia, namun hanya 58 yang bisa dikenali. Peresmian pertama Ereveld Ancol terjadi pada 14 September 1946. Di ujung Ereveld terdapat monumen dan pohon yang dahulu menjadi tempat eksekusi.

ereveld ancol jakarta
Gerbang Ereveld Ancol Jakara dengan nama yang diembos mencolok di pilar gerbang sebelah kiri dan kanan. Pagar berjeruji besi memiliki roda yang bisa digeser ke dalam untuk membukanya, dan di tengah jeruji terdapat lambang kerajaan berupa singa. Sebelumnya Olive memencet bel di sisi kanan tembok, dan muncul penjaga yang membukakan gembok pintu. Memasuki kompleks Ereveld Ancol Jakarta terlihat hamparan kubur luas yang terpelihara dengan sangat baik, sebaik Ereveld Menteng Pulo yang kami kunjungi sebelumnya.

Pemandangan sesaat setelah melewati gerbang Ereveld Ancol cukup mengesankan. Di sebelah kiri ada papan informasi berisi riwayat Ereveld Ancol Jakarta. Tanggul baru pencegah banjir selesai dibuat pada Oktober 2009, dilanjutkan renovasi menyeluruh pada area makam. Ada tengara peresmian pembukaan kembali Ereveld Menteng Pulo pada 25 Februari 2010 yang ditandatangani RS Croll, Presiden Oorlogsgravenstichting. Letak Ereveld Ancol Jakarta ini lebih rendah dari permukaan air laut. Sebelum renovasi, kubur selalu kebanjiran di musim penghujan. Pada 2007 dibangun tanggul baru yang membuat Ereveld Ancol bebas banjir sedikitnya selama 30 tahun. Rancangan tanggul dikerjakan oleh Witteveen + Bos, dan pembangunan fisiknya dilaksanakan PT Grasindo.

ereveld ancol jakarta
Deret kubur Ereveld Ancol Jakarta yang berada di paruh area kiri depan. Jalan paving blok membelah Ereveld Ancol di bagian tengah. Ada tiga jalan paving blok dalam posisi melintang yang membagi deretan kubur menjadi enam bagian hampir sama besar. Tulisan pada nisan kubur pada sisi ini kebanyakan berisi nama-nama orang Belanda. Namun ada cukup banyak nisan bertuliskan “Onbekenden”, orang tak dikenal, dan ada tulisan “Geexecuteerd Mandor” atau dieksekusi di Mandor. Ada lagi tulisan yang memberi informasi tempat eksekusi seperti di Kendari, Brastagi, Banjarmasin, dan beberapa kota lainnya. Ada pula tengara nisan yang berisi nama lebih dari satu orang.

Di atas tanggul ada gazebo bambu dimana pengunjung bisa melihat air laut dan pantai Ancol di sisi kiri. Pada taman di sisi kanan ada pendopo tempat menerima tamu. Di sini kami mengisi buku tamu, dan berbincang dengan Dicky Purwadi, pria ramah bertubuh besar, berkacamata, berkumis dan sedikit brewok yang menjadi pengawas Ereveld Ancol Jakarta. Kami disuguhi air mineral yang disediakan secara cuma-cuma. Di sebelah kiri pendopo ada bangunan kantor, rumah dinas, garasi, dan ruang kerja. Dicky yang tampak jauh lebih matang dari usianya yang baru 33 tahun itu tinggal di tempat ini selama 24 jam. Menurutnya, sekali-sekali ada juga pengunjung yang meminta berkunjung pada malam hari.

ereveld ancol jakarta
Prasasti bertulis “Oorlogs Graven Stichting, opdat zij met eere Mogen Rusten” atau “Yayasan Makam Perang, Supaya mereka beristirahat dengan kehormatan”. Di tengahnya ada perisai dengan singa bermahkota menggenggam pedang dan tujuh anak panah (melambangkan tujuh provinsi persekutuan Utrecht). Di atasnya ada mahkota kerajaan dan perisai dipegang dua ekor singa yang berdiri di atas pita bertuliskan “Je Maintiendrai”, dari Bahasa Perancis abad pertengahan yang berarti “Aku akan bertahan”. Di sudut perempatan blok terdapat tengara “Dit Ereveld wordt onderhouden door de Oorlogsgravenstichting”, atau “Ereveld ini dikelola oleh Yayasan Makam Perang”.

