Mengendarai Gelar

Mendapatkan sebuah gelar akademik bagi saya adalah seperti memiliki sebuah mobil baru. Pertama kali memasuki mobil baru, bau yang unik menyapa saya. Ketika menyalakan tombol, suara mesin baru yang kuat memenuhi rongga telinga seperti musik. Ketika mengendarainya, pengalaman itu tak terlupakan.

Hal-hal yang baik tidak bertahan selamanya. Tidak peduli seberapa mahal dan bergengsi mobil itu, dalam waktu empat sampai lima tahun ia akan segera menjadi usang. Nilainya akan menjadi sepertiga dari harga aslinya, dan kepercayaan diri untuk menggunakannya pun akan menurun. Ini ama seperti memiliki gelar.

ITB, Institut Teknologi Bandung (Bandung Institute of Technology), adalah perguruan tinggi negeri tertua dan sekolah terbaik untuk ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Dengan persaingan yang sangat ketat untuk mendapatkan tempat duduk di sana maka hanya siswa terbaik dari kota-kota di seluruh negeri yang bisa masuk.

Pertama kali mencoba keberuntungan untuk masuk ITB pada tahun 1977 (untuk angkatan 1978) berujung pada kegagalan yang menyakitkan. Namun sangat bersyukur karena saya diberkati dengan kehendak baja. Kepada diri sendiri saya berkata bahwa apa pun yang terjadi saya harus belajar di ITB. Saya menutup hatiku untuk perguruan tinggi lain.

Segera setelah mengetahui berita buruk bahwa tak diterima di ITB, saya membuat jadwal tertulis untuk belajar sendiri di rumah mulai jam 7.00 hingga jam 17.00, dari Senin sampai Sabtu. Subyeknya hanya matematika, fisika, biologi, kimia. Selama beberapa bulan pertama saya belajar sendiri, setiap hari. Kemudian ada Djoko, anak salah satu guru saya di sekolah dasar, bergabung dengan saya. Meski ia kadang tak datang namun saya tak terpengaruh.

Selama periode itu saya tidak memotong rambut. Setelah hampir satu setengah tahun rambut itu telah menyentuh pinggul. Pengorbanan saya terbayar karena saya menjadi salah satu mahasiswa ITB untuk angkatan 1979.

ITB untuk universitas adalah seperti BMW untuk mobil. Jadi ketika saya lulus dari ITB pada tahun 1985, itu sama seperti mengendarai mobil BMW baru keluaran tahun 1985. Tentu saja itu benar-benar keren pada awalnya. Namun pada tahun 1990-an, BMW keluaran tahun 1985 akan sudah tampak menua dan usang.

Karena itu saya mengambil program pascasarjana dalam manajemen bisnis di IPMI pada tahun 1994. Pada waktu itu mereka menawarkan gelar ganda dengan Monash University. Dengan pembelajaran studi kasus model Harvard model, dan para pengajar kualitas kelas pertama, serta semua interaksi di kelas dilakukan sepenuhnya dalam bahasa Inggris, IPMI seperti BMW untuk sekolah bisnis. Salah satu sekolah yang terbaik.

Oleh karena itu, ketika lulus dari IPMI / Monash University pada tahun 1996, saya seperti layaknya naik BMW baru keluaran tahun 1996. Tampak bergengsi, dan membanggakan. Sekarang, pada tahun 2006, BMW keluaran tahun 1996 sudah tidak terlihat wah lagi. Diploma MBA saya tidak lagi terlihat cukup baik. Jadi, saya berpikir untuk mengambil program doktor!

Sekarang, Anda mungkin sudah mendapatkan penjelasan yang baik, mengapa kita membutuhkan pendidikan seumur hidup secara terus menerus.

Memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi tidak menjamin sukses yang lebih baik dalam hidup. Bagi saya, bagaimanapun, tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan berarti lebih banyak pintu yang saya dapat masuki. Setelah memasuki pintu, ada lebih banyak faktor selain gelar yang akan menentukan keberhasilan seseorang dalam pekerjaan.

Misalnya, tanpa gelar MBA, pintu perusahaan dimana sebelumnya saya pernah bekerja mungkin tidak akan dibuka untuk saya, dan tanpa gelar itu saya tidak akan dipertimbangkan untuk diberi kesempatan mengajar S2 di BINUS University.

Bagaimana jika mengambil kursus? Ini mungkin seperti membuat perbaikan yang kecil untuk mobil lama Anda. Masih tetap penting. Itu akan membuat mobil Anda terlihat up-to-date, trendi dan bergaya.

Bahkan, saya berpikir untuk mengambil kursus tingkat lanjut, seperti di INSEAD Singapura, sampai saya menyadari betapa mahal biayanya. Untuk 10 hari kursus, saya harus mengeluarkan US $12K. Terlalu mahal untuk kantong saya, mesi percaya bahwa akan ada solusi untuk itu.

Ketika mengambil gelar MBA, biaya kuliah waktu itu juga sekitar USD 12K. Setengah dari biaya itu didukung oleh perusahaan, dan itu selama dua tahun. Sebenarnya, ketika mendaftar saya tidak benar-benar tahu dari mana bisa memiliki uang untuk membayar USD 6K. Tapi karena punya kemauan yang kuat maka ada jalan.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Blog » Renungan » Mengendarai Gelar
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang.

BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA.

Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 20 Maret 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap