Cocok muka di Bukit Lawang, Sumatra Utara

Home » Sumatera Utara » Langkat » Cocok muka di Bukit Lawang, Sumatra Utara
Cari | Share | Tweet | WA | Print!.

Saat menuju arah pulang setelah kami menghabiskan malam menikmati durian asli Kota Medan, kami menghentikan sebuah taksi di pinggir jalan. Sambil ngobrol pak supir taksi bertanya tujuan kami berkunjung ke Medan. Jawaban saya adalah akan berkunjung ke Bukit Lawang. Spontan dia langsung berujar, mau cocok muka???

Bukit Lawang adalah desa wisata kecil di sepanjang pinggiran Sungai Bahorok. Tempat ini juga sebagai pintu utama menuju Taman Nasional Bukit Leuser dari sisi Timur. Jaraknya 80 Km dari pusat kota Medan dan jika berkendara mobil membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam.

Kami di jemput di Kota Medan jam 5 pagi. Kami memang minta di jemput dari Bukit Lawang pagi-pagi sekali. Kami pikir pasti suasananya masih sepi dan enak dilewati. Jalan menuju Bukit Lawang tidak terlalu besar, tetapi di aspal halus. Jadi tidak perlu khawatir mengenai kondisi jalanannya.

IMG_5926
Selepas daerah perkotaan, suasananya mulai asri dan enak dilihat mata. Mobil yang lewat juga jarang, terkadang hanya minibus kecil sebagai sarana transportasi umum penduduk. Foto di atas adalah ketika kami melewati jalan dengan latar belakang Bukit Barisan.

Mendekati wilayah Bukit Lawang, mulai tampak jejeran pohon kelapa sawit. Ternyata di lokasi sekitar Bukit Lawang dijadikan lokasi resmi perkebunan kelapa sawit. Padahal daerah ini dikelilingi wilayah konservasi. Selain perkebunan sawit yang dikelola oleh PTPN, terdapat juga perkebunan yang dikelola swasta lainnya.

Entah berapa ribu hektar tanah yang digunakan untuk perkebunan. Padahal perubahan alih fungsi menjadi perkebunan bisa menyebabkan pemanasan global. Selain itu, daya serap air yang dibutuhkan oleh satu pohon kelapa sawit bisa sampai sekitar 30 liter perhari. Imbasnya akan menurunkan permukaan tanah.

sawit
Perkebunan Kelapa Sawit menuju Pintu Masuk Bukit Lawang

Sampai di Bukit Lawang jam 8 kurang. Suasananya masih sepi. Di pinggir jalan melewati pintu masuk Bukit Lawang berdiri tempat makan dan tempat hiburan sederhana (pengen tahu juga sih tempat dugem di sana kayak apa?). Karena pemandu lokal kami belum selesai mandi, kami manfaatkan dulu untuk mengambil foto-foto dari lokasi yang direncanakan akan menjadi terminal. Memang dari tempat ini lokasinya sangat indah.

IMG_5932
Bukit dan pepohonan terlihat dari kejauhan

IMG_5938
Burung-burung bebas berterbangan

Tidak lama menunggu, kami bertemu pemandu di sebuah warung makan. Di tempat ini adalah titik awal kami menjelajahi Bukit Lawang. Sisi belakang warung langsung berada di pinggir Sungai Bahorok. Wuih airnya jernih. Beda kayak sungai di Jakarta.

IMG_5940
Bukit Lawang di Pagi Hari

Biasanya orang yang berkunjung ke Bukit Lawang tujuan utamanya adalah untuk melihat Orangutan. Sampai nama jalan di sini dinamakan Jalan Orangutan. Makanya pak sopir taksi kemarin bilang ke Bukit Lawang untuk cocok muka….yang ternyata menyamakan muka dengan Orangutan hahaha. Sementara saya ke Bukit Lawang tujuannya hanya satu, yaitu berenang di sungai. Sebagai orang kota, saya sudah bosan melihat sungai-sungai kotor dan bau di Jakarta. Intinya, saya ingin bisa berenang secara alami dikelilingi pepohonan hijau kayak film-film di luar negeri. Pilihannya langsung jatuh ke Bukit Lawang.

Briefing sebentar, lalu siap-siap. Jangan lupa bawa air minum karena katanya perjalanannya lumayan jauh. Siap semua langsung start jalan santai. Sambil lihat-lihat kiri-kanan, memperhatikan penginapan-penginapan sederhana berbentuk cottage. Menurut pemandu kami, saat ini mereka tidak lagi membangun penginapan terlalu permanen karena sebelumnya pada tahun 2003, banjir bandang besar terjadi di Bukit Lawang. Selain korban jiwa, banyak bangunan yang hancur. Sehingga mereka merubah arsitektur bangunan menjadi ramah lingkungan.

IMG_5963
Salah satu penginapan yang ada di Bukit Lawang

Tarif penginapan mulai dari 50.000-300.000 rupiah, relatif tidak terlalu mahal jika dilihat dari lokasinya yang strategis menghadap sungai. Yang paling juara adalah menghabiskan hari dengan bersantai di hammock/tempat tidur gantung. Hammock–hammock ini biasanya disediakan oleh pihak penginapan di setiap kamarnya.

Di Bukit Lawang binatang liar hidup dengan bebas terutama burung dan beberapa jenis monyet. Jangan kaget jika ada monyet bergelantungan di atas kepala kita. Berbeda dengan manusia, mereka tidak akan mengganggu jika tidak diganggu.

Thomas Leaf Monkey
Thomas Leaf Monkey bergelayutan di Bukit Lawang

IMG_5965
Pohon-pohon rindang yang asri

Kalau ingin membeli cinderamata, di Bukit Lawang ada toko-toko yang menjual patung Orangutan, t-shirt dengan desain yang mewakili Bukit Lawang, suvenir dan barang menarik lainnya. Sayang, saya kemarin tidak sempat balik ke pusat penjualan cinderamata karena takut kemalaman pulang ke Medan.

Kredit foto : Erwin Oktiano dan Fina

Bukit Lawang

Kabupaten Langkat
Sumatra Utara

Aktivitas : Treking, Berenang, Main Kayak, Main Tubing di Sungai Bahorok, Jalan ke Gua Kelelawar

Transportasi dari pusat kota Medan : Naik angkot/ betor / taksi ke Terminal Bus Pinang Baris, naik Bus Pembangunan Semesta (PS) jurusan Bukit Lawang. Kemudian turun di Terminal Bus Gotong Royong. Pintu masuk Bukit Lawang kira-kira 1 Km dari Terminal Bus Gotong Royong (bisa masuk dengan berjalan kaki atau naik betor).

Share | Tweet | WA | Email | Print! | Tag:

Oleh Fina Hastuti. Penduduk Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta, Indonesia. Senang keluyuran melihat pemandangan hilir-mudik ikan-ikan elok di lautan dan pencinta komik hiburan, suka berfikir praktis dan anti ribet. Melihat semua hal dalam hidup dengan cara yang indah saja. Kirim pesan ke BA lewat email, atau lewat WA jika ingin menjadi penulis di Aroengbinang. Diperbaiki 7 Maret 2017.

Lalu «
Baru » »