Curug Cijalu Subang

Home » Jawa Barat » Subang » Curug Cijalu Subang
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Setelah dari Air Panas Sari Ater, kami berencana ke Curug Cijalu Subang, lalu Situ Wanayasa, dan dari sana ke Jakarta. Dari Ciater kendaraan mengarah ke Subang, lalu ke Jl Sagalaherang pada GPS -6.6774802, 107.6827097 dan mengikuti jalan utama arah ke wilayah Purwakarta.

Curug Cijalu Subang

Alamat: Desa Cipancar, Kecamatan Sagalaherang, Subang, Jawa Barat. Lokasi GPS -6.70652, 107.59225 (navigasi Google Map), Waze (Android dan iOS). Jam buka sepanjang waktu, bisa berkemah. Tiket masuk Rp.6.000. Rujukan: Tempat Wisata di Subang, Hotel di Subang, Peta Wisata Subang.
Galeri (26 foto): 1.Pemandangan Alam, 2.Gerbang, 3.Undakan, 4.Curug, 5.Perbukitan, 6.Kebun teh, 7.Pokok kayu, 8.Meranggas, 9.Lembah … s/d 26.Jalan Setapak.

Jalanan aspal berkelok di beberapa tempat, tidak begitu lebar, namun cukup mulus. Setelah sekitar 12,5 Km dari pertigaan Sagalaherang, terlihat penunjuk arah di sebelah kiri jalan untuk menuju ke Curug Cijalu. Pertigaan ke kiri ini ada pada lokasi GPS -6.66760, 107.60429.

Setelah masuk ke jalan itu kami sempat berhenti melihat perbukitan indah di kejauhan. Suasana di tempat ini sangat tenang, karena sangat jarang kendaraan yang berlalu lalang. Bentang alam juga sangat luas. Sejauh mata memandang adalah hijau ladang, sawah dan perbukitan di latar belakangnya.

curug cijalu subang
Beberapa orang penduduk tampak berjalan kaki di jalan yang mulai sempit, dan hanya sebagian saja yang mulus. Tidak ada angkutan umum di sini, sehingga pengunjung harus menyewa ojek jika tidak membawa kendaraan sendiri.

Meski lebih banyak bagian jalan yang aspalnya sudah terkelupas habis, menyisakan bebatuan yang membuat kendaraan sering terguncang dan harus berjalan lambat, namun pemandangan alam sekitar di sepanjang perjalanan sangatlah indah!

curug cijalu subang
Setelah sekitar seperempat jam kami pun sampai di gerbang masuk Curug Cijalu. Tidak ada penjaga, mungkin karena bukan hari libur, sehingga kami pun lewat begitu saja. Kami membayar karcis di lokasi curug.

Beberapa menit kemudian kami masuk ke jalanan berbatu di tengah perkebunan teh yang sangat luas. Sebatang pohon yang daunnya meranggas di kebun teh menjadi pemandangan yang sangat menghibur, di tengah alam yang hening. Kami nyaris tidak berpapasan dengan kendaraan bermotor selama perjalanan ini.

Selama beberapa saat hanya ada hamparan pohon teh menghijau sejauh mata memandang, dengan latar belakang perbukitan, mengalihkan perhatian dari jalanan terjal. Di sepanjang jalan, terlihat pangkal pohon-pohon besar yang batangnya telah ditebang. Sayang sekali. Di sebuah belokan dimana terdapat beberapa gubuk, kami akhirnya bisa melihat Curug Cijalu dari kejauhan. Sangat indah!

Kami masih melewati sungai dangkal, tanpa jembatan, yang kemudian saya ketahui bernama Sungai Cijalu. Belakangan baru diketahui bahwa akses ke Curug Cijalu harus dengan menyusuri sungai ini ke arah hulu, dan yang kami lihat di atas sebenarnya adalah Curug Cikondang! Tidak lama kemudian kami sampai di area parkir, dimana terdapat warung-warung makanan, dan ada beberapa mobil yang telah tiba terlebih dahulu di sana.

curug cijalu subang
Jalan setapak dengan undakan ini kami lewati dari area parkir untuk menuju lokasi curug. Di sebelah kiri jalan setapak ini adalah area terbuka beralas rerumputan hijau di tengah pohon pinus tempat dimana pengunjung biasa berkemah.

Beberapa menit berjalan kami tiba di sebuh curug cukup tinggi, persis di kiri jalan, dengan bebatuan hitam sepanjang tebing curug yang dijadikan rambatan air. Debit air di curug ini tidak begitu besar, namun susunan batu hitamnya cukup menarik.

Adalah seorang bocah penjual makanan ringan yang mengatakan bahwa curug ini bernama Curug Cilemper, dan curug yang kami tuju yang jaraknya sekitar 400 m lagi bernama Curug Cikondang, bukan Curug Cijalu. Curug Cijalu yang sebenarnya rupanya berada jauh di tempat lain …

curug cijalu subang
Serombongan anak muda baru tiba di Curug Cikondang dengan ketinggian air terjun yang cukup mengesankan, yaitu sekitar 90 m, ketika kami bersiap untuk meninggalkan tempat, kembali ke area parkir setelah beberapa lama menikmati suasana di tempat ini.

Seorang pria menawarkan untuk mengantar kami ke Curug Cijalu, namun karena akses menuju ke sana cukup sulit, dan hari pun mulai sore, maka kami menolaknya. Mudah-mudahan akses ke Curug Cijalu sekarang sudah dibuka, meskipun hanya jalan setapak, yang mempermudah orang untuk mengunjunginya.

Sebelum pulang kami mampir ke salah satu warung, memesan minuman hangat dan beberapa mangkok mie telor rebus. Selagi menunggu, ternyata ban belakang sebelah kiri tertusuk paku besar. Entah dimana dan bagaimana paku itu menusuk, karena tertusuknya di bagian samping. Mungkin di jalanan yang berbatu tadi.

Semoga pemda dan dinas terkait sudah mengaspal mulus akses ke Curug Cijalu yang ada di tengah kebun teh yang elok itu, agar bisa dinikmati lebih banyak orang. Ketiga curug ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi tempat wisata yang diburu orang, apalagi dengan panorama alam sekitar yang sangat indah.

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Bambang Aroengbinang. Lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 28 Mei 2017.

Lalu «
Baru » »