Dicky berkisah bahwa pada jaman Jepang ada tukang sapu tuli bisu di Kelenteng Bahtera Bhakti Ancol yang melihat truk Jepang membawa tawanan ke tempat yang tidak jauh dari kelenteng, dekat sebuah pohon di tepi laut. Karena penasaran ia mengintip, dan terlihatlah olehnya pembantaian tawanan pribumi dan orang Eropa oleh tentara Jepang. Area dimana Ereveld Ancol Jakarta dahulu memang hutan rawa. Sejak 1946 ada tim Belanda mencari korban Perang Dunia II yang hilang. Tukang sapu kelenteng itulah yang kemudian memberi petunjuk tempat eksekusi orang-orang Eropa yang hilang itu. Letak Kelenteng Bahtera Bhakti memang sangat dekat ke Ereveld Ancol Jakarta, kurang dari 150 m. Hanya saja akses langsung telah tertutup tembok sehingga sekarang harus memutar 3 km.

ereveld ancol jakarta
Sejenis Pohon Mindi, yang dulu merupakan satu-satunya pohon besar yang tumbuh di tempat itu, kini menjadi pohon yang diawetkan.Di sinilah tempat eksekusi ratusan tawanan yang dilakukan oleh tentara Jepang. Pada batang Pohon Surga (Hemelboom) ini terdapat penggalan puisi karya Laurence Benyon (Binyon) berjudul “For the Fallen”, yang berbunyi:

Hemelboom. They shall not grow old, as we that are left grow old. Age shall not weary them, nor the years condemn at the going down of the sun and the morning. We shall remember them. We shall remember them. Antjol 1942 – 1945

Robert Laurence Binyon, CH (10 Agustus 1869 – 10 Maret 1943) adalah penyair, dramawan dan sarjana seni Inggris. For the Fallen, digunakan dalam Kebaktian Remembrance Sunday, yang di Inggris dilakukan pada Minggu kedua November, hari terdekat dengan Armistice Day, peringatan berakhirnya Perang Dunia I pada jam 11.00 pagi, 11 November 1918.

Diantara pohon dan monumen terdapat pusara Luuth Ubels, yang salah dieksekusi karena nama depannya sama dengan nama saudara laki-lakinya. Di bawah tiang bendera ada tengara “Ter eerbiedige nagedachtenis aan de vele ongenoemden die hun leven offerden en niet rusten op de erevelden” atau “Untuk mengenang dengan hormat mereka yang tak disebut tetapi telah mengorbankan dirinya dan tidak beristirahat di taman-taman kehormatan.”

Pada dinding depan Monumen Ereveld Ancol Jakarta terdapat tulisan “Hun geest heeft overwonnen” atau “Semangat mereka telah menang”. Di tempat ini korban pembantaian dikubur secara masal dan disemen. Tentara Jepang hanya memberi tanda salib bertuliskan ‘orang Eropa yang telah meninggal’. Setelah ditemukan, berkat petunjuk penjaga kelenteng itu, lubang kubur digali, dikumpulkan kerangkanya, dan lalu dikubur kembali di tempat ini.

Video Ereveld Ancol Jakarta :

ereveld ancol jakarta

Ereveld Ancol bukan hanya menjadi kubur orang Eropa, namun juga orang pribumi. Salah satunya adalah Prof. Dr. Achmad Mochtar, Direktur Pertama Lembaga Eijkman yang difitnah dan dieksekusi pada 3 Juli 1945 dan kuburnya baru ditemukan pada 2010. Konon ia adalah satu dari sekian orang yang tewas dengan cara digilas dengan tank tentara Jepang. Bermula dari tewasnya ratusan romusha pada 1945 setelah disuntik vaksin tetanus yang kadaluwarsa. Jepang menuduh Prof. Mochtar melakukani sabotase. Meskipun menolak tegas karena tidak bersalah, namun ia memilih menyelamatkan ilmuwan lainnya yang akan dieksekusi tentara Jepang jika ia tidak bersedia meneken surat pernyataan bersalah. Ada pula seorang pemuka Tionghoa di Depok yang ditangkap ketika tengah mendengarkan siaran radio di rumahnya dan dieksekusi di tempat ini.

Setelah berkeliling kami menuju gazebo dan sempat melihat air buangan perumahan yang dipompa secara berkala masuk ke laut. Kadang air buangan ini berwarna pekat, menandakan tingkat pencemaran yang tinggi. Ketika saya bertanya apakah pernah menemukan kejadian aneh selama bekerja di sini, Dicky menjawab belum. Mungkin karena niatnya hanya bekerja, atau karena mereka yang dikubur merasa cukup dimuliakan. Sejenak kemudian kami berpamitan ke Dicky seraya menyampaikan ucapan terima kasih untuk penerimaannya yang sangat baik, ramah, dan informatif.

Ereveld Ancol Jakarta

Alamat : Kompleks Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Lokasi GPS : -6.11827,106.854419, Waze ( smartphone Android dan iOS ). Jam buka : setiap hari jam 08.00 – 17.00. Kunjungan malam dimungkinkan. Harga tiket masuk : Tidak dipungut biaya. Ijin kunjung : Oorlogsgravenstichting Indonesie, Jl. Panglima Polim Raya 23, Kebayoran Baru, Jakarta. Telp +62 21 7207983. Fax +62 21 7252986. Email: ogsind@cbn.net.id. Rujukan : Peta Wisata Jakarta, Tempat Wisata di Jakarta, Hotel di Jakarta Utara. Galeri (32 foto) Ereveld Ancol Jakarta : 1.Gerbang, 2.Kubur, 3.Prasasti, 4.Pohon, 5.Ereveld 6.Sejarah 7.Tengara 8.Belanda 9.Gazebo … s/d 32.Olive.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Jakarta » Jakarta Utara » Ereveld Ancol Jakarta
Tag : , , ,

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 8 Agustus 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap