Cinta Jarang Buta

Cinta adalah kata sederhana dengan makna rumit, yang meskipun kita mencoba sebaik mungkin untuk menjelaskannya dengan semua ungkapan, tetap saja akan tak mencukupi untuk menelanjangi wajahnya yang “benar”. Cinta melibatkan pikir, hati, jiwa, dan raga, dengan berbagai kadar keterlibatan.

Mutu dan kesempurnaan cinta bisa diukur dengan derajat keterlibatan keempat dimensi itu dalam proses mencinta. Cinta tidak akan sempurna jika satu atau lebih dimensi itu tidak ada. Sebuah pernyataan bahwa mencintai tidak harus selalu memiliki adalah sebuah ketidaksempurnaan.

Kalimat itu lebih merupakan tepuk simpati di punggung bagi orang yang patah hati. Oleh sebab agar cinta bisa mekar sempurna tetap memerlukan “kepemilikan tubuh”, sebagian dalam bentuk hubungan seksual. Kalimat terkenal lainnya adalah cinta itu buta. Kenyataannya cinta jarang buta. Ijinkan saya menjelaskannya dengan menggunakan teori paradoks Takeuchi dan Nonaka dalam knowledge management.

Hidup mengandung unsur berlawanan atau paradoks, seperti terang-gelap, baik-buruk, pria-wanita, dermawan-pelit, kaya-miskin, dst. Ada tiga kondisi keterkaitan diantara paradoks itu. Kondisi yang pertama adalah bahwa mereka interdependen, artinya cinta ada (dan menjadi berarti) karena keberadaan benci.

Akan menjadi tak berarti, jika tak mau menyebutnya tak masuk akal, membicarakan tentang cinta jika benci tidak ada. Semakin dalam kadar cinta, lebih dalam pula perasaan benci dan lebih parah konsekuensi kehancurannya ketika ia patah. Untuk memahami cinta, karenanya, orang perlu pula memahami rasa benci.

Kondisi yang kedua adalah bahwa paradoks saling menyelinap (interpenetrate). Ketika seseorang jatuh cinta, akan selalu ada elemen benci dalam jalinan hubungan dengan pasangannya. Ketika kita membenci seseorang, ada elemen cinta yang menyelinap ke dalamnya. Itu bisa menjelaskan mengapa banyak orang akhirnya menikah atau setidaknya kawin dengan pasangan yang sebelumnya mereka benci.

Kondisi ketiga adalah bersatunya paradoks. Dalam hal gelap – terang, jika kita membuat kondisi gelap menjadi mutlak, kita akan buta; dan jika kita membuat terang menjadi mutlak tanpa elemen gelap sama sekali, kita juga tak bisa melihat apa-apa. Mereka bersatu pada kondisi ekstrimnya.

Oleh sebab itu hanya ketika cinta menjadi mutlak atau absolut, maka orang akan menjadi buta sama sekali. Karena ada empat dimensi yang terlibat dalam proses mencinta, peluangnya akan sangat kecil untuk keempat dimensi itu mencapai kondisi ekstrim atau kondisi absolutnya pada saat yang bersamaan.

Kita karenanya tak perlu muram bila tak pernah jatuh cinta dalam kondisi paling murni, dimana tidak ada elemen benci sama sekali dalam jalinan hubungan dengan orang yang dicintai. Tak banyak orang ingin menjadi buta, dan wajar jika cinta pada kesempurnaannya bukanlah apa yang sesungguhnya banyak orang inginkan. Rasa benci pada kadar tertentu masih diperlukan, agar orang tetap bisa melihat.

Sepenuhnya bisa diterima pernyataan bahwa aku mencintainya, namun aku juga membencinya.

Dalam proses mencinta, merupakan pilihan apakah mencintai dengan cara kita, atau mencintainya dengan cara yang ia harap atau sukai. Tak ada satu jawab benar yang berlaku untuk semua keadaan. Kita harus menemukan jawabnya sendiri, dan pelajaran yang kita peroleh kadang sangat menyakitkan dan perlu banyak pengorbanan, tapi itulah reramu cinta.

Kita akan diberkahi, dan terkutuk pada saat yang sama, ketika menemukan seorang pecinta dengan siapa kita bisa berbagi keseluruhan empat dimensi cinta: pikir, hati, jiwa, dan raga. Namun hidup jarang sempurna, dan oleh sebab itu sering perlu kompromi. Kita bisa menerima cinta meski tak memiliki salah satu dimensinya, sepanjang sesekali bisa berbagi nafas hidup dengan sang pecinta.

Itu mengingatkan saya pada salah satu lagu kegemaran, “Nature Boy” dari George Benson bahwa: “The greatest thing you’ll ever learn is just to love and be loved in return.”

Temukan cintamu, dan merasa nyamanlah dengannya meskipun tidak dibutakan olehnya. Percayalah kamu tak sendirian.

Matched content

Bagikan tulisan ini di : Facebook | Twitter | WhatsApp | Email atau Print!
Home » Blog » Renungan » Cinta Jarang Buta
Tag :

Oleh Bambang Aroengbinang. BA lahir di Desa Mersi, Purwokerto, Jawa Tengah, sekarang tinggal di Jakarta. Seorang blogger dan pejalan musiman yang senang berkunjung ke situs, makam, dan tempat bersejarah. Menyukai pemandangan daratan subur dan pegunungan hijau ketimbang laut. Kontak BA. Subscribe via email untuk kabar tulisan terbaru. Diperbarui pada 23 Maret 2017.

Sebelumnya : «
Berikutnya : »
Lihat pula : Sitemap