Danau Kaolin Belitung

Home » Bangka Belitung » Belitung » Danau Kaolin Belitung
Cari, kirim ke FB | Tweet | WA | Print!.

Danau Kaolin Belitung adalah tempat pertama yang saya kunjungi di pulau ini, beberapa saat setelah meninggalkan Bandara H. A. S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan, beberapa bulan lalu. Inilah kali pertama saya menginjakkan kaki di Pulau Belitung, dengan menumpang Pesawat Sriwijaya dari Jakarta pada sebuah pagi yang cerah.

Sekitar seminggu sebelumnya saya melakukan kontak via email dengan personil Belitung Transport. Selain mengurus tiket pesawat, penginapan, dan mobil beserta supirnya, mereka juga mengatur rute perjalanan selama di Belitung, berdasarkan daftar yang telah saya siapkan.

Beberapa saat sebelum pesawat mendarat di bandara, dari jendela pesawat terlihat jelas serakan lubang-lubang putih menganga ada dimana-mana, seolah borok atau penyakit panu besar yang mengotori alam Pulau Belitung. Penambangan Timah dan Kaolin adalah berkah harta sekaligus bencana buat Pulau Belitung.

Keluar dari terminal kedatangan, saya telah dijemput oleh Bang Karna (081807242523) yang menemani saya berkeliling di Belitung selama dua hari, dua hari sisanya digantikan oleh Bang Junai. Orangnya masih muda dan baik. Adalah atas sarannya untuk mengunjungi Danau Kaolin terlebih dahulu, sebelum ke pusat kota Tanjung Pandan.

Sekitar 8 km dari bandara, mobil belok ke kanan memasuki jalan tak beraspal, sejauh sekitar 500 m, dan terlihatlah sebuah kubangan luas berisi air jernih berwarna kebiruan di sebelah kanan.

danau kaolin belitung
Pemandangan di Danau Kaolin, hasil penggabungan dari empat buah foto. Kata danau adalah sebuah penghalusan istilah untuk menyebutkan area galian bekas tambang kaolin yang telah ditinggalkan oleh penambangnya dan dibiarkan begitu saja apa adanya.

Untungnya genangan airnya jernih, berwarna biru tosca dengan garis-garis putih tebing galian di bagian tengahnya, terlihat sangat kontras dan untungnya lagi terlihat indah dengan ‘pulau-pulau’ dan tepian daratnya yang putih bersih.

Danau Kaolin terletak di Desa Perawas, Kecamatan Tanjungpandan, Belitung, dengan bentang area yang cukup luas. Mungkin dahulu membutuhkan waktu berapa puluh tahun untuk mengupas tanah dan mengolahnya untuk sampai meninggalkan jejak seperti ini. Bisa lebih cepat lagi jika menggunakan mesin berskala besar.

Saking luasnya Danau Kaolin ini tidak terpikir untuk repot mencari-cari sudut pandang yang baik guna mengambil foto. Bisa jadi dari sudut mana pun pemotretannya dilakukan hasilnya akan tetap baik juga. Namun waktu pagi hari memberi keuntungan karena langit masih bersih, dan memberi pantulan warna yang bagus pada air.

Kaolin adalah mineral aluminosilikat yang biasa disebut China clay. Nama Kaolin berasal dari kata Gao-lin, sebuah bukit tinggi di wilayah Jingdezhen, Provinsi Jiangxi, Cina. Secara tradisional, Kaolin memang sering digunakan untuk pembuatan keramik di Cina. Namun sebagai mineral, Kaolin baru ditemukan pada 1867 di Sungai Jari, di wilayah Timur Laut aliran Sungai Amazon, Brazil.

danau kaolin belitung
Sebuah ‘pulau’ yang terbentuk di tengah Danau Kaolin terlihat putih bersih, nyaris tanpa cela, dengan kontur yang indah. Jauh di tepi ujung sana, dua orang ibu, yang satu berbaju pink dan satu lagi merah, keduanya bercaping, tengah berendam dalam air namun tak jelas benar apa yang mereka tengah kerjakan.

Agak jauh di sebelah kanan pulau itu terdapat sepotong daratan kaolin yang menjorok ke tengah danau dan menjadi semacam jembatan alam yang menghubungkan kedua ujung danau. Jika saja tidak memikirkan waktu karena jaraknya yang cuup jauh, ingin rasa menyusurinya dan menyeberang ke ujung sana.

Belum saya temukan informasinya sejak kapan penambangan Kaolin secara besar-besaran dilakukan di Belitung, namun tentu tidak lepas dari sejarah penambangan Timah yang praktis dimulai sejak mendaratnya John Francis Loudon dan rombongannya di Tanjung Pandan pada 27 Juni 1851, untuk melakukan penelitian tentang keberadaan Timah di Pulau Belitung ini.

Jernihnya air Danau Kaolin Belitung mungkin disebabkan sifat Kaolin serta proses produksinya yang bersih karena hanya menggunakan air bersih untuk memprosesnya, tanpa bahan kimia atau bahan lainnya. Tanpa pula membutuhkan teknologi tinggi atau mesin canggih. Tebing bekas galian tambang bentuknya seperti ular putih berenang di bawah permukaan danau.

Penambangan Kaolin dilakukan dengan mengupas tanah sedalam 1 – 2 m. Kupasan tanah itu lalu disemprot dengan air sehingga menghasilkan cairan yang mengandung Kaolin, selanjutnya disaring menggunakan hydro-cyclone, alat sederhana untuk memisahkan Kaolin dengan pasir. Selanjutnya airnya dikeluarkan dengan cara ditekan untuk menghasilkan ‘kue’ Kaolin, yang kemudian bisa di-oven dan digiling menghasilkan butiran-butiran halus lembut.

Bang Karna kemudian membawa saya ke lokasi Danau Kaolin lainnya yang terletak lebih ke dalam, namun jaraknya tidaklah begitu jauh dari Danau Kaolin yang pertama.

danau kaolin belitung
Danau Kaolin yang satu ini terlihat lebih dalam kubangannya dibanding danau sebelumnya, terlihat dari airnya yang berwarna biru tosca gelap. Tidak pula terlihat ada tebing-tebing yang mengular di tengah danau. Di tepiannya, terlihat seorang pria tengah bekerja sendirian mengolah pasir Kaolin dengan cara sederhana.

Bekas-bekas kupasan, menyerupai cakaran garpu alat berat, di tepian Danau Kaolin itu terlihat masih putih bersih, belum ada tanaman perdu tumbuh di sana. Mungkin area ini belum terlalu lama ditinggalkan oleh penambangnya, atau memang belum ada burung atau angin yang menjatuhkan biji-biji tanaman ke tempat itu.

Selain digunakan sebagai campuran dalam pembuatan keramik, Kaolin dulu banyak dibakai dalam proses pembuatan plastik dan tinta. Namun penggunaan kaolin kemudian melebar ke industri kertas, farmasi, makanan, pasta gigi, cat, kosmetik, serta juga digunakan pada pembuatan fiber-glass dan organoclays. Kaolin disukai karena sifat fisiknya yang halus, kuat, warnanya yang putih bersih, serta daya hantar listrik dan daya hantar panasnya yang rendah.

Jika pun manisnya uang Kaolin telah habis dihisap, kayu hutannya telah berpindah ke rumah-rumah mewah, dan satwa-satwa liarnya lari bercerai berai entah kemana, namun sepah yang ditelantarkan berupa Danau Kaolin ini setidaknya masih menyisakan pemandangan yang elok untuk dilihat, meskipun dengan rasa getir ketika menikmatinya.

Foto Danau Kaolin selengkapnya: 4.Pulau Kaolin 5.Tumbuhan Perdu 6.Jembatan Alam 7.Sisi Kanan 8.Ular Putih 9.Berenang 10.Mencuci 11.Anak-Anak 12.Tangga Kayu 13.Elok 14.Siap 15.Pangkal Jembatan 16.Menambang 17.Terkelupas 18.Senyap 19.Ekosistem 20.Kontur

Danau Kaolin

Jalan Murai, Desa Perawas, Kecamatan Tanjungpandan, Belitung. Peta), Tempat Wisata di Belitung, Hotel di Belitung

Kirim ke FB | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 19 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »